إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Rabu

KAJIAN 2

Misi Kristen Di Indonesia, Bentuk Dan Pengaruhnya Terhadap Keberagamaan Di Indonesia

misi kristen di indonesia 300x142 Misi Kristen Di Indonesia, Bentuk dan Pengaruhnya Terhadap Keberagamaan di Indonesia
PENDAHULUAN.
Pada dasarnya setiap komunitas memiliki keinginan kuat untuk memperbanyak jumlah keanggotaan dan pengikut selama keberadaannya dalam kancah kehidupan. Keinginan ini sebetulnya merupakan insting yang tertanam pada kedalaman jiwa masing-masing individu, mengigat bahwa manusia memang merupakan mahluk dengan naluri sosial yang tinggi. Jumlah yang banyak merupakan bagian dari wujud eksistensi dan merupakan data dan fakta tentang keberadaan dan hak-hak untuk memiliki kehidupan yang layak ditengah masyarakat manusia. Maka tak heran jika agama sebagai identitas yang melekat pada manusia juga berusaha keras untuk mengumpulkan sesama dalam ruang lingkup keyakinan dan kepercayaan.
Islam sendiri menganggap bahwa missi untuk mengajak orang lain menuju pintu gerbang Islam adalah merupakan perintah Tuhan yang berlandaskan semangat kitab suci. Pandangan ini berdasarkan pada asumsi bahwa Islam adalah jalan keselamatan terakhir menuju Allah swt. Hanya saja, jika dibandingkan dengan seksama, missi dalam Islam hanyalah sebatas menawarkan dan tidak memiliki hak pemaksaan dan intimidasi. Penawaran di sini sebagai bukti bahwa kebenaran yang diyakini oleh seorang Muslim telah disampaikan kepada orang lain. Out put berupa ketertarikan dan pemilihan Islam sebagai agama tidaklah menjadi target utama dalam Islam. Sementara dalam Kristen, missi tidak sekedar menawarkan ajaran Kristen kepada pihak lain, tetapi juga mengadung keharusan agar objek missi benar-benar dapat dikatakan sebagai penganut Kristen secara formal. Dengan demikian, beban di pundak missonaris lebih berat dibanding beban da’i dalam Islam. Maka tidaklah mengherankan jika missi Kristen terkadang terkesan melalui cara-cara yang tidak lazim dilakukan oleh missionaris terhadap agama-agama lain.[1]
Makalah ini berusaha menelusuri missi Kristen di Indonesia dengan berusaha menjawab pertanyaan, bagaimana bentuk missi Kristen di Indonesia dan pengaruhnya terhadap kehidupan keberagamaan.
KRISTENISASI.
Kata kristenisasi adalah padanan kata islamisasi. Keduanya mengadung upaya-upaya sistemis untuk mengajak pihak lain, baik kalangan internal maupun eksternal untuk menganut cara hidup masing-masing agama yang dipropagandakan. Namun, dari segi istilah, kristenisasi merupakan sebuah gerakan keagamaan yang yang bernuansa politik yang muncul setelah berakhirnya perang salib dengan tujuan menyebarkan agama Nasrani kepada semua komunitas manusia yang ada di dunia ketiga secara umum dan kepada kaum Muslim secara khusus, dengan harapan dapat menegaskan kekuasaan mereka terhadap bangsa-bangsa yang ada.[2]
Kaum Kristen biasanya merujuk sejumlah ayat dalam Bibel sebagai legitimasi kewajiban menjalankan misi Kristen kepada bangsa-nagsa non-Kristen. Kitab markus, 16 : 15 misalnya, menyerukan, “pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala mahluk.” Maka baik kaum Kristen Protestan maupun Katolik sama menegaskan pentingnya misi dalam agama Kristen.[3]
Yang pertama kali melakukan aktifitas Kristenisasi secara resmi adalah seorang warga Jerman bernama Raimon Lull (1890 M) setelah perang salib mengalami kegagalan. Raimon telah belajar bahasa Arab dan berkunjung ke beberapa Negara Arab sambil berdiskusi dengan beberapa kalangan ulama. Pada tahun 1924, Raymond Lull berhasil menemui Paulus V. Dia mengajukan dua buku yang mencakup dua rancangan Lull untuk mengkristenkan umat Islam.Pertama, menjadikan ilmu dan sekolahan sebagai sarana kristenisasi. Kedua, kristenisasi dengan kekerasan jika tidak dapat dicapai dengan cara halus.[4]
Semenjak itulah missionaris Kristen mengarahkan perhatiannya untuk menyebarkan agama Kristen kepada negara-negara ketiga yang mayoritas beragama Islam. Aktifitas Kristenisasi ini mengalamai momentum yang cukup baik karena ketika itu negara-negara Muslim masih diliputi oleh kebodohan dan kemiskinan. Belum lagi masalah kesehatan dan kelemahan penguasa negeri Muslim dalam mengatasi problem interen mereka.
Jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya negara-negara barat banyak mengutus missonaris ke seluruh dunia dengan alasan untuk pengembangan kehidupan kerohanian dan sebagai upaya menciptakan keselamatan dunia, sebagaimana tampak di Perancis. Perancis secara terbuka memerangi missionaris dalam konteks negaranya tetapi berusaha memanfaatkan dan melindungi missionaris yang berada di Negara lain. Demikian pula Italia yang menampakkan permusuhannya terhadap Gereja tetapi memperkuat politik imprealisme mereka dengan bantuan para missionaris. Bahkan banyak kalangan militer di Inggris yang menasehati negaranya untuk mengutus missonaris ke seluruh dunia.[5]
Dalam aktifitas ini, missionaris sangat menyadari bahwa kaum Muslim memiliki keteguhan yang tinggi dalam memegang keyakinan yang mereka anut. Dengan demikian beragam kedala mereka temui di lapangan. Dengan adanya kenyataan demikian, upaya dan segala yang dimiliki berupa kekuatan rohani dan jasmani mereka persiapakan untuk melancarkan aktifitas ini. Hal ini tampak dalam upaya missionaris untuk menaklukkan Indonesia dan Negara-negara Afrika.[6]
SEJARAH KRISTENISASI DI INDONESIA.
Berdasarkan kutipan Lukman al-Hakim dari buku Sejarah Gereja Katolik di Indonesia, permulaan perkembangan agama Kristen di Indonesia sebagaimana ditunjukkan oleh Y Bakker terjadi pada pertengahan abad ke-7 dengan didirikannya episkopat Syria di Sumatra. Tetapi hasil krsitenisasi mulai tampak sejak dilakukannya secara gencar oleh orang-orang Portugis, terutama di Maluku pada abad ke-16. [7] Setelah itu, Organisasi dagang Belanda (VOC) yang didirikan pada tanggal 1602 memang tidak memiliki nuansa politik yang berusaha menciderai Islam. Namun ketika diminta untuk menyebarkan nilai-nilai Kristen di tanah jajahan, maka tidak ada cara lain kecuali mengikuti cara yang telah diperaktekkan oleh Portugis sebelumnya berupa pemaksaan.[8]
Sebagai perwujudannya, sebagaimana dituturkan oleh Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda, pada tahun 1661 VOC melarang umat Islam melaksanakan ibadah haji. Kebijakan ini merupakan realisasi anjuran Bogart, seorang Katolik ekstrim di parlemen Belanda. Dalam asumsi Bogart, para jemaah haji tersebut sangat berbahaya secara politis. Karena itu, melarang perjalanan ibadah haji jauh lebih baik ketimbang menembak mati para haji itu. C. Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawamenuturkan bahwa pada awalnya pusat penyebaran Kristen adalah Maluku. Banyak orang Maluku yang menjadi tentara yang kemudian dikirim ke kawasan-kawasan utama militer Belanda di Jawa, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Mereka itulah yang pertama kali membentuk jemaah Kristen pribumi.
Berbeda dengan  di atas, terdapat  analisa lain yang menganggap bahwa orang Kristen pertama yang sampai ke Nusantara  adalah pada abad 12 masehi. Yang mana, ia singgah di Sumatra Utara. Setelah itu missionaris yang bernama Fransiskan Ordorikus menyusul dan berusaha mengelilingi pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Kemudian datang setelahnya missionaris Katolik yang sangat mashur yang bernama Fransiskus Oksafiarus pada tahun 1546 masehi. Ia memulai missinya di Ambon kemudian memperluasnya hingga mencakup Maluku Utara. Kemudian setelahnya datanglah orang-orang Belanda yang beragama Protestan ke pulau ini dan berusah menyaingi penganut Katolik. Namun kemudian perkembangan agama Protestan banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur. Hal ini terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18 masehi. Pada tahun 1904 M tibalah Fan Leis ke Yogyakarta dan berusaha mendirikan sekolah Kanisius yang berpusat di da’erah Muntilan dan Mendut.[9]
Keterkaitan antara kolonialisme dengan kristenisasi sebetulnya sangat sulit untuk dinafikan. Namun demikian tokoh-tokoh Kristen di Indonesia seperti TB Simatupang biasanya tidak setuju tentang adanya keterkaitan tersebut. Mereka menganggap bahwa misionaris sema sekali tidak terkait dengan ambisi duniawi para kolonialis. Penyebaran Kristen lebih disebabkan oleh kuasa Alkitab dan bukan semata-mata disebabkan oleh orang-orang Kristen. Namun anggapan semcam itu sulit diterima mengingat fakta-fakta sejarah bantuan dan sikap politik kaum kolonialis terhadap misi Kristen sangatlah nyata.[10]
Setelah Indonesia Merdeka, Indonesia menjadi sasaran misi Kristen dari segenap penjuru dunia. Beragam media digunakan seperti film, kaset, buku-buku, kapal-kapal penginjil yang mengitari pantai-pantai dan kepulauan seperti Lombok, Sumbawa, Sulawesi dan Kalimantan. Di daerah luar Jawa seperti NTT dan Kalimantan misi Kristen telah memiliki pemancar radio dan pesawat terbang cesna. Bahkan pada wilayah-wilayah tertentu , mereka mendirikan landasan pesawat khusus dengan izin dari Depertemen Perhubungan.[11]
Demikianlah sehingga agama Kristen berkembang di Indonesia terutama pada momen jatuhnya Sukarno pada peristiwa pemberontkan G 30 S PKI pada tahun 1965. Orang-orang Kristen memanpaatkan kesempatan ini dengan memasukkan para tawanan komunis ke dalam agama Kristen dengan beralasan bahwa para pelaku penyembelihan adalah orang-orang Islam. Sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan diri kecuali dengan beralih keyakinan.
TARGET KRISTENISASI
Tujuan utama Kristenisasi sebenarnya adalah membongkar keyakinan yang dianut oleh kaum Muslim dan berusaha mengalihkan mereka dari sikap tegas dalam memegang keyakinan Islam sebagai pola hidup dan pola keyakinan. Jalan yang ditempuh untuk maksud tersebut berupa Kristenisasi dan penjajahan. Tetapi kemudian mendapatkan penetangan yang luar biasa dari pihak Muslim sehingga Samuel Zwemer menegaskan kepada missonaris untuk menguatkan semangat mereka dengan megatakan, “Tujuan Kristenisai di negara-negara Muslim yang ditugaskan kepada kalian oleh Negara-negara Kristen bukanlah bermaksud untuk memasukkan kaum Muslim ke dalam agama Kristen. Karena hal demikian merupakan kehormatan dan hidayah buat mereka. Tetapi tugas kalian adalah mengeluarkan mereka dari Islam sehingga mereka menjadi mahluk yang tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dan tidak memiliki afiliasi terhadap nilai-nilai etika yang menjadi landasan utama kehidupan berbagai bangsa.[12]
 SARANA DAN METODE KRISTENISASI
Sarana dan metode yang dijalankan missionaris di Indonesia sangatlah beragam. Di antara media dan metode yang digunakan di banyak Negara adalah :
  1. Pendidikan dengan beragam bentuknya mulai dari TK hingga perguruan tinggi.
  2. Seminar, ceramah dan kegiatan olah raga.
  3. Penerbitan buku-buku dan pendirian percetakan modern.
  4. Koran, majalah dan terbitan khusus.
  5. Pendirian rumah sakit, tempat-tempat hiburan dan pondokan anak yatim.
  6. Bantuan kemanusian dan hadiah, utamanya ketika terjadi bencana alam dan krisis ekonomi.
  7. Gerakan politik.
 Untuk mengenal program Kristenisasi di Indonesia, yang pertama dilakukan adalah mengenal lembaga Kristenisasi yang memiliki peranan utama dalam memperluas cakupan missinya di Indonesia. Doulus World Mission Indonesia[13] adalah sebuah lembaga yang berusaha memperluas cakupan penganut Kristen kepada lebih dari 125 kelompok mayarakat terbelakang di pedalaman. Berangkat dari program ini, Doulus berusaha mendirikan sekolah tinggi bernama Sekolah Tinggi Teologi Doulus yang dijadikan sebagai sarana untuk menyiapkan sebanyak 2.500 missionaris Kristen. Berdasarkan pada program yang direncanakan, Doulus berharap dapat menyelesaikan missi ini pada tahun 2000 M.[14] Tetapi pada kenyataannya, masyarakat Indonesia makin terlihat bersemangat mepelajari Islam, terutama pasca jatuhnya soeharto dari tampuk kekuasaan pada tahun 1998.
Berdasarkan penelitian lembaga ini, di Indonesia terdapat lebih dari 250 suku terasing yang belum tersentuh oleh Kasih Yesus dan nilai-nilai Kristen. Karena itulah, lembaga ini menyiapkan program khusus bagi masing-masing suku terasing tersebut, di antaranya :
  • Proyek Yeriko 2000 untuk Jawa Barat.
  • Proyek Karapan 2000 untuk Madura dan Jawa Timur secara umum.
  • Proyek andalas 2000 untuk Sumatra Utara.
  • Proyek Mandau 2000 untuk Kalimantan.
  • Proyek Baju Bungku 2000 untuk Sulawesi Tenggara.
  • Proyek Cenderawasih 2000 untuk Irian Jaya.
  • Proyek Sriwijaya 2000 untuk Riau, Sumatra.
 METODOLOGI KRISTENISASI DI INDONESIA
Beragam cara yang dilakukan oleh missionaris dalam rangka menarik hati pemeluk Islam di Indonesia. Di antara metode yang digunakan dalam missi ini berdasarkan sejumlah penelusuran adalah :
1. Membagun Gereja di Lingkungan Muslim.
Langkah ini merupakan cara lama yang masih dipraktekkan oleh missonaris untuk proyek Kristenisasi di Indonesia. Hanya saja resistensi yang ditampakkan oleh warga sekitar terhadap proyek pendirian Gereja menjadi masalah setiap kali hal ini dilakukan. Salah satu contoh adalah proyek pendirian Gereja terbesar di Asia Tenggara yang direncanakan oleh Jems Riyadi di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Gereja ini dinamakan Gereja Pembaharuan Injil. Setelah bangunan Gereja mulai tampak, kelompok Muslim di Kemayoran mengadakan pertemuan khusus dan menyapakati beberapa langkah untuk menyetop pembangunan Gereja. Salah satunya adalah mengirim surat kepada Gubernur sebanyak tiga kali, tetapi hal tersebut tidak mendapatkan respon dari pemerintah setempat. Melihat sikap warga yang menolak proyek, pihak Kristen berusaha mendekati warga dengan membagikan alat perlengkapan shalat dan hewan kurban ketika tiba hari Idul Adha serta kunjungan ke beberapa pesantren. Hanya saja warga merasakan bahwa itu merupakan bentuk sogokan agar mereka tidak menolak kehadiran Gereja, sehingga cara ini tidaklah berhasil menghadang langkah warga untuk menolak pembangunan Gereja tersebut.[15]
Hal serupa juga terjadi di Depok, Jawa Barat ketika Gereja Sallom berhasil didirikan. Panitia berusaha mendatangkan jamaah dari da’erah lain untuk mengadakan acara di Gereja Sallom. Setiap minggu berbagai kegiatan ramai di adakan di Gereja sehingga beberapa warga sekitar mulai tertarik dengan kegiatan yang mereka lakukan. Keberadaan Gereja pun lambat laun mulai menimbulkan sikap antipati warga sehingga mereka melakukan sikap yang tidak baik terhadap Gereja tersebut di kemudian hari.[16]
2. Menciderai Kehormatan Wanita Muslimah.
Metode ini merupkan cara terbaru yang dilakukan oleh pihak missionaris di Indonesia. Pada awalanya cara ini ditujukan kepada putri-putri dari tokoh-tokoh keagamaan yang disegani oleh masyarakat. Sebagai contoh, seorang da’i bernama H Kasep dinodai kehormatan putrinya oleh salah seorang missionaris yang mengaku telah beragama Islam. Sehingga pada akhirnya sang gadis bunuh diri karena tidak bisa menaggung rasa malu akibat kejadian tersebut.
Kejadian berwal dari tahun 1420 H ketika seorang pemuda sering bertandan ke rumah sang gadis. Sejak itu kebersamaan keduanya makin terlihat mesra. Sang gadis beserta ayahnya tidak mengetahui kalau sang pemuda adalah seorang Kristen. Satu hari sang ayah menawarkan kepada pemuda tersebut agar hubungan dengan putrinya diresmikan melalui pernikahan. Tetapi sang pemuda mengajukan syarat agar acara pernikahan dilakukan di Gereja. Sejak saat itulah sang gadis kecewa dan hanya mengurung diri di kamar, hingga suatu ketika ia ditemukan meningal di ruang kamarnya dengan sebotol racun serangga.[17]
Di tempat lain, seorang missionaris mengaku telah menjadi Muslim lalu mempersunting seorang gadis Muslimah yang berjilbab. Pada malam pertama perkawinannya, ia menugaskan salah seorang sahabatnya untuk mengambil gambar hubungan suami istri yang dilakukan pada malam itu. Setelah usia perkawinan berjalan beberapa bulan, sang suami meminta istrinya memilih antara masuk Kristen atau foto-foto hasil hubungannya pada malam pertama tersebut disebarkan ke halayak ramai. Sang istri pun tidak memiliki pilihan lain kecuali masuk Kristen demi menjaga kehormatannya.[18]
Kejadian serupa juga terjadi di Jakarta Timur. Seorang missionaris menikahi seorang gadis yang bernama Fatma. Setelah keduanya mendapatkan dua momongan, sang missionaris membuka kedoknya dan memaksa istrinya untuk memeluk agama Kristen. Setelah beberapa hari kejadian tersebut berlalu, sang missionaris ketahuan kedoknya. Ia ternyata salah satu alumni dari sekolah tinggi teologi yang berpusat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.[19]
3. Menyebarkan Narkoba.
Penyebaran narkoba merupakan cara baru yang ditampilkan missionaris dalam menjaring pengikut baru. Cara ini mulai ditemukan hampir bersamaan dengan cara sebelumnya, menodai kehormatan Muslimah.  Cara ini terbilang ampuh, karena pengguna narkoba memiliki tingkat ketergantungan yang sangat besar terhadap obat-obatan yang mereka komsumsi dan berefek pada pelemahan jiwa. Sehingga pengguna dipastikan tidak bisa hidup kecuali dengan bantuan orang lain. Efek ini manarik perhatian missonaris sehingga secara tidak langsung, mereka mensuplai narkotika ke tempat nongkrong para pemuda pengangguran. Jika di masyarakat mulai muncul orang-orang yang memiliki tingkat ketergantungan obat yang tinggi, tempat-tempat rehabilitasi narkoba pun didirikan dengan berupaya menyusupkan nilai-nilai Kristen selama proses penyembuhan berlangsung. Setelah kesembuhan pasien, banyak di antara mereka yang telah menjadi pengikut Kristen.
Hal demikian ditemukan oleh Harian Republika di Bandung, Jawa Barat. Sekolah Tinggi Teologi Doulus berusaha melakukan missi dengan penyebaran narkotika kepada siswa yang berumur antara 15 hingga 18 tahun. Ketika terjadi ketergantunga obat, pusat-pusat rehabilitasi mental pengguna narkoba didirikan sekaligus menawarkan agama Kristen kepada para pasien.[20]
Demikan pula dengan peristiwa yang dialami oleh salah seorang siswa sekolah Muhammadiyah di Semarang.  Pada awalnya ia disuguhi narkoba oleh salah seorang oknum sehingga ia menjadi pengguna. Setelah keadaannya demikian, ia diobati di salah satu rumah sakit Kristen. Beberapa hari kemudian tampilan sang siswa mulai berubah dari sebelumnya sering memakai baju koko, dengan tampilan yang lebih gaul dan dengan tanda salib di lehernya.[21]
4. Mengkristenkan Pasien Muslim.
Di antara metode ampuh yang dikembangkan oleh missionaris adalah mendirikan rumah sakit Kristen di berbagai belahan dunia Muslim. Rumah sakit seperti ini telah mencapai 213 buah pada tahun 1421 H.[22] pendirian rumash sakit demikian memang atas nama missi kemanusiaan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia terkadang menjadi tempat terjadinya missi terselubung kepada pasien non Kristen. Betapa banyak kita dengar pasien dari kalangan ekonomi lemah direhabilitasi di rumah sakit-rumah sakit Kristen lalu dikemudian hari mereka berganti identitas keagamaan. Bahkan tidak cukup dengan pendirian rumah sakit-rumah sakit, missionaris juga berusaha membagikan brosur-brosur yang berisi ajaran ajaran Kristen serta adab-adab dalam Kristen bagi orang sakit kepada pasien Muslim.
Hal demikian terjadi di rumah sakit Advent di Bandung. Missionaris mengumpulkan pasien Muslim lalu mengadakan do’a bersama atas kesembuhan mereka kepada tuhan yesus. Di samping itu, mereka juga memberikan layanan gratis bagi mereka yang telah meninggal dunia keluarganya, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk membayar beban biaya rumah sakit.
Cara seperti ini juga pernah dialami oleh seoraang tokoh Islam papan atas, Bapak Muhammad Natsir. Ketika menjelang kedatangan ajalnya, ia didtangi oleh missionaris dan menawarkan agama Kristen kepadanya. Padahal sang missinaris sangat mengetahui bahwa Natsir adalah seorang tokoh yang sangat kuat menentang uapaya Kristenisasi di Indonesia. Tetapi mereka berpura-pura tidak tahu dan berusaha melakukan kegiatan mereka.[23]
5. Kesaksian Palsu yang Dilakukan oleh Oknum yang Mengaku Murtad dari Islam.
Penomena menarik yang banyak terjadi dikalangan intelektuan non Muslim adalah ketertarikan mereka terhadap Islam yang diawali dengan rasa keingintahuan tentang makna kehidupan. Pengembaraan intelektual pun mereka lakukan dengan mencari jawaban dari berbagai agama, termasuk agama-agama abrahamaik selain Islam. Mereka menghindari Islam karena stigma media massa yang seolah telah menenmpatkan Islam sebagai agama kekerasan dan anti perempuan. Tetapi karena jawaban yang mereka temui selama pencarian tidaklah memuaskan dahaga intelektual mereka, sehingga Islam pun dilirik. Ketika mereka mulai banyak membaca literatul Islam, terutama terjemahan al-Qur’an, umumnya mereka tersadar bahwa ternyata Islam adalah jawaban dari berbagai kegelisahan yang mereka alami selama ini. Setelah mereka menemukan jawaban, pengakuan tentang proses yang mereka lalui hingga menemukan Islam mereka tulis atau umumkan kepada media Islam sehingga tidak sedikit menginspirasi non Muslim lainnya, bahkan termasuk orang Muslim sendiri untuk lebih mendalami Islam. Hal ini menimbulkan efek yang luar biasa kepada masyrakat.
Melihat cara demikian banyak menarik perhatian masyarakat kaum beragama, terutama non Muslim, oknum dari pihak Kristen pun berusaha melakukan hal serupa. Sekali pun hal demikian sering kali didesain sendiri dan tidak mereperesentasikan keadaan sebenarnya. Mereka kemudian menulis kisah serupa pada beberapa majalah atau selebaran atau pada buku-buku tertentu dengan harapan dapat melakukan upaya tandingan terhadap apa yang terjadi pada intelektual non Muslim ketika memutuskan Islam sebagai pilihan.[24]
Cara demikian mulai ditemukan di Indonesia pada tahun1974. Yang pertama melakukannya adalah seseorang yang bernama Kemas Abu Bakar. Pada awalnya, ia mengaku sebagai jebolan universitas Islam di Bandung dan pernah tercatat sebagai salah satu dewan juri pada penyelenggaraan MTQ tingkat Internasional. Ia berusaha menafsirkan al-qur’an berdasarkan kehendaknya semata kemudian menyebarkannya ke masyarakat dalam bentuk kaset. Tetapi setelah diadakan investigasi oleh kalangan Muslim ternyata terbukti ia melakukan kebohongan karena tidak mampu mendemonstrasikan kekmampuannya membaca al-qur’an. Karena tindakan ini ia dipenjara di Surabaya selama 8 tahun.[25]
Di Jakarta pun kasus serupa ditemukan. Seseong bernama Yusuf Maulana mengaku murtad dari Islam dan masuk ke agama Kristen. Ia mengaku anak dari seorang dai terkenal, Qasim Nurseha. Karena pengakuan demikian, khotbah-khotbahnya di Gereja cepat beredar dengan menceritakan sebab-sebab ia memilih Kristen sebagai agamanya. Setelah dilakukan investigasi oleh kalangan Muslim terbukti bahwa ia bukanlah anak dari Qasim Nurseha, sebagaimana pengakuannya selama ini.
Setelah itu, kasus di Bandung dengan motif yag sama juga ditemukan. Ada seseorang mengaku saudara kandung dari Buya Hamka (Haji Abdul Karim Wadud Amrullah). Ia mengaku bernama Wili Abdul Wadud Karim Amrullah. Setelah pengakuannya tersebut, ia menjadi orang yang sangat terkenl di Bandung. Bahkan banyak dari kalangan kaum Muslim mulai terpropokasi dengan pengakuannya. Tetapi setelah investigasi dilakukan dengan seksama oleh kalangan Muslim terbukti ia hanya pembual layaknya pendahulu-pendahulunya.[26]
Beberapa orang yang terhitung menyatakan diri murtad dari Islam dan beralih profesi sebagai missinaris Kristen di antaranya adalah:
  • Purnama Winangun yang dijuluki sebagai haji Amos.
  • Hajjah Kristina Fatimah yang disebut Tini Rustini.
  • Rudi Muhammad Nurdin.
  • Matius.
  • Muhammad Sholihin.
6. Missi Kristen Atas Nama Bantun Kemanusiaan.
Sebenarnya hal ini merupakan cara lama yang selalu digunakan oleh missonaris untuk malakukan missinya. Cara ini dianggap cocok untuk negeri-negeri Muslim mengingat kemiskinan menjadi penomena umum di banyak Negara Muslim. Jika dipetakan secara kasar, benua afrika yang nota bene banyak berpenduduk Muslim, banyak menjadi target utama cara ini. Kelaparan yang terjadi di mana-mana akibat perang yang berkanjangan menjadi lahan subur bagi missionaries untuk menjalankan aksinya. Analisa bahwa kemiskinan menjadi penyebab utama keberhasilan missi Kristen sangatlah relevan.[27]Apalagi jika dibuktikan dengan temuan-temuan lapangan, terutama ketika terjadi bencana alam pada level tinggi sehingga mengundang keterlibatan donor asing. Biasanya, mengalirnya dana kemanusian selalu dibarengi dengan missi sampingan yang melibatkan kepercayaan tertentu.
Cara seperti ini misalnya ditemukan di Tangerang. Yaitu sebuah pemberian beasiswa kepada 6 desa yang bertetangga dengan Lippo Karawaci, sebuah kawasan mewah di Tangerang. Sponsor utama beasiswa ini adalah Jems Riyadi, pemiliki bank Lippo. Pada ke-6 desa tersebut terdapat 26 SD dengan jumlah total siswa sebanyak kurang lebih 10.000. Semuan murid-murid tersebut diberikan beasiswa sebagai wujud bantuan kemanusiaan. Berdasarkan temuan Majalah Media Da’wah, salah satu media Islam yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan missi Kristen di Indonesi, bahwa para murid yang berada antara kelas 1 hingga kelas 3 masing-masing mendapatkan beasiswa sebesar Rp 1.179.000 per tahun.  Adapun murid-murid yang berada dalam bimbingan khusus mereka tentu mendapatkan lebih dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 1.539.000 per siswa per tahun. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa masyarakat miskin yang berada pad ke-6 desa tersebut merasa sangat terbantu dengan program demikian. Sekali pun, pada kenyataannya terdapat sekitar 500 lebih siswa yang aktif mengikuti berbagai kegitan di Gereja. Sementara di pihak lain, orang tua mereka tidak memiliki kemampuan untuk mencegah praktek demikian karena telah merasakan bantuan besar tersebut.[28]
Pada lingkup lebih luas, terjadinya Tsunami di Aceh menjadi momen penting bagi kaum missionaries untuk melakukan aksi mereka.
7. Kristenisasi Dengan Menggunakan Simbol-Simbol Islam.
Metode ini merupakan cara terbaru yang dipraktekkan missonaris di Indonesia. Bahkan cara ini dilakukan secara masif dan agresif. Media yang digunakan seperti pelaksanaan ritual Kristen dengan dengan tampilan yang Islami. Misalnya perayaan natal dengan menampilkan pakaian adat betawi yang sangat kental nuansa Islamnya. Selain itu, missionaries juga melakukan penyebaran bulletin-bulletin yang mirip dengan bulletin da’wah yang memuat ayat-ayat al-qur’an disertai dengan ayat-ayat bible serta analisa yang mengunggulkan ajaran Kristen atas pandangan Islam tentang masalah-masalah tertentu. Hal lain yang juga tidak luput dari penyebaran missi denga cara ini adalah penerbitan buku-buku yang menampilkan judul-judul yang sangat bernuansa Islam.
Orang Muslim banyak tertipu dengan cara-cara sperti ini, karena ketidakmampuan mereka membedakan antara Islam sebagai aksesoris dengan ritual keagamaan yang murni Kristen. Cara ini makin membingungkan masyarakat dengan adanya terjemahan bible yang berbahasa Arab dan kajian yang dilakukan di Gereja yang mirip bentuk masjid. Sementara para peserta kajian memakai pakaian layaknya seorang santri  dan para peserta membaca kitab bible berbahasa Arab layaknya orang yang sedang membaca al-qur’an dengan cara tartil.
A. Perayaan Natal dengan Tampilan Islami.
Cara seperti ini pernah dilakukan oleh pihak Kristen pada hari sabtu, 25 desember 2003. Mereka melakukan perayaan natal di Gereja ortodoks yang bernama Santovatius di Jakarta. Dalam perayaan ini mereka menampilkan peserta yang berbusana Islami mulai dari laki-laki, perempuan dan anak kecil. Bahkan acara inidissirkan secara langsung oleh salah satu televise swasta terkemuka di negeri ini dan disaksikan oleh banyak pemirsa di seluruh tanah air. Seperti yang diduga oleh pihak pelaksana sendiri, acara ini menui protes keras dari banyak pemirsa. Bahkan protes yang berbentuk ancaman dan terror sempat beredar sebagai wujud resitensi ummat Muslim di Indonesia terhadap acara-acara yang berpotensi mengancam hubungan antar ummat beragama di negeri ini.[29] Cara-cara demikian sebenarnya tida hanya terjadi sekali dan dua kali saja. Bahkan adanya upaya pembacaan bible berbahasa Arab dengan mengikuti metode tilawatil Qur’an dengan nada tertentu juga masuk dalam kategori ini. Belum lagi tata cara ibadah yang dipereaktekkan oleh Kristen Syria dengan meniru tata cara shalat dalam Islam. Semua fenomena tersebut merupakan metode penyebaran agama yang kurang menghargai aspek toleransi yang dibangun dalam lingkup keindonesiaan dan keragaman.
B. Penyebaran buku-buku Kristen yang menyerupai tampilan buku-buku Islam.
Para penulis beserta judul-judul yang sempat beredar di tengah masyarakat adalah sebagai berikut :
  1. Karangan Purnama Winangun yang dikenal dengan nama Haji Amos.
    Beberapa tulisan Purnama yang ditemukan beredar di tengah masyakat adalah seperti, Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al Qur’an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan Riwayat Singkat Pustaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.
  2. Karangan Danu Kholildinata yang dikenal dengan nama Amin Barkah.
    Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al Masih Wal Masihiyun Fil 
    Quur’an).
  3. Karangan Hamran Amri.
    Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan, dll.
  4. Karangan Muhammad Nurdin.
    Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an, Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka, Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.
  5. Terbitan yayasan pusat Kristen Nehemia.
    Kerudung Yang Dikoyak, oleh Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik; Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheus; Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh Ev. J. Litik; dll.
  6. Cetakan yayasan Jalan Rahmat.
    Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab, oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih; Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Al kitab Dipalsukan, oleh Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh Iskandar Jadeed; Kri stus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam Tritunggal Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti Selamat, oleh Sultan Muhammad Paul.
  7. Brosur, kaset dan kaligrafi.
    Brosur-brosur sperti: Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur Jalan Al Rachmat, dll. Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang ketuhanan Yesus. Kaset: Kaset tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian murtadin Ikhwan Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmal Sani, Kesaksian murtadin Lies Saodah, Kesaksian murt adin Haji Ahmad Maulana yang mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dll.[30]
PENGARUH KRISTENISASI DI INDONESIA.
Melihat penetrasi yang dilakukan oleh missonaris maka bisa dipastikan bahwa efek yang ditimbulkan dalam rangka perluasan dukungan dan pemeluk di Nusantara mengalami kenaikan secara signifikan dalam berbagai sektor kehidupan. Beberapa aspek yang hendak dipaparkan di sini adalah :
  • Aspek Politik.
Aspek penting yang menjadi fokus utama missi Kristen pada banyak Negara Islam adalah aspek perpolitikan. Aspek ini menjadi penting mengingat beragam bentuk aturan lahir melalui mekanisme politik. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hasil Muktamar Nasional Wali Gereja di Jakarta pada tahun 1976 M. Dalam hasil keputusan muktamar tersebut tercatat : Adalah merupakan kewajiban bagi kita komunitas Kristen untuk memastikan bahwa arah perpolitikan Negara tetap mengarah dan berkiblat ke Barat, terutama kepada Amerika Serikat. Kalian harus mengetahui bahwa Golkar dan pemerintahannya berkiblat ke Amerika. Inilah alasan mengapa kita mengarahkan para pengikut Kristen agar berafiliasi kepada Golkar dan berupaya untuk memenangkannya pada setiap Pemilu. Selayaknyalah para pengikut Kristen mengetahui bahwa Golkar adalah partai Kristen. Dialah yang bertanggung jawab penuh terhadap kesuksesan missi Kristen hingga batas-batas yang kita saksikan sekarang di Indonesia. Kita juga harus terus dapat memastikan bahwa media cetak Indonesia, siaran radio, dan Televisi menyiarkan tentang hal-hal yang kontroversi seputar Islam dan menyebarkan beragam fitnah terhadap barisan kaum Muslim agar mereka terpropokasi untuk melakukan pertengkaran sesama mereka. Adu dombalah, cerai beraikan, kuasai dan aturlah mereka sedemikian rupa. Itulah strategi dan taktik kita untuk dapat menundukkan kaum Muslim di Indonesia. Kita harus memanfaatkan beragam Koran dan media lainnya yang berada di bawah kendali kita untuk menyebarkan propaganda yang dapat mengoyak kesatuan kaum Muslim di Indonesia.[31]
Hal ini sebanarnya sangat jelas mengingat peran politik mereka sangat kuat dalam bentangan sejarah Negara Indonesia. Salah satu peran politik kaum Kristen di Indonesia adalah masalah sila pertama dalam Pancasila. Pada awal pembentukannya, bunyi sila pertama adalah ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi pemeluknya. Namun karena resistensi dari warga Indonesia bagian timur yang merupakan reperesentasi agama Kristen, penghapusan kata yang mengadung kewajiban melaksanaan syari’ah bagi pemeluk agama Islam pun dihapus. Yang menjadi masalah di sini bukanlah terkait penghapusan tersebut, tetapi terkait tentang betapa jangkaun politis kaum Kristen di Indonesia memang kuat.[32]
Di sisi lain, terelpasnya Timor Timur dari wilyah kesatuan Republik Indonesia juga berindikasi kuatnya peran politik kaum Kristen di Indonesia. Hal ini tentu tidak lepas dari peranan penting yang dimainkan oleh Uskup Belo dalam upaya penyebaran informasi subyektif tentang upaya-upaya licik ABRI untuk mengislamkan penduduk Timur Timor. Propaganda Uskup Belo tentang kondisi Kristen yang mengalami degradasi akibat upaya islamisasi yang dipelopori oleh ABRI tersebut berlangsung cukup lama. Sekali pun bukti lapangan menegaskan kondisi sebaliknya. Selama Timor Timur berada dalam wilayah NKRI pertumbuhan penduduk Kristen mengalami kenaikan secara signifikan.  Hal tersebut terbukti karena sensus penduduk pada tahun 1972 menunjukkan jumlah penganut Kristen berjumlah sekitar 187.540 jiwa dari jumlah total penduduk setempat yang mencapai 674.550 jiwa. Yakni bahwa persentase mereka pada tahun 1972 adalah 27,8 %. Lalu pada tahun 1994 jumlah penganut Kristen mencapai 722.789 jiwa dari jumlah total penduduk sekitar 783.086 jiwa. Ini berarti bahwa prosentase ummat Kristen berada pada kisaran 92,3 % sementara kaum Muslim hanya berjumlah 3,1 % saja.[33]
  • Aspek Kemasyarakatan.
Dalam aspek ini, pertumbuhan jumalah kaum Kristen di Indonesia dan terjadinya penurunan  persentase penganut agama Islam secara umum merupakan bukti nyata. Ada sebuah analisa yang menganggap bahwa hal tersebut terjadi sebagai akibat dari keberhasilan KB yang digencarkan oleh pemerintah terhadap masyarakat. Di sisi lain, menguatnya missionaries dalam menjalankan aktifitasnya juga ditengarai sebagai factor lain. Kedua alasan tersebut adalah sisi pandang yang dikemukakan oleh MUI dan sebagai temuan yang juga diperkuat oleh Deperetemen Agama.[34] Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang pernah dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1990 ditemukan fakta bahwa ddari 200 juta jiwa penduduk Indonesia, prosentase umat Islam mencapai 87, 3 %. Sementara ummat Kristen berjumlah 9,6 % (Portestan 6 % dan Katolik 3,6 %), Hindu 1,8 %, Budha 1% dan agama lain 0,3 %.[35] 
Selain hal di atas, fenomena libur Nasional  pekanan bagi semua aktifitas formal yang ditetapkan pada hari Minggu juga dianggap sebagai bagian dari pengaruh Kristen di Indonesia.[36] Tetapi asumsi demikian dianggap berlebihan mengingat perkembangan jumlah masjid terutama di wilyah perkantoran dan di kota-kota besar di Indonesia banyak diilhami oleh kebutuhan untuk melaksanakan ibadah shalat lima waktu dan terutama shalat jum’at di tempat kerja. Jika kemudian libur nasional dikaji ulang dan disepakati pada harui jum’at, lalu karena pertimbangan yang sama kaum Kristen di Indonesia meminta permbangunan gereja di lingkungan kerja tentu juga akan menjadi permsalahan baru. Belum lagi jika kita melihat fenomena perkembagan keislaman yang kini tumbuh dengan baik di kalangan professional perkantoran yang mengandalkan sisa-sisa waktu yang ada untuk melakukan kajian keislaman pekanan dengan mendatangkan nara sumber ahli.
Tetapi jika pada kenyataannya bahwa ummat Kristen memanfaatkan media televise dalam rangka penyampaian nilai-nilai kristiani kepada pemirsa yang baisanya dilakukan pada hari Minggu mungkin sedikit memiliki relevansi. Menginagat hari minggu sebagai hari liburan biasanya dimanfaatkan oleh banyak keluarga untuk duduk di depan tv. Tetapi sebagaimana kita saksikan setelah terjadinya reformasi, tampilnya ustadz kondang, terutama KH Gymnastiar juga mengambil bentuk yang sama. Sehingga penomena demikian sesungguhnya tidaklah bisa dipandang bias hanya karena adanya kemiripan semata.
  • Aspek Pendidikan.
Salah seorang missionaries pernah berkata, sebagimana dikutip oleh Kholidi dari buku Re-Thingking Mission “sekolah-sekolah yang dikelola oleh missi Kristen di seluruh Negara haruslah memiliki tujuan  yang sama. Yag paling pokok adalah sekolah-sekolah haruslah berfungsi sebagai sarana utuk menciptakan pendeta-pendeta gereja. Sehingga materi-materi sekuler yang diambil dari buku-buku Barat dan diajarkan langsung oleh guru-guru dari Barat, harus membawa pola pemikiran Kristen.”[37]
KESIMPULAN.
Berdasarkan paparan di atas, kristenisasi sebagai lawan kata dari islamisasi adalah merupakan upaya untuk mengembangkan ajaran Kristen terhadap kalangan internal maupun kalangan eksternal. Dalam batasan demikian, missi Kristen dainggap tidak bermasalah karena itu merupakan perwujudan dari hak masing-masing agama untuk mengekspresikan dirinya kepada mayskarakar luas. Permasalahan terjadi ketika missi tersebut disertai dengan cara-cara yang tidak lazim, sebagaimana ditunjukkan dalam makalah, seperti pendirian gereja di kawasan yang tidak memiliki jumlah pengikut hingga jumlah tertentu, sebagimana telah disepakati bersama.
Cara-cara seperti menciderai kehormatan muslimah, bantuam kemanusian yang disertai missi terselubung, penyebaran narkoba, pelaksanaan ibadah Kristen dengan tampilan yang berwajah islami merupakan bagian dari tata cara yang berada di luar etika keagamaan yang disandang oleh masing-masing agama. Jika dirunut lebih jauh maka akar permaslahan sesungguhnya terkait denga toleransi adalah adanya pihak tertentu dari kalangan beragama yang melanggar kode etik penyiaran agama sehingga menimbulkan reaksi dari pihak lain.
Sedangkan terkait dengan pengaruh missi Kristen di Indonesia maka aspek politik memiliki sisi yang kuat di tambah dengan efek yang besar terhadap aspek pendidikan dan kemasyarakatan. Wallahu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Al-Juhani, Mani’, al-Mausah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah, (KSA : Dar al-Nadwah al-Alamiyah), Vol.2, cet.3.
  2. Alwi Shihab, Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Pnetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung : Mizan), th.1998.
  3. Musthofa Kholidi dan Umar Farrukh, al-Tabsyir dan al-Isti’mar fi al-Bilad al-Arabiyah, (Baerut : Maktabah al-Ashriyah), Cet.3, tth.
  4. ——————–, Imprealis dan Missonaris Melanda Dunia islam, ( Jakarta : Pusataka Mantiq ), cet.2, th.1992.
  5. Mahmud, Abdul Halim, al-Gazwu al-Fikri wa al-Tayyaraat al-Muadiyah li al-Islam, (KSA : Matba’ah Jamiah al-Imam Muhammad Ibn Saud al-Islamiyah), tth.
  6. Adian Husaini, Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer, dalam Adian Husaini (Ed) “Foundation Of Islamic Economics”, th.2008.
  7. ——————, Gereja-Gereja Dibakar : Membedah Akar Konflik di Indosesia, ( Jakarta : Dea Press ), tth.
  8. Hakim, Lukman, Ketegangan Yang Tak Pernah Reda (Pengantar Penyunting), dalam Fakta dan Data Usaha-Usaha Kristenisasi di Indonesia, ( Jakarta : Majalah Media Da’wah), cet.2, th.1991.
  9. Abdul Wahid Muhammad Samari dan Zainal Abidin Syuja’I, al-Tanshir : Asalibuhu wa Madarisuh wa Muassasatuh wa Sabilu al-Tashaddiy lahu, Makalah yang disampaikan Oleh para da’I utusan atase Agama Kerajaan Saudi di Indonesia.
  10. Husain, Hasan Abullah, al-Gazwu al-Tsaqafi al-Ajnabi li al-Ummah al-Arabiyah : Madihi wa Hadhirihi, (Mesir : Idarah al-Baramij al-Arabiyah wa al-Maktabat), th.1409 H.
  11. Tim FAKTA “Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
  12. M Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, ( Jakarta : Media Da’wah ), tth.
  13. Majalah Sabili, vol.23, tahun ke-7, th.1421 Hijriah.
  14. Majalah Sabili, vol.25, tahun ke-6 th.1421 H.
  15. Majalah Sabili, vol.15, thke-7, 26 ramadhan, th.1420 H.
  16. Majalah Sabili, vol.25, tahun ke-6, tanggal 20 shafar 1421 H.
  17. Media Da’wah, vol.331, bulan syawal, th.1422 H.
  18. Media Da’wah, vol.342, th.1424 H.
  19. Majalah Bidik, vol.2, th.1, th.1424 H
  20. Tabloid Aspirasi, edisi ke-6, tanggal 3 September 1999,
  21. Majalah Panji Masyarakat, edisi ke-51, th.1, 3 April 1998.
  22. Majalah al-Bayan, tahun ke-10, No 154, bulan Jumadil Akhir, tahun 1421 H.
  23. Majalah al-Bayan, tahun ke-10, No.153, Shofar 1421 H.
  24. Harian Republika, tanggal 10 dan 12 April 1999.
  25. Tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14
Website :
  1. http://Islamlib.com/id/artikel/ perlu-wawasan-misiologis-baru-dalam-Kristen
  2. http://mradhi.com/sosial-politik/kristenisasi-di-dunia-islam-hasil-konspirasi-misionaris-dan-imperialis.html
  3. http://www.library.ohiou.edu/indopubs/ 2001/01/1/0009.html
  4. http://www.library.ohiou.edu/ indopubs/2001/01/10/0009.html.


[1] Pdt. Ioanes Rakhmat, Perlu wawasan misiologi baru dalam Kristen, “http://Islamlib.com/id/artikel/ perlu-wawasan-misiologis-baru-dalam-Kristen” diakseses pada hari Rabu, 5 Agustus 2009, jam 09.20.
[2] Al-Juhani, Mani’, al-Mausah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah, (KSA : Dar al-Nadwah al-Alamiyah), Vol.2, cet.3, hal.102
[3] Adian Husaini, tantangan Pemikiran Islam Kontemporer, dalam Adian Husaini (Ed) “Foundation Of Islamic Economics”, th.2008.
[4] Musthofa Kholidi dan Umar Farrukh, al-Tabsyir dan al-Isti’mar fi al-Bilad al-Arabiyah, (Baerut : Maktabah al-Ashriyah), Cet.3, tth, hal.77
[5] Musthofa Kholidi dan Umar Farrukh, al-Tabsyir dan al-Isti’mar fi al-Bilad al-Arabiyah, (Baerut : Maktabah al-Ashriyah), Cet.3, tth, hal.15
[6] Mahmud, Abdul Halim, al-Gazwu al-Fikri wa al-Tayyaraat al-Muadiyah li al-Islam, (KSA : Matba’ah Jamiah al-Imam Muhammad Ibn Saud al-Islamiyah), tth, hal.87
[7] Hakim, Lukman, Ketegangan Yang Tak Pernah Reda (Pengantar Penyunting), dalam Fakta dan Data Usaha-Usaha Kristenisasi di Indonesia, ( Jakarta : Majalah Media Da’wah), cet.2, th.1991, hal.13
[9] Abdul Wahid Muhammad Samari dan Zainal Abidin Syuja’I, al-Tanshir : Asalibuhu wa Madarisuh wa Muassasatuh wa Sabilu al-Tashaddiy lahu, Makalah yang disampaikan Oleh para da’I utusan atase Agama Kerajaan Saudi di Indonesia.
[10] Alwi Shihab, Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Pnetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung : Mizan), th.1998, hal.202
[11] M Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, ( Jakarta : Media Da’wah ), tth.
[12] Husain, Hasan Abullah, al-Gazwu al-Tsaqafi al-Ajnabi li al-Ummah al-Arabiyah : Madihi wa Hadhirihi, (Mesir : Idarah al-Baramij al-Arabiyah wa al-Maktabat), th.1409 H., hal.
[13] Lembaga ini pertama kali didirikan pada tanggal 1 Februari tahun 1985 di jalan Imam Bonjol no 18 Jakarta Pusat. Ide pembentukan lembaga ini berawal dari perkumpulan mashasiwa Kristen yang bertujuan untuk memperkuat tali silaturahmi di antara mereka. Lalu pada tahu 1980 organisasi ini dikenal dengan istilah perkumpulan imam bonjol 18. Aktifitasnya mulai diperluas hingga mencakup mahasiswa Univeritas Indonesia, Universitas Tri Sakti dan Universitas Jayabaya serta beberapa univeritas lainnya. Karena mulai dikenal banyak di kalangan mahasiswa, lembaga ini kemudian dinamai Lembaga Doulus. Setelah berbentuk lembaga, perkembagannya sangat cepat dengan terbentuknya cabang-cabang di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri mulai terdapat cabangnya seperti di Belanda, Amerika dan Jerman. (Tim FAKTA “Forum antisipasi kegiatan pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002
[14] Adian Husaini, Gereja-Gereja Dibakar : Membedah Akar Konflik diIndosesia, ( Jakarta icon biggrin Misi Kristen Di Indonesia, Bentuk dan Pengaruhnya Terhadap Keberagamaan di Indonesia ea Press ), tth.
[15] Majalah Sabili, Vol.23, tahun ke-7, th.1421 Hijriah.
[16] Tim FAKTA “Forum antisipasi kegiatan pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
[17] Majalah Sabili, Vol.25, tahun ke-6 th.1421 H.
[18] Tim FAKTA “Forum antisipasi kegiatan pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
[19] Tim FAKTA “Forum antisipasi kegiatan pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
[20] Harian Republika, tanggal 10 dan 12 April 1999.
[21] Majalah Sabili, vol.25, tahun ke-6, tanggal 20 shafar 1421 H.
[22] Abdul Wahid Muhammad Samari dan Zainal Abidin Syuja’I, al-Tanshir : Asalibuhu wa Madarisuh wa Muassasatuh wa Sabilu al-Tashaddiy lahu, Makalah disampaikan Oleh para da’I utusan atase Agama Kerajaan Saudi Arabia di Indonesia pada salah satu seminar.
[23] Tim FAKTA “Forum antisipasi kegiatan pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
[24]  Tantangan Bagi Umat Islam Atas Bahaya Kristenisasi, “http://www.library.ohiou.edu/indopubs/ 2001/01/1/0009.html”. Diakseses pada hari Rabu, 5 Agustus 2009, jam 09.30.
[25] Tim FAKTA “Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan”, Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam, (Jakarta : Penerbit al-Kautsar), Cet.2, th.2002.
[26] Majalah Bidik, vol.2, th.1, th.1424 H
[27] Al-Juhani, Mani’, al-Mausu’ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah, (KSA : Dar al-Nadwah al-Alamiyah), Vol.2, cet.3, hal.
[28] Media Da’wah, vol.331, bulan syawal, th.1422 H.
[29] Majalah Sabilii, vol.15, tahun ke-7, 26 ramadhan, th.1420 H.
[30] Tabloid Aspirasi, edisi ke-6, tanggal 3 September 1999, Majalah Panji Masyarakat, edisi ke-51, th.1, 3 April 1998.
[31] Majalah Islam Bebahasa Arab al-Bayan, tahun ke-10, volume 154, bulan Jumadil Akhir tahun 1421 H.
[32] Media Da’wah, Vol.342, th.1424 H.
[33] Media Da’wah, Vol.342, th.1424 H.
[34]Tantangan Bagi Ummat Islam Atas Bahaya Kristenisasi, http://www.library.ohiou.edu/ indopubs/2001/01/10/0009.html. Diakseses pada hari Rabu, 5 Agustus 2009, jam 09.30.
[35]  Tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14
[36] Majalah al-Bayan, No.153, tahun ke-10,  Jumadil Akhir 1421 H.
[37], Musthofa Kholidi dan Umar Farrukh, al-Tabsyir dan al-Isti’mar fi al-Bilad al-Arabiyah, terj. Kathur Suhardi, Imprealis dan Missonaris Melanda Dunia Islam, (Jakarta : Pusataka Mantiq),  cet.2, th.1992, hal.49

KAJIAAN 1


Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah Islam di Indonesia - Islam adalah salah satu agama yang memiliki jumlah pengikut terbanyak di dunia. Menurut sumber informasi dari Wikipedia menyebutkan bahwa saat ini pengikut agama Islam telah mencapai lebih dari 1,25 miliar orang yang tersebar di berbagai negara di seluruh dunia.


Sejarah Islam sendiri dimulai semenjak diturunkannya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW yang pertama pada tahun 622 di Gua Hira, yaitu tepatnya pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Proses penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad SAW sendiri berlangsung selama kurun waktu 23 tahun, yaitu mulai dari semenjak Nabi diutus menjadi Rasul pada usia 40 tahun, hingga beliau wafat pada usia 63 tahun.

sejarah islam di Indonesia


Kehidupan 23 tahun Nabi Muhammad setelah dipilih menjadi rasul berlangsung di Makkah selama kurun waktu 13 tahun, sementara 10 tahun sisianya Nabi tinggal di Madinah.

Sejarah Perkembangan Islam


Sejarah perkembangan Islam berlanjut setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Berbagai kerajaan Islam bermunculan dan berkembang hingga ke Samudra Atlantik di barat dan Asia Tengah di Timur. kemunculan beberapa kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan besar di dunia. 

Seiring dengan perkembangan berbagai kerjaan bercorak Islam yang bermunculan, maka seiring itu pula banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Kemunculan para ahli sains dari kerajaan Islam tersebut tidak terlepas dari banyaknya pendirian sekolah-sekolah.

Sejarah Islam di Indonesia

Menelisik sejarah Islam di Indonesia, maka hingga saat ini ada sekitar 6 pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia. Adapun pendapat-pendapat tersebut menyebutkan tahun kedatangan Islam masuk ke Indonesia bervariasi dari abad ke-7 hingga abad ke-13.

Berbagai pendapat-pendapat tentang tahun kedatangan Islam beserta perkembangannya di Indonesia dikemukakan oleh berbagai tokoh dan peneliti. Berikut ini adalah 6 pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia.

Pendapat Pertama 
Menurut pendapat Hamka, yaitu salah seorang tokoh Muhammadiyah dan juga mantan ketua MUI periode 1977-1981, menyebutkan bahwa Islam yang masuk dan berkembang di Indonesia berasal dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7. Hamka yang bernama asli Haji Abdul Malik bin Abdil Karim menyatakan pendapat tentang kedangan dan perkembangan Islam di Indonesia berdasarkan fakta bahwa mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab Syafi'i.

Menurut Hamka, mahzab Syafi'i berkembang sekaligus dianut oleh penduduk di sekitar Makkah. Selain itu dia juga menyebutkan bahwa fakta tentang yang tidak boleh diabaikan terkait hal ini, yaitu tentang keberadaan orang-orang Arab yang sudah mampu berlayar mencapai Cina pada abad ke-7. Hamka percaya bahwa dalam perjalanan tersebut, para pelayar dari Arab juga sudah mulai singgah di kepulauan Nusantara.

Pendapat Kedua
Seorang pegawai Belanda pada masa pemerintahan kolonial Belanda bernama Poortman menyimpulkan bahwa Islam dibawa dan disebarkan di Indonesia oleh orang-orang Cina yang bermahzab Hanafi.

Kesimpulan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia oleh Poortman tersebut didapatkan dari penelitiannya terhadap naskah Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Selain dari penelitian dari kedua naskah tersebut dia juga telah melanjutkan penelitian terhadap naskah-naskah kuno Cina yang tersimpan di klenteng-klenteng Cina di Cirebon dan Semarang.

Adapun hasil penelitian dari Poortman tersebut disimpan dengan keterangan 'Uitsluiten voor Dienstgebruik ten Kantore' yang berarti 'Sangat Rahasia Hanya Boleh Digunakan di Kantor'. Hasil penelitian Poortman itu sendiri saat ini telah disimpan di Gedung Arsip Negara Belanda di Den Haag.

Pendapat Ketiga

Seorang penasehat di bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam untuk pemerintah kolonial Belanda bernama Snouck Hurgronje yang mengambil pendapat dari Pijnapel, yaitu seorang pakar dari Universitas Leiden, Belanda yang sering meneliti artefak-artefak peninggalan Islam di Indonesia, menyimpulkan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari Gujarat pada abad ke-12 M. Mereka menempuh jalur perdagangan yang sudah terbentuk antara India dan Nusantara.

Pendapat ini juga dibenarkan oleh J.P. Moquette, yaitu seorang peneliti bentuk nisan kuburan raja-raja pasai, kuburan Sultan Malik Ash-Shalih, dan juga Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Adapun hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik ternyata memiliki bentuk yang mirip dengan nisan-nisan kuburan yang berada di Cambay, Gurajat.

Pendapat Keempat

S.Q. Fatimi adalah salah seorang yang berpendapat tentang sejarah Islam di Indonesia dan sekaligus menyanggah pendapat kedatangan Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh Muquette yang memperkuat pendapat Pijnapel dan Hurgronje. Fatimi berpendapat bahwa nisan-nisan kuburan yang ada di Aceh dan Gresik justru lebih mirip dengan bentuk nisan-nisan dan kuburan yang ada di Benggala, sekitar Bangladesh sekarang.

Lebih lanjut Fatimu juga percaya bahwa pengaruh-pengaruh Islam di Benggala sangat banyak ditemui dalam Islam yang berkembang di Nusantara pada zaman dahulu. Oleh karena itu, Islam yang ada di Indonesia sebenarnya berasal dari Bangladesh.

Pendapat Kelima

G.E. Marrison juga seorang yang pernah mengemukakan pendapat tentang keberadaan masuknya Islam ke Indonesia. Dalam pendapatnya tersebut Marrison juga menyanggah pendapat Moquette, bahkan dia sendiri malah yakin, jika Islam yang datang ke Indonesia berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Adapun sebagai alasannya adalah karena pada abad ke-13M, Gujarat masih menjadi bagian dari kerajaan Hindu, sementara di Pantai Coromandel, Islam telah berkembang.

Morrison juga memperkirakan bahwa pembawa dan penyebar Islam yang pertama masuk ke Indonesia adalah para Sufi dari India. Para Sufi tersebut menyebarkan Islam di Indonesia dengan pendekatan tasawwuf pada akhir abad ke-13 M, dimana waktu itu terhitung belum lama dari peristiwa penyerbuan Baghdad oleh orang-orang Mongol.

Adapun pernyerbuan yang dimaksud adalah penyerbuan yang memaksa banyak para Sufi keluar dari zawiyah-zawiyah mereka dan melakukan pengembaraan ke luar wilayah Bani Abbasiyah, seperti ke ujung Persia atau bahkan ke India.

Pendapat Keenam
Pendapat keenam tentang masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan oleh Hoesein Djajaningrat. Djajaningrat juga dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mempertahankan disertasi di Universitas Leiden, Belanda, pada 1913. Disertasinya tersebut berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis mengenai Sejarah Banten).

Menurut Djajaningrat, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Adapun sebagai alasan Djajaningrat mengemukakan pendapat tersebut adalah berdasarkan peringatan 10 Muharram atau hari Asyura sebagai hari kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib yang ada di Indonesia berasal dari perayaan kaum Syiah di Persia. Peringatan 10 Muharram itu lebih dikenal sebagai perayaan Hari Karbala.

Djajaningrat juga meyakini pendapat tersebut, karena pengaruh bahasa Persia juga masih dapat ditemukan dibeberapa tempat di Indonesia. Selain itu keberadaan Syeikh Siti Jenar dan Hamzah Fansuri dalam sejarah Indonesia menandakan adanya pengaruh ajaran wihdatul wujud Al-Hallaj, seorang Sufi ekstrim yang berasal dari Persia.

Kesimpulan

Terlihat berbagai perbedaan pendapat tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia oleh berbagai tokoh dan juga para peneliti. Perbedaan pendapat tersebut terjadi karena dasar-dasar berpikir yang dipakai dalam membangun pendapat.

Pijnapel, Hurgronje, Marrison, Moquette, Fatimi lebih mempercayai bukti-bukti kongret yang masih bisa diyakini secara pasti, bukan perkiraan. Oleh sebab itu pendapat-pendapat mereka dapat dikatakan lebih logis, meski dapat juga menuntut mereka untuk percaya bahwa Islam pertama kali berkembang di Indonesia pada sekitar abad ke-13, yaitu lebih belakangan ketimbang agama Hindu dan Buddha.

Begitu juga dengan pendapat Residen Poortman. Meski pendapatnya tersebut berdasarkan catatan-catatan dari Cina yang tersimpan bertahun-tahun, tetapi masih ada kemungkinan salah tafsir atas pernyataan-pernytaan tertulis yang ada di dalamnya. Selain itu bisa pula ada kemungkinan adanya manipulasi data tanpa sepengetahuan pembaca.

Adapun pendapat Hamka bahkan akan lebih mudah untuk terjerumus ke dalam bentuk syak yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Adapun pendapat yang dikemukakan oleh Hamka hanya berdasarkan pikiran-pikiran pribadi yang tidak ditunjang oleh data sejarah yang kongkret. Oleh demikian maka sangat kecil kemungkinan pendapatnya untuk benar.

Begitupula dengan pendapat Djajaningrat. Bisa jadi persamaan-persamaan yang dikemukakan dalam pendapatnya itu hanya kebetulan-kebetulan yang mirip pada objek.

Akan tetapi, hampir setiap pendapat itu memiliki konsekuensi. Jika seseorang memercayainya suatu pendapat dari pendapat-pendapat itu, maka, bagaimana pun, ia mesti menerima konsekuensi-konsekuensi yang kemungkinan bakalan ada.

cara mereka menghancurkan iman


Asal Usul dan Perkembangan Film Porno


Film porno muncul tidak lama setelah ditemukannya film pada pada awal 1900-an.Film porno memiliki banyak kesamaan dengan berbagai bentuk pornografi dan erotisisme lainnya. Nama lainnya untuk film porno antara lain "film dewasa" dan "film biru." Secara umum, "softcore" merujuk pada pornografi yang tidak menampilkan penetrasi atau tindakan "fetish yang ekstrem", sedangkan "hardcore" merujuk pada pornografi yang menampilkan penetrasi dan atau tindakan fetish yang ekstrem.


Asal Usul Film Porno

Sepanjang sejarahnya, kamera film telah digunakan untuk membuat film porno, namun biasanya film porno disebarluaskan secara diam-diam, untuk hiburan di rumah atau di perkumpulan tertutup dan juga di bioskop malam. Hanya pada tahun 1970-anfilm porno mulai sedikit dilegalkan; pada 1980-an, pornografi dalam bentuk video rumahan mencapai penyebaran yang sangat luas beberapa dekade sebelumnya. Berkembangnya internet pada akhir 1990-an dan awal 2000-an sangat mengubah penyebaran film porno dan menambah rumit penuntutan kecabulan yang legal.

Film porno adalah bisnis yang tumbuh subur dan sangat menguntungkan, berdasarkan sebuah artikel Reuters tahun 2004, disebutkan bahwa "industri multi-miliaran dolar ini memproduksi sekitar 11.000 judul DVD tiap tahun, sehingga menjadikannya sebagai industri yang sangat kuat".

Film Porno Pertama

Menurut buku Patrick Robertson (Film Facts), film porno yang paling awal, yang dapat diketahui tanggal pembuatannya adalah A L'Ecu d'Or ou la bonne auberge, yang dibuat di Perancis pada tahun 1908. Jalan ceritanya menggambarkan seorang tentaraangkatan darat yang kelelahan kemudian menjalin hubungan dengan seorang pelayan perempuan di sebuah penginapan.

El Satario dari Argentina lebih awal lagi, film ini kemungkinan dibuat antara 1907 dan 1912. Robertson mencatat bahwa film porno-film porno tertua yang masih ada tersimpan dalam Kinsey Collection di Amerika Serikat. Sebuah film menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula ditetapkan. Berdasarkan penelitian Robertson, film Jerman Am Abend (sekitar 1910) adalah sebuah film pendek sepuluh menit yang dimulai dengan seorang perempuan yang memuaskan dirinya sendiri di kamarnya, dan kemudian beralih dengan menampilkan dirinya sedang berhubungan seks dengan seorang laki-laki, melakukan fellatio dan penetrasi anal.

Banyak film porno seperti itu yang dibuat dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, namun karena sifat pembuatannya dan distribusinya yang biasanya sembunyi-sembunyi, keterangan dari film-film seperti itu seringkali sulit diperoleh. Mona (juga dikenal sebagai Mona the Virgin Nymph), sebuah film 59 menit yang dibuat pada tahun 1970, umumnya diakui sebagai film porno pertama yang eksplisit dan mempunyai plot, yang diedarkan di bioskop-bioskop di Amerika Serikat. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm, yang kemudian membuat film porno berat (atau ringan, tergantung versi yang diedarkan), dengan anggaran yang relatif tinggi, yaitu film Flesh Gordon.

Film tahun 1971, The Boys in the Sand dapat disebutkan sebagai yang "pertama" dalam sejumlah hal yang menyangkut pornografi. Film ini umumnya dianggap sebagai film pertama yang menggambarkan adegan porno homoseksual. Film ini juga merupakan film porno pertama yang mencantumkan nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun umumnya menggunakan nama samaran). Ini juga film pornopertama yang membuat parodi terhadap judul film biasa (judul film ini The Boys in the Band). Film ini adalah film porno kelas X pertama yang dibuat tinjauannya oleh New York Times.

Deep Throat adalah sebuah film porno dari Amerika Serikat yang diterbitkan pada tahun 1972, ditulis dan disutradarai oleh Gerard Damiano dan dibintangi Linda Lovelace (nama samaran Linda Susan Boreman). Kisah Deep Throat dimulai ketika seorang wanita yang merasa frustasi secara seksual (Linda Lovelace) meminta saran pada temannya Helen (Dolly Sharp); setelah sebuah pesta seks tidak menolong, Helen menganjurkan Linda untuk pergi ke seorang dokter (Harry Reems). Dokter ini berkata bahwa klitoris Linda berada di tenggorokannya. Di berbagai tempat di Amerika Serikat, film ini dituduh menyebarkan pornografi. Aktor Harry Reems dinyatakan bersalah dalam menyebarkan materi tidak senonoh ke luar batas negara bagian.

Sejak permulaan sejarah film, banyak orang telah tampil dalam berbagai film porno di Eropa dan Asia. Film porno-film porno awal dari tahun 1900-an ini biasanya diputar dengan tangan, dan para pemerannya biasanya tidak ingin dikenal karena tekanan sosial. Bintang porno pertama dari AS yang memiliki nama panggung adalah Linda Lovelace, terkenal karena filmnya dari tahun 1972 Deep Throat. Film ini menghasilkan ratusan juta dolar di seluruh dunia, dan memulai industri film porno dengan aktris-aktris seperti Marilyn Chambers (Behind the Green Door), Gloria Leonard (The Opening of Misty Beethoven), Georgina Spelvin (The Devil in Miss Jones), dan Bambi Woods (Debbie Does Dallas).

Film Porno di Berbagai Negara

Di banyak negara, film porno diperbolehkan untuk dibuat dan disebarkan dengan beberapa pembatasan. Film porno juga dilarang di beberapa negara, khususnya di negara-negara muslim seperti Indonesia dan China, namun film porno tetap dapat diakses melalui internet di negara-negara tersebut.