إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Sabtu

tujuan


Apa Yang Harus Diketahui Oleh Umat Kristen dan Yahudi

tiga-kitab
m
KATA PENGANTAR 
Berikut akan disajikan sejumlah artikel yang ditulis oleh Profesor David Benjamin Keldani BD seorang mantan Uskup Katholik dari Uramiah, Kaldea. Dalam artikel ini Profesor Benjamin mencoba untuk membuktikan bahwa semua ramalan atau nubuah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tentang akan datangnya Al Masih itu sebenarnyalah hanya menunjuk kepada SATU ORANG yaitu NABI MUHAMMAD saw. Uraian Profesor Benjamin yang adalah mantan seorang Archbishop Katholik berdasarkan peninjauan yang sangat mendalam atas Kitab Injil yang ia kuasai, dengan di sana sini beliau mengutip beberapa ayat dari Al Qur'an.
Penterjemah yakin artikel ini penting bukan saja untuk ummat Kristen dan Yahudi agar dapat terbuka hatinya melihat kebenaran sejati atau yang seharusnya, tetapi juga untuk ummat Islam sendiri karena dengan memahami semua yang diuraikan beliau dalam artikel ini, tahulah kita bahwa kita sesungguhnya bisa "mengimami" Kitab Injil yang ada sekarang ini dengan cara yang sangat berbeda dengan ummat Kristen mengimaminya. Dari yang diuraikan oleh Profesor Benjamin kita menjadi tahu bahwa di dalam Injil itu, meskipun semuanya ditulis oleh orang-orang yang bukan murid langsung dari Nabi Isa as dan ditulisnyapun sekian puluh tahun sesudah wafatnya Nabi Isa as di samping di dalamnya ditemukan banyak pertentangan antara ayat-ayatnya, ada banyak "kebenaran Islami" yang tampaknya hanya bisa dipahami dengan benar oleh orang seperti mantan uskup ini. Semoga saja banyak ummat Kristen dan Yahudi yang bisa memiliki kearifan seperti mantan uskup Keldani ini. Sungguh suatu anugerah Allah yang tidak terkira bahwa mantan uskup ini telah diberi izin oleh Allah untuk membuka tabir misteri yang begitu banyak di dalam Injil. Dengan demikian memberi petunjuk kepada kita betapa benarnya firman Allah yang turun pertama kali dan memerintahkan kita untuk "Iqra '" atau "membaca" dengan akal pikiran sehat yang kritis dan yang selalu harus dikembalikan kepada Prima Causa sehingga kita bisa insya Allah mendapatkan pengetahuan yang benar. Dengan selalu "membaca" itu insya Allah hati kita akan dibuka oleh Allah untuk mengetahui dan menerima kebenaran yang sesungguhnya. Bukankah berulang kali dalam Al Qur'an yang mulia ummat Islam diperintahkan untuk "ta'qilun" - "tafakkur" - pergunakan akal sehat kita-dsb.!
Penerjemah berusaha untuk menerjemahkan, dan bukan menyadur, sebaik mungkin untuk tidak mengubah apa yang telah ditulis oleh Profesor Benjamin, seperti misalnya ia sudah terbiasa menyebut nabi Isa as dengan Jesus Kristus atau Jesus atau Kristus saja. Namun sebagai orang Muslim penerjemah merasa tidak "sreg" bila menyebut nama Muhammad tidak ditambahi dengan "saw", dan karena itu semua "saw" adalah dari penerjemah. Banyak juga istilah-istilah Kristen Katholik yang Penerjemah kurang memahaminya, jadi ada yang kami tuliskan seperti apa adanya. Memang dalam artikel ini nuansa Kristen masih sedikit terasa yang bisa kita maklumi karena penulis adalah mantan Uskup Katholik. Yang perlu diketahui juga adalah gaya bahasa penulis artikel ini yang tidak terlalu sederhana, sehingga sering untuk memahami arti kalimat, kita harus berulang kali membacanya.
Dalam menerjemahkan ini seringkali terasa betapa bahasa Indonesia itu tidak terlalu kaya dengan kamus kosakata, sehingga beberapa kata dalam bahasa Inggris yang memiliki arti hampir bersamaan tetapi dengan tekanan atau nuansa lain, dalam bahasa Indonesia ternyata sering hanya memiliki satu arti saja.Harapan Penerjemah semoga apa yang disajikan tidak terlalu jauh dari yang dimaksudkan sesungguhnya oleh Profesor Benjamin. Bila ada kekeliruan dan atau kesalahan arti atau terjemahan dari artikel mantan uskup ini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penerjemah dan semata-mata hanya karena kekurangan yang ada pada penerjemah. Bagi yang memahami bahasa Inggris, penerjemah mohon kritik dan sarannya.Artikel yang menarik ini cukup panjang dan dibagi dalam 2 bab besar, di samping sebuah biografi dari Uskup Uramiah tersebut, yaitu:
BIOGRAFI PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI, BD
Abdu'l-Ahad Dawud adalah sebelumnya seorang pendeta yang bernama David Abdu Benjamin Keldani, BD seorang pendeta Katholik Roma di sekte Uniate Chaldea (Unitarian). Beliau dilahirkan pada tahun 1867 di Urmia, Persia; mendapatkan pendidikannya sejak kecil di kota itu. Dari tahun 1886-1889 ia ada dalam jajaran staf pengajar dari Misi Archbishop Canterbury pada ummat Kristen Asiria (Nestorian) di Urmia. Pada tahun 1892 ia dikirim oleh Kardinal Vaughan ke Roma, di mana ia mengikuti kursus studi filsafat dan teologi di Propaganda Fide College, dan pada tahun 1895 diangkat jadi pendeta. Pada tahun 1892 Profesor Dawud telah menulis sejumlah artikel untuk tabloid "Assyria, Rome dan Canterbury "; dan menurut Irish Record juga di tabloid" Authenticity of the Pentateukh. " Beliau memiliki beberapa terjemahan tentang Ave Maria dalam beberapa bahasa, menerbitkannya dalam majalah bergambar Catholic Missions. Ketika ada di Konstantinopel dalam perjalanannya ke Persia pada tahun 1895, ia menulis sejumlah artikel yang panjang dalam bahasa Inggris dan Perancis tentang "Gereja-Gereja Timur" untuk sebuah harian, yang diterbitkan di harian yang bernama The Levant Herald. Pada tahun 1895 ia bergabung dengan Misi Lazarist dari Perancis di Urmia, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Misi itu menerbitkan sebuah majalah berbahasa Syria asli yang disebut Qala-La-Shara, yaitu "Suara Kebenaran". Pada tahun 1897 beliau diutus bersama oleh dua orang Archbishops Urmia dan Salmas untuk mewakili ummat Katolik Timur pada Ekaristi Congress yang diselenggarakan di Paray-le-Monial di Perancis di bawah pimpinan Kardinal Perraud. Tentu saja ini adalah undangan resmi. Makalah yang dibaca oleh Romo Benjamin dalam Kongres itu diterbitkan dalam jurnal dari Kongres Eukaristik yang disebut "Le Pellerin" dalam tahun itu. Dalam makalah itu Chaldean Arch Priest (sebutan resmi beliau) menyesali sistim pendidikan Katholik di antara ummat Nestorian.
Pada tahun 1888 Romo Benjamin kembali lagi ke Persia. Di desa asalnya, Digala, sekitar satu mil dari kota, ia membuka sebuah sekolah. Di tahun berikutnya ia dikirim oleh penguasa-penguasa Eklesiastikal untuk memimpin diocese Salmas, di mana pertentangan yang tajam dan berbau skandal antara Uniate Archbishop Khudabash, dan Romo-Romo dari Lazarist untuk waktu yang panjang telah mengancam timbulnya perpecahan. Pada hari Tahun Baru 1900 Romo Benjamin menyampaikan khotbah yang terakhir kalinya dan penuh dengan kenangan kepada sekelompok besar jemaah, termasuk banyak orang Armenia yang non Katholik serta lain-lainya di Katedral St. George Khorovabad, Salmas. Judul dari khotbahnya "Abad Baru dan Manusia Baru." Beliau teringat kenyataan bahwa Misi-Misi Nestorian, sebelum timbulnya Islam, yang berarti "penyerahan" kepada Tuhan, telah menyebar luaskan Injil di seluruh Asia; dan bahwa mereka memiliki beberapa tempat di India (terutama di pantai Malabar), di Tartary, di Cina dan Mongol; dan bahwa mereka menerjemahkan Injil dalam bahasa Turki Uighur dan bahasa-bahasa lainnya; bahwa Misi-Misi Katholik, Amerika dan Anglikan, meskipun ada jasa mereka sedikit terhadap bangsa Asiria Kaldea dalam bentuk pendidikan awal, telah memecah bangsa dalam begitu banyak sekte yang tidak bersahabat seperti sejumlah banyak di Persia, Kurdistan dan Mesopotamia; dan bahwa upaya mereka ditakdirkan sampai pada tingkat tertentu menyebabkan kegagalan. Akibatnya beliau menyarankan agar bangsa-bangsa itu membuat beberapa pengorbanan agar dapat berdiri sendiri sebagai laki-laki dan tidak tergantung pada misi-misi asing, dsb.
Secara mendasar pengkhotbah itu benar seluruhnya; namun peringatan beliau itu tidak berkenan bagi kepentingan misi-misi Tuhan. Dengan segera khotbah ini telah membawa Delegasi Apostolik Mgr Lesne dari Urmia ke Salmas. Dia tetap sampai akhir sebagai teman Romo Benjamin. Keduanya kembali ke Urmia. Misi baru dari Rusia telah menetap di Urmia sejak 1899. Kaum Nestorian dengan antusias memeluk agama dari Tsar yang "suci" seluruh Rusia.
Lima Misi yang besar dan megah, Amerika, Anglikan, Perancis, Jerman, dan Rusia dengan kolese mereka, ditopang oleh masyarakat agama yang kaya, Konsul dan Duta Besar, massa berusaha untuk mengalihkan agama dari sekitar seratus ribu orang Asiria-Kaldea dari Nestorian yang pembangkang (Heresy) ke salah satu dari lima penyimpangan (Heresies).Namun dengan segera orang Rusia melampaui yang lainnya, dan misi inilah yang dalam tahun 1915 telah mendorong atau memaksa orang Asiria dari Persia, sebagaimana halnya orang suku gunung Kurdistan, yang pada waktu itu telah berimigrasi ke dataran Salmas dan Urmia, untuk mengangkat senjata terhadap pemerintah masing -masing. Hasilnya adalah bahwa setengah dari orang-orang itu musnah dalam peperangan dan sisanya dikeluarkan dari negeri asalnya.
Masalah besar yang telah lama mencari solusinya dalam jiwa pendeta ini sekarang mendekati klimaksnya. Apakah agama Kristen dengan segala bentuk dan warnanya yang beragam, dengan Kitab-Kitab Sucinya yang tidak otentik, palsu dan telah banyak diubah, benar-benar agama Tuhan? Di musim panas 1900 beliau beristirahat ke villanya yang kecil di tengah kebun anggur dekat dengan air mancur Chali-Boulaghi yang terkenal di Digala, dan di sana untuk selama satu bulan mempergunakan waktunya untuk berdo'a dan meditasi, membaca berulang kali Kitab-Kitab Suci dalam teks aslinya. Krisis itu berakhir dengan permohonan mengundurkan diri secara resmi kepada Uniate Archbishop Urmia, di mana secara jujur ​​ia menjelaskan alasan dia meninggalkan fungsi kependetaan kepada Mgr Touma Audu. Semua usaha telah dilakukan oleh penguasa-penguasa eklesiastikal agar ia menarik keputusan itu namun tanpa hasil. Tidak ada masalah pribadi atau pertentangan antara Romo Benjamin dan atasannya; semua itu adalah masalah kesadaran.
Untuk beberapa bulan Tuan Dawud, begitu kini panggilan beliau, dipekerjakan di Tabriz sebagai inspektur di Jasa Pos dan Pabean Persia di bawah ahli-ahli dari Belgia. Selanjutnya beliau mengabdi pada Pangeran Mahkota Muhammad Ali Mirza sebagai pengajar dan penerjemah. Pada tahun 1903 kembali beliau mengunjungi Inggris dan di sana bergabung dengan masyarakat Unitarian. Dan dalam tahun 1904 beliau dikirim oleh Asosiasi Unitarian Inggris dan Asing untuk melaksanakan pekerjaan pendidikan dan pencerahan di antara orang-orang sebangsa. Dalam perjalanan ke Persia beliau mampir ke Konstantinopel; dan sesudah beberapa wawancara dengan Sheikhul Islam Jamaluddin Effendi dan ulama-ulama lainnya, beliau memeluk agama suci Islam, yang berarti penyerahan diri kepada Tuhan.

TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI DAN NABI-NABI

Oleh: PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI BD (Wafat 1940)
Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.
Alih Bahasa Oleh: HW Pienandoro SH
 A. Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Dalam Perjanjian Lama
Bab 1.
PENDAHULUAN.
Melalui tulisan ini dan tulisan berikutnya saya akan berusaha untuk menunjukkan bahwa doktrin Islam tentang Ketuhanan dan Utusan Agung Allah adalah sepenuhnya benar dan sesuai dengan ajaran di dalam Injil.
Tulisan pertama ini akan saya khususkan untuk membicarakan butir pertama, dan dalam tulisan lainnya akan saya coba untuk menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah obyek dari Perjanjian Lama dan pada diri Muhammad Shallallahu' Alaihi wa Sallam, dan hanya dia seorang diri saja, sesungguhnya dan secara harfiah telah terpenuhi semua prediksi di dalam Perjanjian Lama.
Saya ingin menjelaskan bahwa pandangan yang saya uraikan dalam tulisan ini serta tulisan berikutnya adalah sangat pribadi, dan bahwa saya sendirilah yang bertanggung jawab atas penelitian pribadi dan yang tidak saya contek dari pihak lain terhadap naskah suci Yahudi yang saya lakukan. Namun saya tidak bersikap otoritatif dalam menguraikan dengan rinci ajaran Islam yang memiliki arti penyerahan diri kepada Allah.
Saya tidak memiliki sedikitpun maksud atau keinginan untuk melukai rasa keagamaan dari teman-teman yang beragama Kristen. Saya mencintai Kristus, Musa dan Ibrahim, sebagaimana saya mencintai Nabi Muhammad saw dan semua nabi suci lainnya dari Tuhan.
Tulisan saya ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan pertentangan yang pahit dengan gereja dan karenanya tak berguna, tetapi hanya mengundang mereka untuk penelitian yang menyenangkan dan bersahabat atas masalah yang penting ini dengan semangat cinta dan tidak berpihak. Jika ummat Kristen berhenti dari usahanya yang sia-sia untuk mendefinisikan Zat Yang Maha Adi (Supreme Being), dan mengakui Keesaan Tuhan yang mutlak, maka asosiasi antara mereka dengan ummat Muslim bukan saja mungkin tetapi sangat mungkin. Karena sekali Keesaan Tuhan diterima dan diakui, maka rincian perbedaan lainnya antara dua agama ini dapat dengan lebih mudah diselesaikan. (QS al-Maidah 5:82)
ALLAH dan atributnya
Ada dua hal mendasar antara agama Islam dan Kristen yang, demi untuk kebenaran dan perdamaian dunia, pantas untuk diteliti dengan sangat serius dan mendalam. Karena dua agama ini mengklaim berasal dari satu sumber yang sama, sepantasnyalah bahwa tidak ada kontroversi penting antara keduanya dapat dibiarkan begitu saja. Kedua agama besar ini yakin akan adanya Ketuhanan dan akan adanya Perjanjian yang telah dibuat antara Tuhan dan Ibrahim. Pada dua hal yang pokok ini harus dicapai satu kesepakatan yang hati-hati sekali dan bersifat final antara penganut yang cerdas dari kedua agama tersebut. Apakah kita mahluk bodoh yang malang ini percaya dan memuja satu Tuhan, atau akankah kita mempercayai dan ketakutan terhadap kemajemukan Tuhan? Yang mana dari dua orang ini, Kristus atau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menjadi obyek dari Perjanjian Suci? Kedua pertanyaan ini harus dijawab sekali dan final.
Semata-mata hanya membuang waktu saja di sini untuk berdebat dengan mereka yang secara bodoh dan jahat mengira bahwa Tuhan dalam agama Islam adalah berbeda dengan Tuhan yang sejati, dan hanya sebagai Ketuhanan fiktif hasil ciptaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri. Kapan saja pendeta-pendeta dan ahli teologi Kristen mengenal Injil dalam bahasa aslinya Ibrani dan bukan sekedar terjemahan, sebagaimana halnya ummat Islam membaca Al Qur'an mereka dalam bahasa dan tulisan Arab, pastilah mereka akan mengetahui dengan jelas bahwa Allah adalah nama yang sama dari Yang Maha Adi (Supreme Being) dalam bahasa Semit, yang memberi wahyu dan berbicara kepada Adam dan semua nabi.
Allah adalah satu-satunya yang Swa Ada, Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Dia meliputi segalanya, memenuhi setiap ruang, mahluk dan benda; dan sebagai sumber segala kehidupan, pengetahuan dan kekuatan. Allah adalah pencipta yang unik, Pengatur dan Penguasa dari jagad raya. Dia mutlak hanya Tunggal. Zat, Pribadi dan Sifat Allah adalah mutlak di luar pengetahuan manusia, dan karena itu setiap upaya untuk mendefinisikan Zat-Nya bukan saja sia-sia tetapi bahkan berbahaya untuk kesejahteraan spiritual dan keyakinan kita, karena pastilah hal itu akan membawa kita kepada kesalahan.
Gereja Kristen yang berdasarkan trinitas (tritunggal), telah selama sekitar tujuh belas abad menghabiskan semua kepandaian para santo dan ahli filsafat untuk mendefinisikan Zat dan Pribadi Ketuhanan; dan apa yang telah mereka temukan? Semua yang telah diwajibkan oleh Athanasius dan Aquinas bagi ummat Kristen "di bawah derita kutukan abadi" untuk meyakini suatu Tuhan yang adalah "ketiga dari tiga". Allah dalam kitab suci Al Qur'annya mencela keyakinan ini dalam kalimat-kalimat yang khidmad:
Kafirlah orang yang berkata: "Allah adalah yang ketiga dari tritunggal". Sebab tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Kalau mereka tidak berhenti mengatakan (yang demikian itu), pastilah orang yang ingkar di antara mereka azab yang pedih menyakitkan. "(QS al-Maidah 5:73)
Alasan mengapa kaum Muslimin ortodoks telah selalu menahan diri untuk mendefinisikan Zat Tuhan adalah karena Zat-Nya melebihi semua atribut di mana hal itu hanya dapat didefinisikan. Allah memiliki banyak Nama yang dalam kenyataannya hanya sebagai kata sifat yang berasal dari Zat-Nyamelalui berbagai manifestasi di jagad raya yang Dia sendiri telah membentuknya. Kita menyeru Allah dengan sebutan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Abadi, Yang Ada Di manapun, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Pengasih, dsb. karena kita memahami keabadian, kemaha-hadiran, pengetahuan universal, kemaha-Asihan, sebagai hal yang memancar dari dzat-Nya dan milik Dia Sendiri secara mutlak. Dia Sendiri saya yang dengan tak terhingga Maha Mengetahui, Berkuasa, Maha Hidup, Maha Suci, Maha Indah, Maha Baik, Maha Mencintai, Maha Agung, Maha Mengerikan (azabNya), Maha Penuntut Balas, karena hanya dari Dia Sendiri saja memancar dan mengalir mutu dari pengetahuan, kekuasaan, kehidupan, kesucian, keindahan, dll. Tuhan tidak memiliki atribut dalam pengertian yang kita pahami. Bagi kita suatu atribut atau milik adalah hal yang biasa bagi banyak individu dari suatu jenis, tetapi apa yang Tuhan miliki adalah milik Dia Sendiri saja, dan tidak ada yang lainnya yang berbagi milik dengan Dia. Kita berkata: "Suleiman adalah bijak, kuat, adil dan cantik," kita tidak menganggap secara eksklusif bahwa segala kebijakan, kekuasaan, keadilan dan keindahan adalah milik Suleiman sendiri saja. Kita hanya ingin menyatakan bahwa relatif dia bijak jika dibandingkan dengan orang lain dari jenisnya, dan bahwa kebijakan itu relatif adalah atribut yang dimilikinya sebagai keadaan yang biasa bersama dengan orang-orang dalam golongannya.
Untuk lebih memperjelas lagi, atribut yang suci adalah pancaran (emanasi) dari Tuhan, dan karenanya suatu kegiatan. Begitulah, setiap kegiatan suci itu tak lebih dan tak kurang hanyalah sebuah ciptaan.
Juga harus diakui bahwa atribut suci, sejauh itu merupakan pancaran, menerima sebagai kenyataan adanya waktu dan awal waktu atau permulaan; dengan sendirinya ketika Allah befirman: "Jadilah, maka jadilah" - atau Dia telah mengucapkan kalimatnya dalam waktu dan awal penciptaan. Inilah yang oleh para sufi disebut "aql kull" atau intelegensi universal, sebagai pancaran dari "aql awwal" , yaitu intelegensi awal. Kemudian "nafs kull" atau jiwa yang universal, itulah yang pertama mendengar dan mematuhi perintah suci ini, dipancarkan dari "jiwa awal" dan telah mengubah jagad raya ini.
Cara berpikir yang begini ini membawa kita untuk menyimpulkan, bahwa setiap tindakan Allah mempertunjukkan pancaran suci sebagai manifestasinya dan atributnya yang khas, tetapi itu bukanlah Zat-Nya atau adanya. Tuhan adalah Sang Pencipta, karena Dia menciptakan pada permulaan waktu dan selalu menciptakan. Tuhan berfirman pada awal waktu sebagaimana Dia selalu berkata menurut caraNya sendiri.Namun karena ciptaanNya tidak abadi atau bukan suatu pribadi yang suci, maka firmanNya tidak dapat dianggap sebagai abadi dan Pribadi yang suci. Orang Kristen telah bertindak lebih jauh, dan menjadikan Sang Pencipta sebagai Bapa yang suci dan kalimatnya sebagai Putera yang suci, dan juga karena Dia meniupkan ruhnya pada ciptaannya, maka dia juga disebut sebagai Ruh Suci (divine Spirit), dengan melupakan bahwa menurut logika Dia tidak bisa menjadi "ayah" sebelum penciptaan, begitupun "anak" sebelum Dia berfirman, dan tidak pula Ruh Suci (Holy Ghost) sebelum Dia meniupkan ruhnya .Saya dapat membayangkan atribut Tuhan melalui karyaNya dalam manifestasinya kemudian, tetapi tentang keabadiannya tidaklah ada gambaran apapun, tidak pula saya dapat membayangkan ada mahluk intelegensi yang sanggup untuk mengerti secara menyeluruh sifat atribut yang abadi dan hubungannya dengan Zat Tuhan. Pada kenyataannya Tuhan tidak menyatakan kepada kita sifat dari adanya dalam Kitab Suci manapun.
Atribut Tuhan tidak harus dianggap sebagai sosok atau pribadi suci yang lain dan terpisah, karena kalau tidak demikian kita akan memiliki bukan saja satu trinitas dalam Ketuhanan, tetapi beberapa lusin trinitas.Suatu atribut sampai saatnya atribut itu benar-benar terpancar dari subyeknya tidak memiliki eksistensi.Kita tidak dapat menggolongkan subyek dengan suatu atribut tertentu sebelum atribut itu telah memancar dari subyek itu dan terlihat. Dari sini kita menyatakan "Tuhan itu Baik" pada saat kita menikmati kebaikannya dan tindakannya yang baik; namun kita tidak dapat menggambarkannya - dengan ungkapan yang benar - sebagai "Tuhan itu Kebaikan" karena kebaikan itu bukan Tuhan, tetapi hanyalah sebuah kegiatan dan karya. Berdasarkan alasan inilah Al Qur'an selalu membuat kata sifat sebagai sebutan untuk atribut Allah, seperti "Yang Maha Bijak", "Yang Maha Mengetahui", "Yang Maha Pengasih", tapi tidak pernah dengan deskripsi seperti "Tuhan adalah cinta, ilmu pengetahuan, firman, dsb ", karena cinta adalah tindakan atau kegiatan dari sang pencinta dan bukan sang pencinta itu sendiri, tepat seperti ilmu pengetahuan atau firman adalah tindakan atau kegiatan dari orang yang berpengetahuan dan bukan orang itu sendiri.
Saya berikan tekanan khusus pada butir ini, karena inilah kesalahan ke dalam mana telah jatuh mereka yang meyakini keabadian dan kepribadian yang lain dari suatu atribut tertentu Tuhan. Kata kerja atau firman Tuhan telah dijadikan sebagai pribadi lain dari Ketuhanan; padahal firman Tuhan tidak dapat memiliki arti lain kecuali sebagai pernyataan Pengetahuan dan KehendakNya. Al Qur'an juga disebut sebagai "Firman Allah". Dan beberapa pakar hukum Muslim awal menjelaskan bahwa firman Allah itu adalah abadi dan tidak diciptakan. Sebutan yang sama juga diberikan kepada Jesus Kristus di dalam Al Qur'an "Kalimatun minhu" yaitu "Firman" (QS al-Imran 3:45). Tetapi akan tidak agamawi untuk menerangkan bahwa Firman atau Logos Tuhan adalah pribadi lain, dan bahwa pribadi itu menjadi daging dan berinkarnasi dalam bentuk seorang manusia laki-laki dari Nazareth, atau dalam bentuk sebuah buku, yang pertama disebut "Kristus" dan yang kedua disebut " Al Qur'an "!
Sebagai ringkasan dari subyek ini, dengan mendesak saya nyatakan bahwa Firman ataupun atribut Tuhan yang lain yang dapat dibayangkan, bukan saja itu bukan entitas Suci atau individualitas lain, tetapi juga bahwa itu tidak mungkin memiliki keberadaan nyata sebelum awal waktu dan penciptaaan.
Ayat pertama dengan mana Injil Yohanes mengawalinya dan berbunyi: "Pada awalnya adalah Firman; dan Firman itu bersama dengan Tuhan, dan Firman itu milik Tuhan," sering didebat oleh penulis dari aliran Unitarian.
Dapat dicatat di sini bahwa dalam bahasa Yunani bentuk kata punya (genitive case) "Theou" ialah "God'S" atau "Milik Tuhan" 1) telah dikorupsi menjadi "Theos" yang berarti "Tuhan" dalam bentuk nominatif kata itu! Juga dapat dicatat bahwa pasal "Pada awalnya adalah Firman" secara nyata menunjukkan asal kalimat itu bukan sebelum awal waktu! Dengan "Firman Tuhan" tidak dimaksudkan suatu substansi yang terpisah dan lain, yang sezaman dan ada dalam waktu yang sama dengan Yang Maha Kuasa, tapi ucapan dari Ilmu Pengetahuan dan KehendakNya ketika Dia berfirman: "Kun" yaitu "Jadilah". Ketika Tuhan berfirman "Jadilah", terwujudlah dunia ini, ketika Dia berfirman: "Jadilah" agar firmanNya dicatat di dalam Kitab Lauful Mahfuz dengan pena, maka jadilah itu.
Dengan firmanNya: "Jadilah" Jesus diciptakan dalam rahim Perawan Maryam yang diberkati; dan selanjutnya - bila saja Dia menghendaki untuk menciptakan sesuatu, Dia tidak lain kecuali berfirman: "Jadilah" kepada itu dan jadilah itu.
Formula ummat Kristen yang digemari ialah: "Atas nama Bapa, dan Anak, dan Ruh Suci" bahkan di dalamnya sama sekali tidak menyebut nama Tuhan! Dan inilah Tuhan ummat Kristen! Formula dari kaum Nestorian dan Jacob yang terdiri dari sepuluh suku kata yang sama banyaknya dengan "Bismillahi" dari ummat Islam, berbunyi: "Bshim Abha wo Bhra ou-Ruha d-Qudsha" yang artinya sama dengan formula ummat Kristen yang lainnya. Di pihak lain formula Al Qur'an yang menyatakan fondasi kebenaran Islami "Bismillahi'r-Rahmani'r-Rahim" yang artinya "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang" merupakan kontras besar dengan formula kaum Trinitarian.
Trinitas agama Kristen tidak dapat diterima sebagai suatu konsep Ketuhanan yang sesungguhnya, karena mengakui adanya pluralitas pribadi dalam Ketuhanan, memberikan atribut sifat-sifat personal yang berlainan kepada masing-masing pribadi, dan menggunakan nama keluarga sama dengan nama-nama dalam mitologi kaum kafir. Allah bukan ayah dari seorang anak, tidak juga seorang anak dari seorang ayah. Dia tidak memiliki ibu, tidak pula Dia dibuat sendiri.Kepercayaan terhadap "Tuhan Bapa, dan Tuhan Anak, serta Ruh Suci" adalah suatu pengingkaran yang menyolok atas Keesaan Tuhan, dan suatu pengakuan yang berani terhadap tiga mahluk yang tidak sempurna yang secara bersama atau terpisah tidak mungkin menjadi Tuhan yang sesungguhnya
Matematika sebagai ilmu pengetahuan positif mengajarkan kepada kita bahwa suatu unit tidak lebih dan tidak kurang adalah satu; bahwa satu tidak pernah sama dengan satu ditambah satu ditambah satu; dengan kata lain, satu tidak bisa sama dengan tiga, karena satu adalah sepertiga dari tiga. Dengan cara yang sama, satu tidak sama dengan sepertiga. Dan vice versa tiga tidak sama dengan satu, demikian pula sepertiga tidak dapat sama dengan satu. Unit adalah dasar dari semua bilangan, dan standar untuk ukuran dan timbangan dari semua dimensi, jarak, jumlah dan waktu. Pada kenyataannya, jumlah adalah jumlah dari unit 1 (satu). Sepuluh adalah jumlah dari sekian banyak unit yang sama dari jenis yang sama.
Mereka yang berpendapat kesatuan Tuhan dalam trinitas pribadi-pribadi mengatakan kepada kita, bahwa "setiap pribadi itu adalah Tuhan yang maha kuasa (omnipotent), maha ada (omni present), abadi dan sempurna; meskipun begitu tidak berarti tiga Tuhan yang maha kuasa, maha ada, abadi dan sempurna, tetapi satu Tuhan yang maha kuasa! Kalau di dalam cara pandang yang tersebut di atas itu tidak ada cara berpikir yang tidak masuk akal, maka melalui persamaan akan kita hadirkan "misteri" dari gereja berikut ini.
Tuhan = 1 Tuhan + 1 Tuhan + 1 Tuhan; oleh karena itu: 1 Tuhan = 3 Tuhan. Pertama, satu Tuhan tidak sama dengan tiga Tuhan, tetapi hanya satu saja di antaranya. Kedua, karena anda mengakui bahwa setiap pribadi adalah Tuhan yang sempurna seperti halnya dua temannya yang lain, maka kesimpulan anda bahwa 1 + 1 + 1 = 1 bukanlah matematika, tetapi hal yang tidak masuk akal sama sekali.
Kalau Anda bukan seorang yang terlalu sombong ketika mencoba membuktikan bahwa tiga unit sama dengan satu unit, maka anda ialah seorang yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa tiga satu sama dengan tiga satu (three ones equal three ones). Dalam hal pertama Anda tidak pernah dapat membuktikan pemecahan suatu masalah melalui suatu proses yang salah; dalam hal kedua, anda tidak memiliki keberanian untuk mengakui kepercayaan anda kepada tiga Tuhan.
Tambahan lagi, kita semua ummat Islam dan Kristen percaya bahwa Tuhan itu omnipresent, bahwa Dia memenuhi dan mencakup setiap ruang dan partikel. Dapatkah dibayangkan bahwa semua ketiga pribadi Ketuhanan itu secara serentak dan terpisah meliputi jagad raya, atau tidakkah hanya satu saja di antaranya yang omnipresent pada suatu saat? Untuk mengatakan: "Ketuhanan (Deity) melakukan semua itu" bukanlah suatu jawaban sama sekali. Ketuhanan bukan Tuhan tetapi ialah suatu keadaan sebagai Tuhan, karena hal itu adalah suatu kualitas.
Ketuhanan adalah suatu kualitas dari satu Tuhan; pluralitas atau pengurangan (kurang dari satu) tidak dapat dianggap berlaku untuk hal itu. Tidak ada ketuhanan-ketuhanan tetapi hanya satu Ketuhanan yang menjadi atribut dari Satu Tuhan saja sendiri.
Selanjutnya kita diberi tahu bahwa setiap pribadi dari trinitas memiliki beberapa atribut tertentu yang tidak sesuai untuk kedua pribadi lainnya. Sesuai dengan akal manusia dan jalan bahasa, aribut itu menunjukkan ada prioritas dan posterioritas (yang didahulukan dan yang dkemudiankan) di antara mereka. Ayah selalu ada di urutan pertama dan ada di depan Anak, Ruh Suci bukan saja dikemudiankan sebagai yang ketiga dalam urutan perhitungan, tetapi bahkan lebih rendah posisinya dari Bapa dan Anak dari siapa Ruh Suci itu berasal. Bukankah akan dianggap sebagai dosa "Heresy" bila nama -nama dari tiga pribadi itu diulang-ulang secara terbalik? Bukankah tanda salib pada Eucharist akan dianggap oleh gereja sebagai tidak religius bila saja formulanya bertukar tempat menjadi: "Dalam nama Ruh Suci, dan dalam nama Anak, dan dalam nama Bapa"? Karena kalau memang mereka itu sama dan sezaman, maka tertib urutan atau hal di dahulukan atau di kemudiankan itu tidak perlu diperhatikan dengan seksama.
Kenyataannya ialah bahwa Paus dan Konsili Umum selalu mencerca doktrin kaum Sabelian yang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu tetapi bahwa Dia memanifestasikan diriNya sendiri sebagai Bapa atau Anak atau Ruh Suci, yang selalu merupakan satu pribadi yang sama. Tentu saja agama Islam tidak menyetujui atau mengkonfirmasi pandangan kaum Sabelian ini. Tuhan menampakkan Jamal atau Kecantikan dalam diri Kristus, Jelal atau Kemuliaan dan Keagungan dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan Kebijakan dalam diri Nabi Suleiman, dan begitu seterusnya dalam berbagai obyek alam, namun tidak satupun dari Nabi itu adalah Tuhan, begitupun pemandangan alam yang indah itu bukan Tuhan.
Kebenarannya adalah bahwa tidak ada kebenaran matematika, tidak ada kesamaan mutlak di antara tiga pribadi dalam Trinitas. Ketika Bapa itu dalam segala hal sama dengan Anak atau Ruh Suci sebagaimana unit 1 secara positif sama dengan jumlah 1 lainnya, maka perlu hanya ada satu pribadi Tuhan dan bukan tiga, karena sebuah unit bukanlah bagian atau pecahan begitu pula pergandaan dari dirinya sendiri.Perbedaan nyata dan hubungan yang diakui ada di antara pribadi-pribadi trinitas tidak meragukan sama sekali bahwa pribadi-pribadi itu tidak sama satu dengan lainnya dan tidak pula mereka dapat dikenali satu dengan lainnya. Bapa memperanakkan dan tidak diperanakkan; Anak diperanakkan dan bukan seorang bapak; Ruh Suci adalah bagian dari dua pribadi lainnya; pribadi pertama dilukiskan sebagai pencipta dan perusak; yang kedua sebagai penyelamat dan penebus dosa; dan yang ketiga sebagai pemberi hidup.Konsekuensi dari sikap ini ialah bahwa tidak seorang pribadipun dari tiga pribadi yang secara berdiri sendiri adalah sebagai Pencipta, Penebus Dosa dan Pemberi Hidup. Lalu kita diberi tahu bahwa pribadi kedua adalah Firman dari pribadi pertama, menjadi manusia dan dikorbankan di tiang salib untuk memenuhi rasa keadilan Bapa, dan bahwa inkarnasinya dan kebangkitannya kembali dilaksanakan dan dipenuhi oleh pribadi ketiga.
Sebagai kesimpulan, saya harus memperingatkan ummat Kristen, bahwa bila mereka tidak mempercayai kemutlakan Keesaan Tuhan dan meninggalkan kepercayaan terhadap tiga pribadi, pastilah mereka itu termasuk orang kafir terhadap Tuhan yang sesungguhnya . Secara tepat dapat dikatakan, ummat Kristen mempercayai banyak tuhan atau polytheist hanya dengan satu perkecualian, bahwa dewa-dewa orang kafir penyembah berhala adalah palsu dan imajiner, sedangkan tiga tuhan dari gereja memiliki karakter yang menonjol, di antaranya Bapa yang juga disebut Pencipta adalah Tuhan Satu yang sesungguhnya, tetapi Anak hanyalah seorang nabi dan pemuja Tuhan, dan pribadi ketiga adalah salah satu dari sekian banyak ruh-ruh suci yang melayani Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan disebut Bapa karena adanya sebagai Pencipta dan Pelindung Yang Pengasih, namun karena gereja telah menyalah gunakan nama ini, maka Al Qur'an telah dengan benar menghindarkan dirinya untuk mempergunakan nama itu.
Perjanjian Lama dan Al Qur'an mencela doktrin tiga pribadi dalam Tuhan; Perjanjian Baru tidak secara jelas memiliki atau mempertahankan doktrin itu, namun andaikan saja Kitab itu berisikan petunjuk dan jejak mengenai Trinitas, hal itu tidak memilik keabsahan sama sekali, karena Kitab itu tidak ( pernah) dilihat dan tidak pula ditulis oleh Kristus, tidak pula dalam bahasa yang dipakai Kristus, begitupun tidak pula Kitab itu dalam bentuk dan isinya yang sekarang - paling tidak dua abad pertama sesudah Kristus.
Mungkin dapat ditambahkan dengan menguntungkan, bahwa di Timur kaum Kristen Unitarian selalu membasmi dan menyanggah kaum Trinitarian, dan bahwa ketika mereka menyaksikan penghancuran total "Binatang Keempat" oleh Nabi Besar Allah, mereka kaum Kristen Unitarian ini menerima dan mengikutinya. Setan yang berbicara kepada Hawa melalui mulut ular, menghujat Yang Maha Tinggi melaui mulut "Tanduk Kecil" yang mencuat di antara "Sepuluh Tanduk" di kepala "Binatang Keempat" (Daniel viii), tidak lain adalah Consantine Yang Agung yang dengan resmi dan kekerasan mengumumkan Dekrit Nicea. Tetapi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menghancurkan "Iblis" atau Setan dari Tanah Yang Dijanjikan untuk selamanya dengan membangkitkan Islam di situ sebagai sebuah agama dengan Satu Tuhan yang sesungguhnya.
"DAN AHMAD DARI SEMUA BANGSA AKAN DATANG" (HAGGAI, ii.7)
Sekitar dua abad sesudah keruntuhan yang tidak disesalkan dari pemerintah Israel yang pemuja berhala, dan semua penduduknya dari sepuluh suku bangsa dideportasikan ke Asiria, Jeruzalem dan kuil Suleiman yang mulia dihancur ratakan dengan tanah oleh orang Kaldea, dan sisa orang Judah dan Benjamin yang tidak tewas diangkut ke Babel. Sesudah masa tujuh puluh tahun dalam tangkapan, orang-orang Yahudi itu diizinkan kembali ke negaranya sendiri dengan kekuasaan penuh untuk membangun kembali kota dan kuil mereka yang sudah hancur. Ketika fondasi rumah Tuhan yang baru ditempatkan, terdengarlah teriakan gembira yang gegap gempita dan seruan-seruan dari orang-orang yang berkumpul, orang-orang tua laki-laki dan perempuan yang sudah pernah melihat keindahan kuil Suleiman sebelumnya menangis dengan pahit. Pada peristiwa yang layanan inilah Yang Maha Kuasa telah berkenan mengirimkan utusan Nabi Haggai menghibur kelompok orang-orang yang sedih itu dengan pesan yang penting:
"Dan Aku akan menyalami semua bangsa, dan Himdah semua bangsa akan datang; dan Aku akan memenuhi rumah ini dengan keagungan, firman Tuhan rumah itu. Milikku adalah perak, milikKu adalah emas, firman Tuhan rumah itu, keagungan rumahKu yang terakhir akan lebih besar dari rumahKu sebelumnya, firman Tuhan rumah itu; dan di tempat ini Aku akan memberikan Shalom, firman Tuhan rumah itu. " (Haggai, ii.7)
Saya telah menerjemahkan ayat di atas dari satu-satunya copy Injil yang ada pada saya yang seorang sepupu perempuan saya, seorang Asiria, telah meminjamkan Kitab tersebut yang berbahasa asli logat wanita itu. Tetapi marilah kita konsultasikan dengan Injil versi bahasa Inggris yang kita dapati telah menterjemahkan kata Ibrani asli "himda dan shalom" sebagai "ingin" (desire) dan "damai" (peace).
Para komentator agama Yahudi dan Kristen sama-sama memberikan arti yang sangat penting kepada janji ganda (himdah dan shalom) yang ada dalam ramalan tersebut. Kedua mereka memahami adanya prediksi kenabian dalam kata himda itu. Benar, inilah ramalan indah yang ditegaskan oleh formula Injil yang biasa tentang sumpah suci, "kata Tuhan Sabaoth" yang diulang empat kali. Bila prediksi ini dipahami dalam pengertian abstrak, kata himda dan shalom sebagai "ingin" dan "damai", maka prediksi itu menjadi tidak lebih dari sebuah aspirasi yang tidak bisa dimengerti. Namun bila istilah himda itu kita pahami sebagai sebuah gagasan nyata, seorang pribadi dan suatu kenyataan dan dalam kata shalom bukan suatu keadaan, tetapi suatu kekuatan yang hidup dan aktif serta agama yang secara pasti telah dibangkitkan, maka ramalan ini harus diterima sebagai benar dan telah terpenuhi dalam pribadi Ahmad dan kebangkitan agama Islam. Karena himda dan shalom atau shlama artinya sama dengan Ahmad dan Islam.
Sebelum mencoba untuk membutkikan telah terpenuhinya ramalan ini, ada baiknya untuk menerangkan etimologi dari dua kata itu - himda dan shalom - seringkas mungkin.
a. Himda - Ayat dalam teks asli bahasa Ibrani itu berbunyi: "ve yavu himdath kol haggoyim," yang secara harfiah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akan berbunyi: "will come the Himda of all nations."Huruf akhir hi dalam bahasa Ibrani seperti juga dalam bahasa Arab, diganti dengan th, atau t , bila dalam kasus kata empunya (genitive case). Kata itu berasal dari bahasa Ibrani kuno atau lebih tepat bahasa Aram, akar kata "HMD" (konsonan diucapkan "hemed"). Dalam bahasa Ibrani biasanya hemed dipergunakan dalam arti keinginan, merindukan, selera, gairah. Perintah kesembilan dari Kitab Dekalog ialah "Lo tahmod ish reikha" (kamu tidak dapat merindukan istri tetanggamu). Dalam bahasa Arab kata kerja himda, dari konsonan HMD, berarti; "memuji" dan sebagainya.
    Bahwa orang yang tiba-tiba datang ke kuil sebagaimana diramalkan oleh kedua dokumen Injil tersebut di atas adalah Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam yang dimaksudkan dan bukan Nabi Isa as, argumentasi berikut kiranya sudah cukup bagi pengamat yang tidak memihak:
    1. Hubungan "darah", hubungan dan keserupaan antara dua tetogram Himda dan Ahmd, dan identitas akar kata HMD dari mana berasal kedua substansi itu sama sekali tidak menimbulkan keraguan apapun bahwa subyek dalam kalimat: "dan Himda dari semua bangsa akan datang" adalah Ahmad; dengan kata lain Muhammad. Tidak ada hubungan etimologis apapun antara himda dan nama-nama lainnya seperti "Yesus", "Kristus", "Penyelamat", bahkan tidak satu huruf matipun (konsonan) yang serupa di antara nama-nama lain tersebut.
    2. Bahkan kalaupun diperdebatkan bahwa bentuk bahasa Ibrani untuk Hmdh (baca himdah) dalam arti substantif yang abstrak "hasrat, nafsu, kerinduan, dan pujian," maka argumentasi itu tetap menguntungkan tesis di atas (No.1); karena bentuk bahasa Ibrani dalam etimologi akan persis sama dalam arti dan keserupaan, atau mungkin lebih baik dikenal sebagai bentuk bahasa Arab Himdah.Dalam pengertian yang manapun yang anda kehendaki dari tetogram Hmdh, hubungannya dengan Ahmad dan Ahmadisme adalah menentukan dan final, dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Jesus atau Jesusisme! St Jerome dan sebelum dia juga para penulis Septuagint telah mempertahankan tanpa perubahan bentuk kata Ibrani Hmdh, dan tidak (instead of) menuliskan dalam bahasa Latin "cupiditas" atau bahasa Seek "euthymia" sebagai gantinya, maka sangatlah mungkin bahwa para penterjemah yang diperintahkan oleh Raja James I juga akan telah mereproduksi bentuk yang asli dalam Versi Resmi (Authorized Version), dan Masyarakat Injil telah meniru dalam terjemahan mereka ke dalam bahasa yang Islami.
    3. Kuil Zorobabel harus lebih mulia dari pada kuil Suleiman karena, seperti diramalkan oleh Mallakhi, Nabi Besar atau Utusan dari Perjanjian (Covenant) "Adonai" atau Sayid dari para utusan akan berkunjung secara tiba-tiba, sebagaimana telah dengan sebenarnya diperbuat oleh Nabi Muhammad selama dalam perjalanan malam ajaibnya (Isra 'mi'raj) seperti diungkapan dalam Al Qur'an! Kuil Zorobabel diperbaiki atau dibangun kembali oleh Herodes Agung. Dan Jesus, tentunya pada setiap kesempatan dari kunjungannya yang sering ke kuil itu, memberikan kehormatan kepada kuil itu dengan pribadinya yang suci dan kehadirannya. Benarlah setiap kehadiran dari para Nabi di Rumah Tuhan itu telah menambahkan kebanggaan dan kesucian pada tempat suci itu. Namun sejauh itu, paling tidak haruslah diakui, bahwa Injil, yang mencatat kunjungan Kristus ke kuil itu serta pelajarannya di kuil itu, tidak berhasil menyebutkan adanya orang-orang diantara para pendengarnya yang menerima ajaran Jesus itu. Semua kunjungannya ke kuil itu dilaporkan sebagai berakhir dengan pertentangan yang pahit dengan para pendeta Farisi yang tidak mempercayainya! Juga harus disimpulkan bahwa Jesus bukan saja tidak membawa "perdamaian" kepada dunia sebagaimana dia nyatakan secara sengaja (Matius xxiv, Markus xiii., Lukas xxi.), Tetapi dia bahkan meramalkan kehancuran total dari kuil itu (Matius x.34, dst.) yang terbukti kurang lebih 40 puluh tahun kemudian oleh orang-orang Roma, pada saat penyebaran (exodus) orang Israel disempurnakan.
    4. Ahmad, sebagai bentuk kata lain nama Muhammad dan dari akar kata dan pengertian yang sama, yiatu "terpuji" selama perjalanan malamnya mengunjungi tempat suci dari reruntuhan kuil, seperti tersebut dalam Al Qur'an, dan di sana sini, menurut tradisi (al Hadits) yang suci berulangkali dia ucapkan kepada para sahabatnya, mengimami shalat dan dzikir kepada Allah yang dihadiri semua Nabi; dan kemudian bahwa Allah "memperjalankannya di malam hari dari Mesjid yang suci ke Mesjid yang jauh yang diberkati Allah sekelilingnya agar Allah dapat menunjukkan kepadanya Tanda-Tanda Allah . " (QS al-Isra '17:1) kepada nabi yang terakhir. Bila Musa dan Ilyas dapat muncul secara jasmaniah di bukit transfigurasi, mereka dan ribuan Nabi-Nabi lainnya juga dapat muncul di lapangan kuil di Jeruzalem; dan itu terjadi dalam "kunjungan yang mendadak" Nabi Muhammad ke "kuilnya" (Matius III.1) bahwa Tuhan benar-benar telah memenuhinya "dengan kemuliaan." (Haggai ii)
      Bahwa Aminah, janda Abdullah, keduanya meninggal sebelum kebangkitan Islam, telah memberikan nama kepada anak laki-lakinya yang yatim "Ahmad", nama yang cocok yang untuk pertama kalinya dipakai dalam sejarah manusia, menurut keyakinan saya yang hina, adalah keajaiban yang terbesar yang menguntungkan Islam. Kalifah kedua., Hazrat Umar, membangun kembali kuil itu, dan reruntuhan Mesjid agung di Jeruzalem, dan akan tetap demikian sampai akhir zaman, merupakan monumen abadi dari kebenaran perjanjian yang telah dibuat oleh Allah dengan Ibrahim dan Ismail (Genesis xv. - Xvii)
      Bab 2
      MASALAH HAK BERDASARKAN KELAHIRAN DAN PERJANJIAN TUHAN DENGAN NABI IBRAHIM
      Dari sejak dulu ada pertentangan pendapat dalam agama antara kaum Ismail (keturunan Nabi Ismail) dan kaum Israel (keturunan Nabi Ishaq) tentang hak berdasarkan kelahiran dan perjanjian Tuhan dengan Ibrahim. Para pembaca Injil dan Al Qur'an sudah mafhum dengan ceritera tentang Nabi besar Ibrahim dan kedua anak laki-lakinya Ismail dan Ishaq. Ceritera tentang seruan Ibrahim dari Ur di Kaldea, dan ceritera tentang keturunannya hingga meninggalnya cucunya Jusuf di Mesir, tertulis dalam buku Genesis (pasal xi.-1). Dalam garis keturunannya seperti tertulis dalam Genesis, Ibrahim adalah yang keduapuluh dari Nabi Adam, dan satu zaman dengan raja Nimrod yang membangun Menara Babel.
      Meskipun tidak tertulis dalam Injil, ceritera awal tentang Nabi Ibrahim di Ur dari Kaldea dicatat oleh ahli sejarah Yahudi Joseph Flavius ​​dalam "Antiquities" dan juga dibenarkan oleh Al Qur'an. Tetapi Injil dengan jelas menceriterakan kepada kita bahwa ayah Ibrahim yang bernama Terah adalah seorang penyembah berhala (Jos. xxiv. 2, 14). Ibrahim menunjukkan cinta dan gairahnya terhadap Tuhan ketika memasuki kuil dan menghancurkan semua berhala dan gambar-gambar yang ada di dalamnya, dan ia adalahprototipe sejati dari keturunannya yang terkenal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ibrahim keluar tanpa luka dan dengan gemilang dari nyala api di mana ia dilemparkan atas perintah Nimrod. Dia meninggalkan tanah kelahirannya menuju ke Haran bersama ayah dan kemenakannya Nabi Lot. Dia berumur tujuh puluh lima tahun ketika ayahnya meninggal di Haran. Dalam kepatuhan dan penyerahan diri mutlak kepada seruan suci, ia meninggalkan negerinya dan memulai perjalanannya yang panjang dan beragam ke tanah Kanaan, ke Mesir dan Arabia. Istrinya Sarah mandul; namun Tuhan menyatakan kepadanya bahwa ia ditakdirkan menjadi ayah dari banyak bangsa, bahwa semua wilayah yang akan beliau jelajahi akan diwariskan kepada keturunannya, dan bahwa, "melalui benihnya seluruh bangsa di bumi akan diberkati"! Janji yang indah dan unik dalam sejarah agama ini dihadapi dengan keyakinan yang tak tergoyahkan oleh Ibrahim yang tidak punya anak cucu, tidak punya anak laki-laki (pada saat itu - Pent.). Pada saat beliau dibimbing keluar melihat ke langit pada malam hari dan diberitahu Allah bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit, dan tak terhitung seperti halnya pasir yang di pantai laut, Ibrahim mempercayainya. Dan keyakinan kepada Tuhan inilah yang "dianggap sebagai istiqomah (lurus)" seperti tertulis dalam Kitab-Kitab Suci.
      Seorang gadis Mesir miskin yang berbudi bernama Hagar adalah budak dan pembantu wanita Sarah. Atas penawaran dan izin dari tuannya (Sarah) pembantu wanita itu dikawini oleh Nabi Ibrahim, dan dari perkawinan itu lahirlah Ismail, seperti telah diberitahukan oleh Malaikat. Ketika Ismail berumur tiga belas tahun, Allah mengutus malaikat lagi dengan membawa wahju bagi Ibrahim.; janji yang sama diulangi lagi kepada Ibrahim; ritual khitan secara resmi dilembagakan dan segera dilakukan. Ibrahim yang berumursembilan puluh tahun, Ismail, dan semua pembantu laki-laki mereka dikhitan; dan "Perjanjian" antara Tuhan dan Ibrahim dengan anak laki-laki satu-satunya dibuat dan ditutup, seolah-olah dilakukan dengan darah khitan. Itu adalah semacam perjanjian yang dibuat antara Langit dan Tanah Yang Dijanjikan dalam pribadi Ismail sebagai keturunan tunggal dari Bapak Bangsa yang tidak mempersekutukan Tuhan dengan apapun. Ibrahim berikrar setia dan patuh kepada Penciptanya, dan Tuhan berjanji untuk selamanya menjadi pelindung dan Tuhan dari keturunan Ismail.
      Kemudian, ketika Ibrahim berumur sembilan puluh sembilan tahun dan Sarah berumur sembilan puluh tahun, kita dapati bahwa dia juga mengandung seorang anak laki-laki yang mereka namakan Ishaq sesuai dengan janji Yang Maha Suci.
      Karena tidak ada kronologi disebutkan dalam Genesis, kita diberitahu bahwa sesudah kelahiran Ishaq, Ismail dan ibunya ditolak dan diusir oleh Ibrahim dengan cara yang paling kejam, hanya karena Sarah menghendaki demikian. Ismail dan ibunya menghilang di padang pasir, sebuah mata air memancar keluar ketika anak muda ini pada titik kematian karena kehausan; beliau meminumnya dan terselamatkan. Tak ada berita apapun lagi tentang Ismail dalam Genesis kecuali bahwa ia mengawini seorang wanita Mesir, dan ketika Ibrahim wafat beliau hadir bersama dengan Ishaq untuk menguburkan ayahnya yang wafat.
      Dan selanjutnya Genesis menceriterakan tentang Ishaq dan dua orang anak laki-lakinya, dan perginya Yakub ke Mesir, dan berakhir dengan kematian Yusuf.
      Peristiwa penting lainya dalam sejarah Ibrahim sebagaimana ditulis dalam Genesis (xxii,) adalah "putra tunggalnya" yang dijadikan korban bagi Tuhan, tetapi ia digantikan dengan seekor kambing jantan yang diberikan oleh malaikat. Sebagaimana Al Qur'an menyebutkannya: "Sesungguhnya itulah cobaan yang nyata" bagi Ibrahim (QS ash-Shafat 37:106) namun cintanya kepada Tuhan melampaui segala kasih sayang lainnya, "Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai temannya" (Al Qur'an)
      Demikianlah ceritera singkat tentang Ibrahim dalam hubungannya dengan pokok pembicaraan kita "Hak berdasarkan kelahiran dan Perjanjian Allah dengan nabi Ibrahim".
      Ada tiga hal yang menonjol yang setiap orang beriman yang sesungguhnya kepada Tuhan menerimanya sebagai kebenaran. Hal pertama adalah bahwa Ismail adalah anak sah dari Ibrahim, anaknya yang pertama lahir, dan karena itu tuntutannya terhadap hak berdasarkan kelahiran adalah adil sekali dan sah.Hal kedua adalah bahwa Perjanjian Allah dengan Ibrahim telah dibuat antara Tuhan dan Nabi Ibrahim dan juga anak laki-laki tunggalnya Ismail sebelum Ishaq dilahirkan. Perjanjian itu dan lembaga khitan tidaklah akan berharga atau berarti kecuali jika janji yang diulang-ulang dalam firman Tuhan: "Melalui dirimu seluruh bangsa di bumi akan diberkati," dan terutama ungkapan, Benih "yang akan keluar dari mangkok, dia akan mewarisimu" (Genesis xv.4). Janji ini terpenuhi ketika Ismail lahir (Genesis xvi.), Dan Ibrahim merasa senang bahwa kepala pembantunya Eliezer tidak lagi akan menjadi pewarisnya.Konsekuensinya adalah kita harus mengakui bahwa Ismail adalah pewaris yang sesungguhnya dan sah atas keluhuran spiritual dan hak istimewa Ibrahim. Perogatif bahwa "melalui Ibrahim seluruh generasi di bumi akan diberkati," begitu sering diulang meskipun dalam bentuk yang berbeda, adalah warisan berdasarkan pada hak kelahiran, dan warisan bagi Ismail. Warisan yang Ismail berhak berdasarkan hak kelahirannya bukan tenda di mana Ibrahim tinggal atau unta tertentu yang biasa dia naiki, tetapi untuk menaklukkan dan menduduki selamanya semua wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai sungai Efrat yang dihuni oleh sekitar sepuluh bangsa yang berbeda (xvii, 18-21). Tanah itu tidak pernah ditundukkan oleh keturunan Ishaq, tetapi oleh keturunan Ismail. Ini adalah pemenuhan secara nyata dan harfiah terhadap satu dari kondisi-kondisi yang ada dalam Perjanjian.
      Hal ketiga adalah bahwa Ishaq juga lahir secara ajaib dan diberkati khusus oleh Yang Maha Kuasa, bahwa untuk kaumnya dijanjikan tanah Kanaan dan dengan sebenarnya telah diduduki mereka di bawah Josua.Tidak seorang Muslim pernah berpikir untuk mengurangi arti posisi suci dan kenabian Ishaq dan putranya Yakub, karena meremehkan atau merendahkan seorang Nabi adalah tidak agamawi. Bila kita bandingkan Ismail dan Ishaq, tidak bisa lain kita harus mengagumi dan menghormati mereka berdua sebagai Utusan suci Tuhan. Sesungguhnya, orang Israel dengan Hukum dan Kitab-Kitab Sucinya, memiliki sejarah keagamaan yang unik dalam Dunia Lama. Sebenarnyalah mereka manusia yang dipilih oleh Tuhan.Meskipun orang Israel telah sering membangkang terhadap Tuhan, dan jatuh ke penyembahan berhala, namun mereka telah memberikan banyak nabi kepada dunia dan orang-orang lurus laki-laki maupun perempuan.
      Sejauh ini tidak dapat ada kontroversi yang sesungguhnya antara keturunan Ismail dan orang-orang Israel.Karena jika dengan "keberkahan" dan "hak berdasarkan kelahiran" itu dimaksudkan hanya beberapa milik material dan kekuasaan, maka pertentangan itu akan telah terselesaikan seperti hal itu telah diselesaikan melalui pedang dan kenyataan yang sudah mapan yaitu pendudukan Tanah Yang Dijanjikan oleh orang Arab. Agaknya ada masalah pertentangan yang mendasar antara dua bangsa yang sekarang keberadaannya hampir empat ribu tahun; dan hal itu adalah masalah Mesiah dan Nabi Muhammad.Bagi orang Yahudi tidak ada pemenuhan ramalan mesiah pada diri Nabi Isa atau pada diri Nabi Muhammad. Orang-orang Yahudi telah selalu iri terhadap Ismail, karena mereka tahu dengan baik bahwa dengan Ismaillah Perjanjian itu dibuat dan dengan dikhitannya Ismail Perjanjian itu telah disempurnakan dan ditutup, dan dari rasa permusuhannyalah bahwa para penulis atau para dokter hukum mereka telah mereduksi makna dan menyisipkan banyak bab-bab dalam Kitab Suci mereka. Menghapus nama "Ismail" dari ayat kedua, keenam, dan ketujuh dari pasal Genesis xxii dan menyisipkan nama "Ishaq" sebagai gantinya, serta membiarkan sebutan "anak tunggalmu" yang berarti mengingkari keberadaan Ismail dan melanggar Perjanjian antara Tuhan dan Ismail. Hal itu secara jelas dinyatakan oleh Tuhan: "Karena engkau telah mengorbankan anak laki-laki tunggalmu, Aku akan menambah dan melipatgandakan keturunanmu seperti banyaknya bintang dan pasir di pantai," yang kata "menggandakan" juga dipakai oleh malaikat kepada Hagar di padang pasir: Aku akan melipatgandakan keturunanmu menjadi tak terhitung, dan bahwa Ismail akan menjadi "orang yang banyak keturunan" (Genesis xv.12). Kini orang Kristen telah menerjemahkan kata yang sama dari bahasa Ibrani, yang juga berarti "subur" atau "banyak" dari kata kerja para - yang sama dengan kata dalam bahasa Arab wefera - dalam versi mereka menjadi "keledai yang jalang"! Tidakkah ini memalukan dan tidak religius menyebut Ismail dengan "keledai binal" yang Tuhan sendiri menyebutnya sebagai subur atau banyak ? Sangat jelas bahwa Kristus sendiri seperti ditulis dalam Injil Barnabas telah tidak menyetujui orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa Utusan Agung yang mereka sebut "almasih" akan datang dari garis keturunan Raja Daud, mengatakan kepada orang-orang Yahudi itu bahwa dia tidak mungkin anak keturunan dari Raja Daud, karena Daud sendiri menyebutnya "Tuannya" dan kemudian menjelaskan lebih lanjut bagaimana nenek moyang mereka telah merubah Kitab-Kitab Suci, dan bahwa Perjanjian itu dibuat bukan dengan Ishaq, tetapi dengan Ismail yang diambil untuk dikorbankan kepada Tuhan, dan bahwa Ismail yang dimaksudkan dalam ungkapan sebagai "anak laki-laki tunggalmu" dan bukan Ishaq. Paul yang mengaku diri pengikut Yesus Kristus mempergunakan beberapa kata yang tidak pantas tentang Hagar (Galatia vi, 21-23 dan di beberapa ayat lainnya) dan Ismail dan terang-terangan bertentangan dengan tuannya (Jesus). Orang ini dengan segala caranya yang dapat dia lakukan berusaha untuk menyimpangkan dan menyesatkan orang-orang Kristen yang sebelumnya biasa dia aniaya sebelum dia pindah agama ke Kristen; dan saya meragukan sekali bahwa Jesusnya Paul adalah Jesus putera Maryam yang menurut tradisi Kristen digantung pada sebuah pohon kira -kira satu abad sebelum Kristus, karena kepalsuan almasihnya. Pada kenyataannya Paul sipengikut sebagaimana dia di hadapan kita adalah penuh dengan doktrin yang bertentangan baik dengan semangat dari Perjanjian Lama maupun dengan ajaran Nabi yang sederhana Jesus dari Nazareth. Paul adalah seorang Pharisee yang bias dan seorang ahli hukum. Sesudah dia pindah agama ke Kristen tampaknya dia menjadi lebih fanatik dari sebelumnya.Kebenciannya terhadap Ismail dan claimnya atas hak berdasarkan kelahiran membuat Paul lupa atau mengabaikan Hukum Musa yang melarang seseorang untuk menikahi saudara perempuannya sendiri di bawah ancaman siksa hukuman utama. Kalau Paul mendapat inspirasi dari Tuhan, maka dia akan membantah kitab Genesis sebagai penuh dengan kepalsuan ketika Genesis mengatakan sebanyak 2 kali (Genesis xii. 10-20 dan xx. 2-18) bahwa Ibrahim adalah suami dari saudara perempuannya sendiri, atau bahwa dia akan menyatakan bahwa Nabi adalah seorang pendusta! (Tuhan melarang). Namun Paul mempercayai kata-kata Kitab itu, dan kesadarannya tidak menyiksanya sedikitpun ketika dia melukiskan Hagar sebagai gurun Sinai yang tandus dan menggambarkan Sarah sebagai Jeruzalem di langit! (Galatia iv. 25-26). Pernahkah Paulus membaca anatema dari Torah:
      "Terkutuklah barang siapa yang tidur dengan saudara perempuannya, putri ayahnya, atau putri ibunya. Dan semua orang berkata: Amin"? (Deuteronomy xxvii. 22).
      Apakah hukum manusia atau hukum suci yang akan menganggap lebih sah seseorang yang adalah anak laki-laki pamannya dan bibinya sendiri dari dia yang ayahnya seorang dari Kaldea dan ibunya dari Mesir?Apakah sesuatu yang akan Anda katakan yang bertentangan dengan Hagar yang lurus dan religius? tentu saja tidak, karena dia adalah isteri Nabi dan ibu dari seorang Nabi, dan dia sendiri mendapat kehormatan menerima wahyu Illahi.
      Tuhan yang telah membuat perjanjian dengan Ismail telah pula memberikan aturan tentang hukum kewarisan, yaitu: Bila seorang laki-laki memiliki dua orang istri, yang seorang dicintainya dan yang lain diabaikan, dan masing-masing memiliki seorang anak laki-laki, dan bila anak laki -laki dari istri yang diabaikan itu yang pertama lahir, maka anak laki-laki itu, dan bukan anak laki-laki dari istri yang dicintai, yang berhak menyandang hak berdasarkan kelahiran. Dengan sendirinya yang pertama lahir akan mewarisi dua kali dari saudara laki-lakinya (Deuteronomy xxi. 15-17). Tidakkah hukum ini cukup jelas untuk membungkam semua mereka yang mempermasalahkan klaim yang adil dari Ismail mengenai hak berdasarkan kelahiran?
      Sekarang marilah kita bicarakan masalah hak berdasarkan kelahiran ini sesingkat yang dapat kita lakukan.Kita mengetahui bahwa Ibrahim adalah seorang kepala nomad dan juga seorang Nabi Tuhan, dan beliau biasa hidup di dalam sebuah tenda dan memiliki sejumlah besar ternak dan kekayaan yang banyak. Orang-orang nomaden ini tidak mewarisi tanah dan daerah gembalaan, tetapi pangeran itu menentukan untuk masing-masing anak laki-lakinya beberapa klan atau suku bangsa tertentu sebagai kawulanya dan warganya. Aturannya adalah yang termuda mewarisi perapian dari tenda orang tuanya, sementara yang lebih tua, kecuali bila tidak cepat, menggantikannya di kursi kepemimpinan. Jenghiz Khan penakluk agung dari Mongol diganti oleh Oghtai, anak laki-lakinya yang tertua, yang memerintah di Pekin sebagai Khaqan, tetapi anak laki-lakinya yang termuda tetap tinggal bersama perapian ayahnya di Qaraqorum di Mongolia.Hal yang sama terjadi pada dua anak laki-laki Ibrahim pula. Ishaq, yang termuda di antara keduanya, mewarisi tenda ayahnya dan menjadi seperti ayahnya, seorang nomad yang hidup di tenda-tenda. Namun Ismail dikirim ke Hijaz untuk menjaga Rumah Tuhan yang bersama dengan Ibrahim telah dibangunnya sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an. Di sinilah ia menetap, menjadi Nabi dan pangeran di antara suku-suku bangsa Arab yang mempercayainya. Di Mekka atau Bekka itulah Ka'aba menjadi pusat dari ibadah yang disebut haji. Ismail itulah yang telah membangun agama yang sebenarnya berTuhan Satu dan telah pula melembagakan khitan.
      Keturunannya segera bertambah dan berlipat ganda sebanyak bintang di langit. Dari sejak saat awal Nabi Ismail hingga kebangkitan Nabi Muhammad, orang-orang Arab dari Hijaz, Yemen dan lain-lainnya adalah orang-orang merdeka dan tuan di negerinya sendiri. Pemerintah Roma dan Persia tidak berdaya untuk menaklukkan bangsa Ismail. Meskipun kemudian penyembahan berhala diperkenalkan, namun nama Allah, Ibrahim, Ismail dan beberapa nama Nabi lainnya tidaklah mereka lupakan. Bahkan Esau, anak tertua Ishaq, meninggalkan perapian ayahnya karena saudara laki-lakinya Yakub dan menetap di Edom, di mana dia menjadi ketua dari orang-orangnya dan segera bercampur baur dengan orang-orang Arab Ismail yang adalah baik sebagai pamannya maupun mertuanya. Ceritera tentang Esau menjual hak berdasarkan kelahirannya kepada Yakub untuk ditukar dengan sepiring pottage adalah tipu daya yang dicantumkan untuk membenarkan perlakuan buruk terhadap Ismail. Dikatakan bahwa "Tuhan membenci Esau dan mencintai Yakub ketika kembar dua ini masih dalam kandungan ibunya; dan bahwa" saudara yang lebih tua akan melayani adiknya "(Genesis xxv. Romawi ix.12-13). Namun aneh untuk mengatakannya, tulisan lain mungkin dari sumber lain, menunjukkan bahwa masalah itu justru adalah kebalikan dari ramalan itu. Karena dalam pasal 33 Genesis jelas mengakui bahwa Yakub melayani Esau, di hadapannya Yakub sujud tujuh kali dan mengatakan: "Tuanku" dan menyatakan dirinya sebagai "budakmu".
      Dicatat juga dalam Injil bahwa Ibrahim memiliki beberapa anak laki-laki lainnya dari Keturah dan selir-selir, kepada siapa ia memberikan hadiah atau pemberian dan mengirimkannya ke Timur. Semua ini menjadi suku bangsa yang besar dan kuat. Dua belas anak laki-laki Ismail disebutkan namanya dan di gambarkan masing-masing menjadi pangeran dengan kota dan kelompoknya atau tentaranya sendiri-sendiri (Genesis xxv.). Demikian pula anak-anak Keturah, dan lain-lainnya, dan begitu juga keturunan Esau disebutkan nama-namanya.
      Bila kita perhatikan jumlah keluarga Yakub ketika dia pergi ke Mesir yang hampir tidak melebihi tujuh puluh orang, dan ketika dia disambut oleh Esau dengan kontrol sebanyak empat ratus pasukan berkuda yang bersenjata, dan suku-suku bangsa Arab yang kuat di bawah dua belas Amir dari keluarga Ismail, dan ketika Utusan Allah yang terakhir memproklamirkan agama Islam, semua suku bangsa Arab secara serempak menyambutnya dan menerima agamaNya dan menyerahkan seluruh tanah yang dijanjikan kepada keturunan Nabi Ibrahim, pastilah kita buta bila tidak melihat bahwa Perjanjian itu telah dibuat dengan Ismail dan janji itu telah terpenuhi dalam diri pribadi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
      Sebelum mengakhiri artikel ini saya ingin meminta perhatian dari para siswa Injil, terutama mereka dari "HigherBiblical Criticism" mengenai kenyataan bahwa apa yang disebut sebagai Ramalan dan Pasal-Pasal tentang Al Masih termasuk dalam suatu propaganda yang menguntungkan Dinasti David sesudah kematian raja Suleiman ketika kerajaannya terbagi menjadi dua. Kedua Nabi besar Ilyas dan Elisha yang berkembang dengan baik (ajarannya) di kerajaan Samaria atau Israel bahkan tidak menyebut nama Daud atau Suleiman. Jeruzalem sudah bukan lagi pusat agama untuk sepuluh suku bangsa dan tuntutan Daud untuk berkuasa terus ditolak.
      Namun nabi Yesaya dan lain-lainnya yang terikat dengan Kuil di Jeruzalem dan Rumah Daud telah meramalkan kedatangan Nabi Besar dan berdaulat.
      Seperti telah disebutkan dalam artikel pertama, ada beberapa tanda-tanda yang tampak dengan mana Nabi Terakhir yang akan datang dapat dikenali. Tanda-tanda inilah yang akan kita coba untuk mempelajarinya dalam artikel berikut.
      Bab 3
      MISTERI TENTANG "MISPA"
      Seperti ditunjukkan judul artikel ini saya akan mencoba untuk memberikan peragaan tentang budaya batu dari orang Ibrani Kuno yang mereka warisi dari Ibrahim, nenek moyang mereka, dan untuk menunjukkan bahwa budaya batu ini telah dilembagakan di Mekkah oleh Patriarch Ibrahim dan anak laki-lakinya Ismail; di tanah Kanaan oleh Ishaq dan Yakub; di Moab dan tempat lainnya oleh keturunan Ibrahim yang lain.
      Istilah "Budaya Batu" bukan dimaksudkan sebagai pemujaan terhadap batu yang adalah penyembahan berhala; budaya batu ini saya pahami sebagai pemujaan kepada Tuhan pada suatu batu khusus yang telah diberkati untuk maksud tersebut. Pada masa itu ketika bangsa terpilih (Isarel) ini menjalani kehidupan sebagai nomad dan penggembala, mereka tidak memiliki habitat yang tetap untuk mendirikan rumah yang khusus ditujukan untuk pemujaan Tuhan; biasanya mereka mendirikan sebuah batu di sekitar mana mereka biasa melakukan ritual haji, yaitu mengelilingi batu itu tujuh kali dalam bentuk lingkaran tarian (semacam tawaf-pent.). Kata haji mungkin menakutkan pembaca yang beragama Kristen dan mungkin mereka berkerut melihatnya karena bentuk Arabnya dan karena upacara ini telah menjadi ritual ummat Islam saat ini. Kata haji adalah persis sama dalam arti dan etimologi dengan kata yang sama dalam bahasa Ibrani dan Semit lainnya. Kata Ibrani "hagag" adalah sama dengan hajaj dalam bahasa Arab, perbedaannya hanya terletak pada pengucapan huruf ketiga dari alfabet bahasa Semit "gamal" yang orang Arab mengucapkannya sebagai "j". Kitab Hukum Moses (Torah) mempergunakan kata hagag atau haghagh ini 1) jika memerintahkan untuk melaksanakan upacara festival ini .. Kata itu menandakan untuk mengitari sebuah bangunan atau altar atau sebuah batu dengan cara berlari mengelilinginya dengan langkah teratur dan terlatih dengan tujuan melaksanakan perayaan agama dengan bergembira dan nyanyian (do'a). Di Timur ummat Kristen masih mempraktekkan apa yang mereka sebut "higga" baik di hari-hari pesta atau perkawinan mereka. Dengan sendirinya kata ini tidak memiliki hubungan apapun dengan pilgrimage atau upacara haji (ummat Islam), yang berasal dari kata bahasa Italia Pellegrino, dan ini juga dari bahasa Latin Peregrinus yang berarti "orang asing" (foreigner).
      Selama dalam kunjungannya Ibrahim biasanya mendirikan sebuah altar untuk pemujaan dan korban pada beberapa tempat yang berbeda dan pada peristiwa-peristiwa tertentu. Ketika Yakub dalam perjalanan menuju Padan Aram dan melihat visi tangga yang indah itu beliau mendirikan sebuah batu di situ, ke atas mana beliau menuangkan minyak dan menyebutnya Bethel, yaitu Rumah Tuhan., Dan dua puluh tahun kemudian beliau mengunjungi batu itu kembali, ke atas mana beliau menuangkan minyak dan "anggur asli", seperti tertulis dalam Genesis XXVIII. 10 - 22; XXXV. Sebuah batu khusus didirikan sebagai monumen oleh Yakub dan ayah mertuanya di atas setumpuk batu dan menyebutnya Gal'ead dalam bahasa Ibrani, dan Yaghar sahdutha by Laban dalam bahasa Aram, yang berarti "sejumlah kesaksian". Namun nama yang pantas yang mereka berikan pada batu yang didirikan itu adalah " Mispa "(Genesis XXXI. 45 - 55), yang saya lebih senang untuk menuliskannya dalam bentuk tepat bahasa Arabnya, Mispha, dan ini saya lakukan begitu untuk kepentingan pembaca yang beragama Islam .
      Mispha ini kemudian menjadi tempat pemujaan yang sangat penting, dan pusat dari pertemuan nasional dalam sejarah bangsa Israel. Di sinilah Naphthah, seorang pahlawan Yahudi, bersumpah "di hadapah Tuhan" dan setelah mengalahkan bangsa Ammonit, dia diceriterakan sebagai telah mengorbankan anak perempuan satu-satunya sebagai korban bakaran (Hakim-Hakim xi). Di Mispha itulah bahwa empat ratus ribu orang bersenjata dari sebelas suku Israel berkumpul dan "bersumpah di hadapan Tuhan" untuk memusnahkan suku bangsa Benjamin untuk kejahatan yang dibenci yang telah dilakukan oleh seorang bangsa Benjamin dari Geba 'dan berhasil (Hakim-Hakim xx. Xxi .). Nabi Samuel mengundang semua orang ke Mispha di mana mereka "bersumpah di hadapan Tuhan" untuk menghancurkan semua patung dan gambar mereka, dan kemudian diselamatkan dari tangan orang Filistin (1 Samuel vii). Di sinilah orang berkumpul dan Saul dinobatkan jadi Raja atas orang Israel (1 Samuel x). Dengan singkat, setiap masalah nasional yang penting diputuskan di Mispha atau di Bethel. Tampaknya kuil ini dibangun di atas tempat yang tinggi atau tempat yang ditinggikan, sering disebut Ramoth, yang berarti "tempat yang tinggi".Bahkan setelah Kuil Suleiman yang indah dibangun, Mispha tetap sangat dihormati. tetapi seperti halnya Ka 'aba di Mekkah, Mispha ini sering diisi dengan patung dan gambar-gambar. Sesudah penghancuran Jeruzalem dan Kuil oleh orang Kaldea, Mispha itu masih tetap memiliki sifat sucinya hingga saat kaum Makabi selama pemerintah Raja Antiochus. (2)
      Sekarang apa arti kata Mispa itu? Biasanya kata itu diterjemahkan sebagai "menara pengawas". Kata ini termasuk kata benda dalam bahasa Semit - Asma zarf - yang mengambil nama mereka dari benda yang dibungkus atau dicakupnya. Mispa adalah tempat atau bangunan yang mengambil namanya dari sapha , kata bahasa kuno untuk "batu". Kata biasa untuk batu dalam bahasa Ibrani adalah "Iben", dan dalam bahasa Arab "hajar". Dalam bahasa Syria batu adalah "kipa". Tetapi safa atau sapha tampaknya menjadi bahasa yang umum bagi mereka semua untuk suatu obyek atau pribadi tertentu bila itu dianggapnya sebagai "batu". Dari hal ini maka Mispa berarti lokal atau tempat di mana sapha atau batu itu terletak dan terpasang. Akan kita lihat kapan nama Mispa ini untuk pertama kalinya diberikan kepada batu yang didirikan di atas tumpukan balok batu, di situ tidak ada bangunan yang mengitarinya. Itu adalah spot atau tempat di mana sapha itu terletak, dan itu disebut Mispa.
      Sebelum menjelaskan arti dari kata benda sapha saya ingin meminta kesabaran para pembaca yang tidak mengenal bahasa Ibrani. Bahasa Arab tidak memiliki bunyi huruf "p" dalam alfabetnya sebagaimana juga dalam bahasa Ibrani dan bahasa Semit lainnya, di mana huruf "p", seperti halnya "g", kadang kala lunak dan diucapkan seperti "f" atau "ph". Dalam bahasa Inggris sebagai aturan, kata-kata dalam bahasa Semit atau Yunani yang berisi bunyi "f" ditransliterasikan (dipindah hurufkan) dan ditulis dengan sisipan "ph" dan bukan "f", misalnya: Seraph, Mustapha, dan Philosophy. Sesuai dengan aturan inilah saya lebih menyukai menulis kata sapha dari safa.
      Ketika Yesus Kristus memberikan nama panggilan kepada pengikut pertamanya Shim'on (Simon) dengan gelar yang berarti "Petros" (Peter), pastilah dalam benak beliau tersirat sapha yang kuno dan suci yang telah lama hilang! Tapi, sayang! kita tidak dapat dengan pasti menguraikan kata yang tepat yang beliau nyatakan dalam bahasanya sendiri. Dalam bahasa Yunani kata Petros dalam kasus maskulin - Petra dalam kasus feminin - adalah begitu tidak klasikal dan tidak berbau Yunani, yang orang menjadi sangat heran bahwa gereja mengadopsi kata itu. Pernahkah Jesus atau orang Yahudi lainnya bermimpi untuk memanggil nelayan Bar Yona, Petros? Pastilah tidak. Versi bahasa Syria adalah Pshitta seringkali membuat bentuk bahasa Yunani ini dengan Kipha (Kipa). Dan kenyataan baku bahwa bahkan teks bahasa Yunani telah melestarikan nama asli "Kephas," yang versi bahasa Inggris mereproduksinya dalam bentuk "Cephas", menunjukkan bahwa Kristus berbicara dalam bahasa Aram dan memberi nama panggilan "Kipha" kepada pengikut utamanya.
      Versi lama bahasa Arab untuk Perjanjian Lama seringkali menulis nama St Peter dengan "Sham'un 'as-Sapha"; yaitu "Simon the Stone". Kata-kata Kristus: "Thou art Peter", dsb. padanan (ekivalen) dalam versi bahasa Arab adalah "Antas-Sapha" (Matius xi. 18; Yohanes i. 42, dsb.).
      Karena itu bila Simon itu adalah Sapha, gereja yang akan dibangun di atasnya tentulah menjadi Mispha.Bahwa Kristen harus membandingkan Simon dengan Sapha dan Gereja dengan Mispha adalah sangat istimewa; namun bila tiba saatnya saya membuka tabir misteri yang tersembunyi dalam kesamaan ini dan kebijakan yang terkait dalam Sapha, maka haruslah diterima sebagai suatu kebenaran yang ajaib dari kehebatan Nabi Muhammad atas gelarnya yang mulia: MUSTAPHA !
      Dari apa yang telah diungkapkan di atas, keinginan untuk tahu kita dengan sendirinya akan menyebabkan kita untuk bertanya tentang hal-hal berikut:
      1. Mengapa ummat Islam dan Kristen Unitarian keturunan Nabi Ibrahim memilih batu untuk melaksanakan upacara keagamaan pada atau sekitar batu itu?
      2. Mengapa batu istimewa ini disebut Sapha?
      3. Apa yang akan dituju oleh si penulis? Dan seterusnya - mungkin beberapa pertanyaan lainnya
      Batu itu telah dipilih sebagai sebuah benda yang paling sesuai pada mana seseorang yang patuh pada agamanya menempatkan korbannya, menuangkan minyak murni dan anggurnya 3) dan melaksanakan upacara keagamaannya di sekitar batu itu. Lebih dari itu, batu ini didirikan untuk memperingati ikrar dan janji-janji tertentu yang telah dibuat oleh seorang Nabi atau orang yang lurus dalam agamanya kepada Penciptanya, dan wahyu yang diterima dari Tuhan. Dengan begitu, batu itu adalah monumen suci untuk mengabadikan kenangan dan karakter suci dari peristiwa keagamaan yang besar. Untuk maksud tersebut, kiranya tidak ada benda lain yang melebihi batu. Bukan saja batu itu kuat dan tahan lama yang membuat batu itu lebih sesuai untuk maksud tersebut, tetapi juga kesahajaannya, kemurahannya, tidak bernilainya pada suatu tempat sunyi akan menjamin terhindar dari perhatian orang yang tamak atau yang membenci untuk mencuri atau merusaknya. Seperti telah diketahui dengan baik, Hukum Musa (Taurat) melarang dengan keras untuk memotong atau memahat batu-batu altar. Batu yang disebut Sapha mutlak dibiarkan tetap dalam kondisi aslinya: tidak ada gambar-gambar, tulisan, atau ukiran yang dicetak di atasnya, agar salah satu darinya tidak akan dipuja di masa mendatang oleh orang-orang yang bodoh. Emas, besi, perak atau logam lainnya tidak dapat memenuhi semua kualitas yang diperlukan oleh sebuah batu yang sederhana. Karena itu akan dimengerti bahwa benda yang paling murni, paling tahan lama, dapat diterima dan paling aman untuk sebuah monumen agama dan suci tidak bisa lain kecuali batu.
      Patung perunggu Jupiter disembah oleh Pontifex Maximus Roma yang kafir, diambil dari Pantheon dan dicor kembali menjadi gambar St Peter atas perintah Souvereign Pointiff Kristen; sesungguhnyalah kebijakan yang terangkum dalam Sapha mengagumkan dan berharga bagi semua mereka yang tidak menyembah obyek apapun di samping Tuhan.
      Juga harus diingat, bukan saja Sapha yang didirikan itu sebagai monumen suci, tetapi demikian juga tempat yang khusus dan sirkuit di mana Sapha itu terletak. Dan untuk alasan inilah bahwa upacara haji bagi Muslim, seperti halnya higga bagi orang Yahudi, dilakukan di sekitar bangunan di mana Batu Suci itu terletak. Adalah suatu kenyataan yang diketahui bahwa orang Karamati yang mengambil Batu Hitam dari Ka'aba dan menyimpannya di negerinya sendiri selama dua puluh tahun, diwajibkan untuk membawa dan meletakkannya kembali pada tempatnya semula karena mereka tidak dapat menarik jamaah haji dari Mekkah. Kalau saja batu itu emas atau obyek lain yang bernilai, pastilah sudah tidak ada lagi paling kurang selama lima ribu tahun; atau kalau seandainya batu itu memiliki pahatan atau ukiran atau gambar, pastilah Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam sendiri sudah membinasakannya.
      Tentang arti atau lebih baik banyak arti dari Sapha, sudah saya tunjukkan bahwa itu menunjuk pada berbagai mutu yang dimiliki batu itu.
      Kata itu terdiri atas huruf hidup "sadi" (shad) dan "pi" berakhir dengan bunyi "hi" keduanya sebagai kata kerja dan kata benda. Dalam bentuk "qal" itu berarti "mensucikan" "memperhatikan, menatap dari kejauhan, dan memilih". Kata itu juga memiliki arti "bersikap tegas dan mantap"; dalam paradigma pi'el (?) Yang adalah kausatif, itu berarti "membuat pilihan, menyebabkan untuk memilih," dan sebagainya.
      Seseorang yang memandang dari sebuah menara disebut Sophi (2 Raja-Raja ix. 17, dst). Di zaman dulu sebelum kuil Suleiman dibangun, Nabi atau "Orang (nya) Tuhan" disebut Roi atau Hozi yang berarti "penglihat" (1 Samuel ix. 9). Tentu saja para sarjana Ibrani sangat mengenal dengan kata Msaphpi, atau lebih baik Msappi, yang merupakan kesamaan dalam ortografi bahasa Arab musaphphi, yang berarti:"seorang yang berusaha untuk memilih yang murni, mantap dan tegas," dsb. Pengawas di Menara Yisrael seperti tersebut di atas, memandang dan mengawasi dengan tajam dari kejauhan untuk membedakan sekelompok orang yang datang menuju kota. Dia melihat utusan pertama dari Raja yang datang dan bergabung dengan kelompok itu tetapi tidak kembali. Hal yang sama terjadi dengan utusan kedua dan ketiga. Barulah kemudian bahwa Sophi itu dapat mengenali Ketua dari kelompok itu sebagai Jehu. Nah, apa gerangan kegiatan dan kerja pengawas atau pengamat ini? Pekerjaannya adalah mengawasi dengan tajam dari kejauhan untuk mengenali satu di antara yang lainnya dengan tujuan untuk mengetahui identitas dan gerakannya, bila saja mungkin, dan kemudian memberi tahukan kepada Raja. Jika Anda bertanya: Apa kegiatan dan pekerjaan Sophi dari Mispha yang seorang diri itu? Jawaban berikut ini pasti tidak akan memuaskan seorang peneliti yang memiliki keinginan tahu yang besar: "... dia biasa mengawasi dari minaret Misppha (Mispa) agar dapat mengenali identitas orang yang datang di padang pasir, atau dia biasa mengawasi kemungkinan adanya bahaya." Bila demikian, sifat keagamaan serta suci dari Misppha itu akan hilang, dan mungkin lebih akan berfungsi sebagai menara pengawas militer. Tetapi masalah Sophi dari Mispha berbeda sekali. Asal mulanya Mispha hanyalah sebuah kuil sederhana pada suatu tempat tinggi yang terpisah di Gal'ead di mana Sophi dengan keluarganya atau pembantu-pembantunya biasa bertempat tinggal. Setelah penaklukan dan pendudukan tanah Kanaan oleh Israel, jumlah Mispha itu meningkat dan segera saja Mispha itu menjadi pusat keagamaan yang besar dan berkembang menjadi lembaga pendidikan dan konfraternitas. Tampaknya pusat-pusat itu menjadi seperti Mevlevi, Bektashi, Neqshbendi dan konfraternitas lainnya yang ada pada orang Islam, masing-masing ada di bawah Sheik dan Murshidnya sendiri. Mereka memiliki sekolah-sekolah yang ada di bawah naungan Mispha di mana diajarkan Hukum Musa, agama, sastra Ibrani dan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya. Namun pada kegiatan pendidikan ini, Sophi adalah kepala tertinggi dari mayarakat pemula yang biasa dia beri perintah dan ajar tentang agama yang esoterik dan mistik yang kita ketahui disebut Sophia. Sesungguhnyalah apa yang kita sebut kini dengan sufi pada waktu itu disebut nbiyim atau "Prophets" (nabi), dan apa yang dalam Islam disebut takkas, zikr atau seruan do'a, mereka sebut dengan "prophesying" (nubuah). Pada zaman Nabi Samuel yang juga sebagai kepala negara dan lembaga Mispha, para pengikut dan pemula itu menjadi sangat banyak; dan ketika Saul diminyaki (upacara keagamaan) dan dimahkotai sebagai raja, dia ikut zikr atau kegiatan keagamaan menyerukan do'a bersama dengan para pemula dan diumumkan dimana-mana: "Perhatikanlah, Saul juga ada di antara para Nabi." Dan ungkapan ini menjadi peribahasa; karena dia juga ikut "prohesying" dengan kelompok para nabi itu (1Samuel x. 9-13). Persufian di antara orang-orang Ibrani berlanjut terus menjadi konfraternitas keagamaan yang esoterik di bawah kekuasaan Nabi waktu itu hingga wafatnya raja Suleiman. Sesudah pemerintah pecah menjadi dua bagian, ternyata perpecahan besar terjadi juga di antara para sufi. Di zaman Nabi Ilyas kira-kira 900 tahun sebelum Isa, dikatakan kepada kita bahwa beliau adalah satu-satunya Nabi yang sejati yang masih tertinggal dan bahwa semua yang lainnya telah tewas terbunuh; dan ada delapan ratus lima puluh nabi Baal dan Ishra yang ikut "makan di meja Ratu Izabel "(1 Raja-Raja xviii. 19). Namun hanya beberapa tahun kemudian, pengikut Nabi Ilyas dan penggantinya Nabi Elisha, telah disambut di Bethel dan Jericho oleh puluhan "anak-anak Nabi" yang meramalkan kenaikan nabi Ilyas dalam waktu dekat (2 Raja-raja ii.)
      Apapun posisi sesungguhnya para Sufi Ibrani sesudah terjadinya perpecahan besar agama dan bangsa, satu hal adalah pasti, yaitu bahwa pengetahun sejati tentang Tuhan dan ilmu pengetahuan agama yang esoterik tetap terpelihara hingga kedatangan Yesus Kristus, yang membangun masyarakat pemulanya di dalam "kalangan dalam agama" ( Inner Religion) pada Simon the Sapha, dan bahwa para Sophi sejati atau para pengawas, penglihat atau pengamat dari Mispha Kristen melestarikan pengetahuan itu dan mengawasinya sampai kedatangan Pilihan Allah, Nabi Muhammad al-Mustapha - atau Mustaphi dalam bahasa Ibrani!
      Seperti saya katakan di atas, Injil menyebut banyak nama para nabi yang terkait dengan Mispha; namun kita harus benar-benar mengerti bahwa sebagaimana dengan jelas Al Qur'an menyatakannya: "Tuhan Yang Paling Mengetahui siapa yang akan Dia angkat menjadi UtusanNya" bahwa Dia tidak memberikan hadiah ramalan kepada seseorang dengan sebab untuk kemuliaannya, kekayaannya, atau bahkan kealimannya, namun semata-mata hanya untuk kesenangannya (keridhoannya-pen.). Keyakinan dan semua kegiatan keagamaan, meditasi, latihan spiritual, doa, puasa, dan ilmu pengetahuan suci mungkin menyebabkan timbulnya seorang baru menjadi murshid atau pembimbing spiritual, atau sampai pada tingkat santo (orang suci), tetapi tidak akan pernah sampai pada tingkat nabi; karena kenabian bukanlah dicapai dengan melalui upaya, tetapi adalah sebuah pemberian Tuhan. Bahkan di antara para Nabi hanya ada beberapa saja yang adalah Utusan (Rasul) yang diberi kitab suci khusus dan diperintahkan untuk memberi petunjuk dan peringatan kepada ummat tertentu atau dengan misi khusus. Karena itu istilah "nabi" seperti dipergunakan dalam Kitab Suci orang Ibrani seringkali adalah bermakna ganda (lebih dari satu).
      Saya juga harus mencatat dalam hubungan ini bahwa mungkin sebagian besar dari materi Injil adalah karya atau produksi dari Mispha-Mispha ini sebelum Penangkapan Babilon atau bahkan mungkin sebelumnya, tetapi kemudian direvisi oleh tangan-tangan yang tidak diketahui siapa punya hingga menjadi dalam bentuknya seperti kita kenal sekarang.
      Nah sekarang tinggal beberapa kata lagi untuk dikatakan tentang Sufiisme orang Muslim dan kata bahasa Yunani "Sophia" (kebijakan atau cinta akan kebijakan); dan suatu diskusi tentang dua sistim pengetahuan tinggi ini terletak di luar ruang lingkup artikel ini. Dalam pengertian luas, filosofi adalah suatu studi atau ilmu pengetahuan tentang prinsip utama tentang "ada"; dengan perkataan lain filosofi itu melampaui batas dari fisik ke studi tentang "ada yang murni". dan meninggalkan studi tentang sebab musabab atau hukum dari apa yang terjadi atau dilihat di dalam alam sebagai sedang mencoba untuk menggapai metafisik yang berhubungan dengan keyakinan, etika dan hukum yang kini dikenal sebagai aspek spiritual dari peradaban, sedang fisik itu dianggap sebagai aspek materi dari peradaban. Karenanya sulit sekali untuk menemukan kebenaran.
      Perbedaan antara kata bahasa Yunani "Sophia" dan Sufi Muslim ialah bahwa orang Yunani itu telah mencampur adukkan bidang materialistik dan spiritual dan pada saat yang bersamaan mereka gagal untuk menerima wahyu seperti diakui oleh filosof utama mereka Aristotle dan Socrates bahwa berhubungan dengan metafisik tanpa adanya wahyu dari Sang Pencipta seperti menyeberangi samudera di atas sebatang kayu! Sedang Sufi orang Muslim yang beruntung mengkonsentrasikan diri dalam bidang etika dan mengikuti jejak Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dalam mendisiplinkan hati seseorang dan diri sendiri dalam berlayar untuk menggapai Kumpulan Tinggi Para Malaikat dan sebagainya.
      Sufiisme orang Muslim adalah kontemplasi tentang karya Allah dan ciptaannya dan diri sendiri, dan menghindarkan diri dari kontemplasi tentang Allah Sendiri, karena manusia itu dibuat dari lingkungannya, dan selekas dia akan mempergunakan panca inderanya untuk melukiskan Allah, maka akan menjadi sangat berbahaya seperti halnya terjadi dengan orang Mesir ketika mereka melukiskan Sphinx yang memiliki kepala, cakar, tubuh, dll.
      Keunggulan Sophia Islam daripada filosofi Yunani adalah pernyataan (manifestasi) dari obyek yang dilihat.Dan dengan pasti Sophia Islam itu lebih unggul dari selibasi dalam agama Kristen dan religiositas (monastik) dalam ketidak pekaannya terhadap kesadaran dan kepercayaan orang lain. Seorang Sufi Muslim selalu menawarkan hormat terhadap agama lain, menertawakan gagasan "Heresy" dan mencela semua pengejaran dan penindasan (persecution and oppression). Sebagian besar orang suci (santo) Kristen adalah kalau bukan persekutor maka dia adalah orang yang terkena persekusi karena "Heresy", dan mereka terkenal karena ketidak toleransian mereka. Sayang, tetapi itulah kebenarannya.
      Juga bermanfaat untuk dicatat bahwa dalam abad awal Islam, para Sufi Muslim disebut dengan "Zahid" atau "Zohad" dan pada saat itu mereka tidak memiliki metodologi, tetapi mereka memiliki fraternitas atau komunitas kepercayaan dan jurisprudensi yang lengkap bagi mazhabnya. Mereka berkonsentrasi pada etika dan pemikiran. Generasi berikutnya membuat metodologi pelajaran untuk para pemula, menengah (intermediate) dan yang sudah lanjut (the advanced) berdasarkan Al Qur'an dan Hadits Nabi (Prophetic Quotations). Jelas bahwa rektisi setiap hari atas Al Qur'an, penghafalan Asma'al-Husna dan do'a bagi Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersama dengan permohonan ampun kepada Allah dan shalat tahajud, puasa di siang hari adalah beberapa dari karakteristik yang penting . Pada pihak lain, para Sufi Muslim yang otentik menolak setiap anggota yang tidak jujur ​​dan tulus yang gagal untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad. Harus diakui, banyak orang bodoh telah termakan, dengan berpikir bahwa kasus ketidak tulusan itu adalah mewakili Sufiisme Muslim. Mereka tidak bisa mengerti bahwa Ihsan yang adalah sepertiga dari agama seperti ditunjukkan dalam jawaban Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam atas pertanyaan: "Apakah Islam itu?", "Apakah Iman itu?" dan "Apakah Ihsan itu?", ketika Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda bahwa orang yang bertanya itu ialah malaikat Jibril, dan bahwa beliau datang untuk mengajar agama kepadamu. Demikian juga, Islam itu dilayani oleh empat mazhab jurisprudensi (fikih), sedang Iman oleh mazhab kepercayaan seperti Salaf dan Ashariah, dan tentu saja Sufi dilayani oleh Ihsan. Bila seseorang meragukan hal ini, biarlah dia menyebutkan pakar-pakar Ihsan, karena bila anda pergi ke Pengadilan Islam yang termasuk dalam seksi Islam, atau pergi ke mazhab Kepercayaan dan mengaku bahwa ada iri hati dan dengki dalam hatinya dsb. sebagai penyakit dari jiwa, kedua mazhab itu akan mengakui bahwa mereka tidak memiliki sangkut paut dengan aspek itu dan akan merujuknya ke ahli ibadah, atau seorang Sufi, Sheik.
      Sebagai catatan kedua saya ingin menambahkan bahwa para penulis Muslim selalu menuliskan kata bahasa Yunani "philosophy" dalam bentuk filsafat dengan huruf "sin" dan bukan huruf "shad" atau "Thad" yang adalah satu dari huruf-huruf yang membentuk kata dalam bahasa Ibrani dan Arab Sapha dan Sophi.Saya kira bentuk ini dimasukkan ke dalam literatur bahasa Arab oleh penerjemah dari Asiria yang sebelumnya termasuk dalam sekte Nestorian. Orang Turki menuliskan Santo Sofia dari Istambul dengan huruf shad, tetapi falsafah dengan huruf sin seperti halnya samekh dalam bahasa Ibrani. Saya yakin bahwa Sophia dalam bahasa Yunani secara etimologi dapat dikenali dari kata bahasa Ibrani; dan bahwa gagasan dalam kalangan Muslim bahwa kata sophia (sowfiya) berasal dari kata "soph" yang berarti "wool" haruslah dibuang.
      Sophia atau kebijakan yang sejati ialah pengetahuan yang sesungguhnya tentang Tuhan, pengetahuan yang sejati tentang agama dan moralitas, dan penentuan yang mutlak benar atas Utusan Terakhir di antara semua Utusan Tuhan, adalah termasuk dalam lembaga kuno orang Israel 'Mispha' hingga saat dialihkannya ke Mispha orang Nasrani atau Kristen. Sungguh hebat melihat betapa lengkap analogi itu dan betapa ekonomi Tuhan yang berkenaan dengan hubungannya dengan manusia telah dilaksanakan dengan keseragaman dan tertib yang mutlak. Mispha adalah filter di mana semua data dan orang disaring dan diteliti oleh para Musaphphi (bahasa Ibrani Mosappi) seperti halnya oleh Colander (saringan, karena itulah arti kata itu); sehingga yang asli dibedakan dengan dan dipisahkan dari yang palsu, dan yang murni dari tidak murni; bahkan abad telah silih berganti, banyak sekali Nabi-Nabi datang dan pergi, namun Mustapha, Seorang Yang Terpilih, tidak muncul. Kemudian datang Jesus yang suci; tetapi dia ditolak dan di siksa, karena di Israel tidak ada lagi Mispha yang resmi yang pasti telah akan mengenali dan mengumumkannya sebagai Utusan Tuhan yang sejati yang dikirimkannya untuk membawa kesaksian atas Mustapha yang adalah Nabi Terakhir yang akan datang sesudahnya. "Dewan Agung Sinagog" telah berkumpul dan dilembagakan oleh Ezra dan Nehemia, di mana "Simeon Yang Adil" adalah anggota terakhirnya (310 SM), digantikan oleh Pengadilan Adi Jeruzalem (Supreme Tribunal of Jeruzalem) yang disebut: "Sahedrin"; tetapi Dewan yang kemudian itu yang diketuai oleh seorang "Nassi" atau "Pangeran", menghukum mati Jesus karena Dewan itu tidak mengakui Jesus dan sifat dari misi sucinya. Namun beberapa Sufi mengenali Yesus dan percaya misi kenabiannya; namun sejumlah orang menyalah fahaminya sebagai Mustapha atau Utusan Allah yang "terpilih", dan menangkap dan mengakuinya sebagai raja, tetapi ia lenyap dan menghilang dari antara mereka. Dia bukanlah Mustapha, jika bukan maka tidaklah masuk akal untuk membuat Simon sebagai Sapha dan gerejanya sebagai Mispha; karena fungsi dan tugas dari Mispha adalah untuk mengamati dan mencari tahu Utusan Terakhir, agar bila dia datang dapat diumumkan sebagai Orang Yang Dipilih dan Ditetapkan - Mustapha. Jika Jesus itu Mustapha maka tidak perlu lagi ada lembaga Mispha. Ini adalah sebuah subyek yang mendalam dan menarik; hal itu membutuhkan kesabaran dalam mempelajarinya. Nabi Muhammad al Mustapha adalah sebuah misteri Mispha, dan kekayaan dari Sophia
      Bab 4 
      NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ADALAH "SHILOH"
      Nabi Yakub, cucu Nabi Ibrahim, terbaring sakit di tempat tidurnya, ia berumur seratus empat puluh tujuh tahun, dan saat akhir mendekat dengan cepat. Dia memanggil dua belas orang anak laki-lakinya dan keluarga mereka masing-masing ke kamar tidurnya; beliau memberkati masing-masing anak laki-lakinya dan memprediksi masa depan dari suku bangsanya. Hal ini biasa dikenal sebagai "wasiyat Yakub", dan ditulis dalam gaya bahasa Ibrani yang bagus dengan sentuhan puisi. Wasiyat itu berisi beberapa kalimat yang unik dan tidak pernah terjadi lagi dalam Injil. Wasiyat itu menyebutkan bermacam-macam peristiwa dalam kehidupan seorang laki-laki yang telah banyak mengalami pasang surut kehidupan. Diceriterakan bahwa Yakub telah mengambil keuntungan dari kakak laki-lakinya (Esau) yang lapar dan membeli hak berdasarkan kelahirannya dengan sepiring makanan, dan menipu ayahnya yang buta dan sudah tua dan memperoleh pemberkatannya yang berdasarkan hak kelahiran yang sebenarnya milik kakaknya, Esau. Dia bekerja selama tujuh tahun untuk memperistri Rahel, tetapi ditipu oleh ayah Rahel, dan dinikahkan dengan kakak Rahel yang bernama Liah; dengan demikian ia harus bekerja tujuh tahun lagi untuk memperisiterikan Rahel. Pembantaian semua orang laki-laki oleh dua orang anak-anak Yakub yaitu Simon dan Levi karena pencemaran (pemerkosaan) pada anak perempuan Yakub yang bernama Dina oleh Schechim, pangeran dari kota itu, sungguh telah sangat menyedihkan Yakub. Perilaku anak sulungnya yang sangat memalukan, Reubin, yang telah mencemarkan tempat tidur ayahnya dengan meniduri istri selir Yakub, tidak pernah dilupakan dan dimaafkan oleh Yakub. Namun kesedihan terbesar yang menimpa dirinya sesudah kematian Rahel yang dicintainya adalah menghilangnya selama bertahun-tahun anak laki-laki yang disayanginya Yusuf. Kepergiannya ke Mesir dan pertemuannya dengan Yusuf merupakan kegembiraan besar baginya dan menyembuhkan kebutaannya. Yakub adalah seorang Nabi, dan dijuluki "Israel" oleh Tuhan, nama yang kemudian dipakai oleh dua belas suku bangsa keturunannya.
      Kebijakan penggusuran hak berdasarkan kelahiran berjalan terus sepanjang catatan dalam Kitab Genesis (Kejadian), dan Yakub adalah pahlawan atas pelanggaran hak atas orang lain. Dia diceriterakan telah memberikan hak berdasarkan kelahiran cucunya Manashi kepada adiknya Ephraim bertentangan dengan protes dari ayah mereka Yusuf (pasal xlviii.). Ia meniadakan hak berdasarkan kelahiran anak sulungnya dan memberikan pemberkatan kepada Yehuda (Judah), anaknya yang keempat, karena anak sulungnya telah meniduri Bilha, istri selir Yakub yang adalah ibu dari dua anak laki-laki Yakub, Dan dan Nephthali; serta mengingkari Nephthali karena dia tidak lebih baik dari lainnya, yaitu berzina dengan menantunya sendiri Thamar, yang melahirkan seorang anak laki-laki yang menjadi leluhur Daud dan Yesus (pasal xxv. 22, dan XXXVIII.)!
      Sungguh tidak dapat dipercaya bahwa penulis atau paling tidak editor terakhir dari buku itu "telah mendapat inspirasi dari Ruh Suci" sebagaimana ummat Yahudi dan Kristen memberikan kesaksian. Yakub diceriterakan telah menikahi dua orang perempuan bersaudara sekaligus, suatu perbuatan yang dicela oleh Hukum Tuhan (Leiviticus xviii. 18.). Dengan mengecualikan Yusuf dan Benjamin, sebenarnyalah anak-anak laki-laki lainnya dilukiskan sebagai gembala yang kasar, penipu (terhadap ayahnya dan Yusuf), pembunuh, pezina, yang menunjukkan bahwa itu bukanlah keluarga yang akan menjadi Nabi sama sekali.Tentu saja setiap Muslim tidak dapat menerima fitnah apapun terhadap seorang Nabi atau seorang laki-laki yang lurus kecuali bila jelas dicatat atau disebut dalam Al Qur'an. Kami tidak mempercayai dosa yang ditimpakan pada Yehuda sebagai benar adanya (pasal XXXVIII), karena bila tidak maka akan bertentangan dengan pemberkatan oleh Yakub; dan pemberkatan inilah yang saya ajukan untuk mempelajari dan mendiskusikannya dalam artikel ini.
      Yakub pasti sudah tidak dapat memberkati anak laki-lakinya Yehuda bila saja Yehuda benar ayah dari anak menantunya sendiri, Peres, karena kedua pezina pasti sudah dihukum mati oleh Hukum Tuhan, Yang telah memberinya kemampuan meramal (Leviticus xx. 12). Namun, ceritera tentang Yakub dan keluarganya yang tidak sempurna dapat ditemukan dalam Kitab Genesis (Kejadian, pasal xxv. - 1.).
      Ramalan yang terkenal yang mungkin dianggap sebagai inti dari wasiyat ini termuat dalam ayat ke sepuluh dari pasal empat puluh sembilan Genesis sebagai berikut :
      "The Sceptre shall not depart from Judah,
      And the pemberi hukum dari antara his feet,
      Until the coming of Shiloh,
      And to him belongeth the obedience of peoples. "
      • "Sceptre (" tongkat kerajaan "- Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia) tidak akan beranjak dari Yehuda
      • begitupun Pemberi hukum (the pemberi hukum - Prof Benjamin; ruler'S staff - "Bible" Revised Standard Version - The Bible Societies; lambang pemerintahan - Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia) dari antara kakinya,
      • sampai Shiloh (dia yang berhak atasnya - Alkitab; he to whom it belongs - "Bible") datang,
      • maka dia akan takluk bangsa-bangsa. "
      Yang di atas itu adalah terjemahan harafiah dari teks bahasa Ibrani sejauh dapat saya pahami. Di dalam teks itu ada dua kata yang unik dan tidak terdapat di tempat lain manapun dalam Perjanjian Lama. Kata yang pertama ialah "Shiloh", dan yang lain adalah "yiqha" atau "yiqhath" (dengan konstruksi atau kontraksi).
      Shiloh terbentuk dari empat huruf, shin, ya ', lam, dan ha. Ada nama "Shiloh", nama sebuah kota di Ephraim (1 Samuel I, dst) tetapi di situ tidak ada huruf ya '. Nama ini tidak dapat diartikan sama dengan atau dirujuk ke nama kota di mana ada Ark of the Covenant atau Tabernakel, karena sampai saat itu dalam suku bangsa Judah tidak ada Sceptre atau pemberi hukum yang muncul. Kata itu pastilah merujuk pada seorang pribadi, dan tidak pada sebuah kota.
      Sepanjang bisa saya ingat, semua versi Perjanjian Lama telah mempertahankan pencantuman kata Shiloh yang orisinil tanpa menerjemahkannya. Orang Syria Pshitta (dalam bahasa Arab al-Bessita) yang telah menerjemahkan kata itu menjadi "dia yang berhak atasnya" - "he to whom it belongs". Mudah bagi kita untuk melihat betapa Penerjemah itu telah memahami kata itu sebagai terdiri dari "sh" bentuk singkat dari asher = he, that (dia yang ..), dan "loh" (Arab "lehu" = "is his" (miliknya) . Dengan sendirinya menurut Pshitta pasal itu akan dibaca sebagai berikut: "until he to whom it belongeth come, And," etc. ("sampai dia kepada siapa itu menjadi haknya datang, Dan," dll). Kata person "it" mungkin merujuk ke "Sceptre" atau "pemberi hukum" secara terpisah atau kolektif, atau barangkali "it" merujuk ke kata "obedience" (takluk atau tunduk atau patuh) dalam kalimat keempat dari ayat itu, bahasanya puitis. Menurut versi yang penting ini logika prediksi itu akan menjadi kenyataan seperti ini:
      "Karakter pemerintah dan kenabian tidak akan berlalu dari Judah sampai dia yang berhak atasnya datang, karena miliknya adalah" homage of people "(penghormatan dari bangsa).
      Tapi nyatanya kata ini berasal dari kata kerja "shalah" dan karenanya berarti "damai (peaceful), tenang (tranquil), diam (quiet) dan patut dipercaya (trustworthy)".
      Sangat mungkin bahwa beberapa pentranskrib (perekam / pencatat) atau pengkopi "currente calamo" dan karena salah tulis telah melepaskan sisi kiri huruf akhir "het", dan kemudian kata itu telah berubah menjadi "hi", karena keserupaan dua huruf itu sangat menonjol dengan hanya sangat sedikit saja berbeda pada sisi kiri. Bila kesalahan semacam itu telah dipindahkan dalam naskah Ibrani, baik sengaja atau tidak, maka kata yang berasal dari "shalah" berarti "mengirim, mengutus", dan bentuk past participle (salah satu bentuk masa lampaunya) adalah "shaluh" yaitu "seseorang yang diutus , utusan. "
      Tetapi tidak ada alasan yang masuk akal untuk pengubahan secara sengaja "het" menjadi "hi", karena huruf ya 'tetap dipertahankan dalam bentuk Shiloh sekarang, yang tidak memiliki waw yang harus ada untuk bentuk waktu lampau (past participle) Shaluh. Lagipula saya pikir Septuagint telah membiarkan Shiloh sebagaimana adanya. Karena itu satu-satunya kemungkinan perubahan adalah perubahan huruf terakhir het menjadi hi. Jika ini yang menjadi masalahnya, maka kata itu akan menemukan bentuknya menjadi Shiluah dan artinya sama dengan "Utusan dari Yah", gelar yang justru diberikan kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa sallam seorang diri "Rasul Allah" yaitu "Utusan Tuhan". Saya tahu bahwa kata "shiluah" juga merupakan kata teknis dalam "surat cerai", dan ini karena yang diceraikan itu disuruh pergi.
      Saya tidak dapat menerka interpretasi lainnya dari nama singular ini di samping tiga versi yang saya kemukakan.
      Sudah barang tentu dan dengan sendirinya bahwa ummat Yahudi dan Kristen percaya bahwa pemberkatan ini merupakan prediksi terkemuka tentang kedatangan al masih. Bahwa Jesus, Nabi dari Nazaret, adalah Kristus atau Al Masih tidaklah diingkari oleh seorang Muslimpun, karena sesungguhnya Al Qur'an mengakui adanya gelar itu. Bahwa Raja Israel dan Kepala Pendeta (High Priest) yang manapun diurapi dengan minyak suci yang terdiri dari minyak zaitun dan berbagai rempah-rempah dapat kita ketahui dari Kitab-Kitab Suci Ibrani (Leviticus xxx. 23-33). Bahkan Raja Persia yang bernama Zardushti Koresh disebut Kristus Tuhan: "Tuhan pun berfirman kepada Cyrus KristusNya," dsb. (Yesaya xlv. 1-7).
      Agak berlebihan untuk menyebutkan di sini bahwa meskipun Cyrus maupun Yesus tidak diurapi dengan ramuan suci, namun mereka keduanya disebut al Masih.
      Tentang Jesus, bahkan meskipun misi kenabiannya diakui oleh orang Yahudi, tugas kemasihannya tidak pernah dapat diterima oleh mereka, karena tidak ada satupun tanda-tanda atau sifat-sifat al Masih yang mereka harapkan ada pada orang yang mereka coba untuk menyalibnya itu. Orang Yahudi itu mengharapkan al Masih dengan pedang dan kekuasaan sementara, seorang penakluk yang akan mengembalikan dan melebarkan kerajaan Daud, dan seorang al Masih yang akan mengumpulkan orang-orang Yahudi yang sudah tersebar, kembali ke tanah Kanaan dan menundukkan banyak bangsa-bangsa di bawah kuasanya .; tetapi mereka tidak pernah bisa mengaku dirinya sebagai seorang pengkhotbah dari Bukit Zaitun, atau seseorang yang dilahirkan dalam palung.
      Alasan-alsan berikut ini dapat diajukan untuk menunjukkan bahwa nubuah yang sangat kuno ini secara praktis dan harfiah telah dipenuhi oleh Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Melalui ungkapan-ungkapan alegoris "Sceptre" dan "pemberi hukum" para komentator secara tak dapat dibantah telah mengakui ungkapan itu masing-masing diartikan sebagai otoritas pemerintah dan nubuah (royal authority and prophecy). Tanpa berhenti lama untuk meneliti akar dan asal kata kedua tunggal "yiqha", kita bisa memakai salah satu dari dua arti, kepatuhan (obedience) dan harapan (expectation).
      Baiklah kita ikuti interpratsi dari "Shiloh" seperti di dalam versi Pshitta: "dia yang berhak atasnya" ("he to whom it belongs"). Secara praktis ini berarti "pemilik dari Sceptre dan hukum", atau "dia yang memiliki kedaulatan dan kekuasaan legislatif, dan semua bangsa tunduk pada kedaulatan dan kekuasaannya (and his is the obedience of nations)." Siapakah gerangan yang mungkin menjadi Pangeran dan Pemberi hukum agung itu? Pastilah bukan Musa, karena ia adalah pengatur utama atas Dua Belas Suku Yahudi, dan sebelum dia tidak pernah ada seorang raja atau nabi dalam suku bangsa Yehuda. Pasti bukan pula Daud, karena dia adalah raja pertama dan nabi keturunan Yehuda. Dan terbukti bukan pula Jesus Kristus, karena ia sendiri menolak gagasan bahwa al Masih yang diharapkan oleh orang Yahudi adalah anak laki-laki Daud (Matius xxii. 44-45; Markus xii. 35-37; Lukas xx. 41-44). Dia tidak meninggalkan hukum tertulis, dan tak pernah bermimpi memangku tongkat kerajaan (royal Sceptre); kenyataannya ia menasehati orang-orang Yahudi agar setia kepada Caesar dan memberikan penghormatan kepadanya, dan dalam satu peristiwa orang lain mencoba membuat Yesus seorang raja, tetapi dia meloloskan diri dan bersembunyi. Injilnya ditulis di atas suatu lempengan dalam hati beliau, dan beliau menyampaikan "kabar gembira", tidak dalam bentuk tulisan tetapi dia menyampaikannya secara lisan. Dalam nubuah ini tidak ada masalah tentang penyelamatan dari dosa asli dengan darah orang yang disalib, demikian juga tidak ada masalah tentang kekuasaan manusia-tuhan atas hati manusia. Selanjutnya Jesus tidak menghapuskan Hukum Musa, tetapi ia menyatakan dengan jelas bahwa dia datang untuk memenuhinya; demikian pula Jesus bukan Nabi Terakhir, karena sesudah beliau St Paul berbicara tentang banyak "nabi" dalam Gereja.
      Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam datang dengan kekuatan militer dan Al Qur'an untuk menggantikan tongkat kerajaan (Sceptre) Yahudi yang sudah usang dan tidak dapat dipergunakan lagi dan hukum yang sudah usang serta suatu kependetaan yang koruptif. Dia mengumumkan agama yang paling murni dalam menyembah satu Tuhan yang sejati, dan meletakkan doktrin praktis yang paling baik dan aturan-aturan moral dan perilaku manusia. Dia membangun agama Islam yang telah mempersatukan banyak bangsa dan orang-orang ke dalam satu persaudaraan yang sebenarnya yang tidak mempersekutukan Tuhan dengan suatu apapun. Semua orang Muslim tunduk kepada Nabi Allah, mencintai dan menghormatinya sebagai pendiri dan pengembang agama mereka, tetapi tidak pernah memuja dia atau memberikan kehormatan suci dan atribut. Dia mengusir dan mengakhiri hingga puing terakhir wilayah bangsa Yahudi di Qureida dan Khaibar dengan menghancurkan semua istana dan benteng mereka.
      Interpretasi kedua dari tetagram "Shilh" diucapkan Shiloh, sama pentingnya dan menguntungkan Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Seperti telah ditunjukkan di atas, kata itu berarti: "tenang, damai, patut dipercaya, diam" dan sebagainya. Bentuk kata itu dalam bahasa Aramiah adalah Shilya, dari akar kata yang sama Shala atau shla. Kata ini tidak dipakai dalam bahasa Arab.
      Adalah suatu kenyataan yang diketahui dengan baik dalam sejarah Nabi Arabia ini bahwa sebelum panggilan Kenabiannya, beliau adalah pendiam sekali, damai, patut dipercaya, dan memiliki sifat kontemplatif dan menarik; bahwa ia dijuluki orang-orang Mekkah dengan "Muhammad al-Emm" (Muhammad Al Amien - pen.). Ketika orang-orang Mekkah memberi julukan kepada beliau "Emm" atau "Amm" orang-orang Mekkah itu sama sekali tidak memiliki gagasan tentang Shiloh, namun kebodohan orang-orang Arab penyembah berhala ini telah dipergunakan Tuhan untuk mengelabui orang-orang Yahudi yang tidak percaya , yang memiliki Kitab Suci dan mengetahui isinya. Kata amana dalam bahasa Arab, seperti bahasa Ibrani aman, berarti: "menjadi mantap, ajeg, aman," dan karenanya: "menjadi tenang, setia dan patut dipercaya," menunjukkan bahwa "amin" dengan tepat merupakan padanan (ekivalen) dari Shiloh, dan mengabarkan semua arti yang terkandung di dalamnya.
      Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam sebelum beliau dipanggil Tuhan untuk menyampaikan wahyu agama Islam dan menghancurkan penyembahan berhala yang dicapai dengan keberhasilan, adalah seorang laki-laki yang sangat pendiam dan tulus di Mekkah; dia bukan seorang pahlawan perang, juga bukan seorang legislator; tetapi bahwa sesudah beliau menyandang misi kenabian itulah beliau menjadi pembicara yang paling ulung dan seorang Arab pemberani. Ia berperang melawan orang-orang kafir dengan pedang di tangan, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Allah dan fondasi agamaNya - Al Islam. Allah menunjukinya pada kunci kekayaan dunia, tetapi ia tidak mau menerimanya, dan ketika beliau wafat praktis beliau adalah seorang laik-laki yang miskin. Tidak penyembah Tuhan lainnya, baik dia raja atau nabi, yang telah memberikan bakti besar dan berharga yang begitu mengagumkan kepada Tuhan dan manusia sebagaimana telah diperbuat oleh Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam; kepada Tuhan dalam menghilangkan penyembahan berhala dari sebagian besar dunia, dan kepada manusia dengan telah memberikan agama yang paling sempurna dan hukum yang terbaik sebagai petunjuk dan pengaman. Dia merebut tongkat kerajaan (Sceptre) dan hukum dari bangsa Yahudi; memperkuat yang pertama dan menyempurnakan yang kemudian. Kalau saja Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam diperkenankan menampakkan diri kembali di Mekkah atau Medinah sekarang ini, ia akan disambut oleh orang-orang Muslim dengan kasih sayang dan kepatuhan yang sama seperti telah ia saksikan di sana ketika hidup beliau. Dan beliaupun akan melihat dengan penuh kesenangan bahwa Kitab Suci yang telah ia serahkan masih tetap sama tanpa sedikitpun ada perubahan di dalamnya, dan bahwa Al Qur'an itu dilagukan dan dibaca persis sama seperti yang ia lakukan bersama para sahabat. Dia akan senang memberi selamat kepada mereka atas kesetiaan mereka kepada agama dan keesaan Allah; dan kenyataan bahwa mereka tidak menjadikan beliau sebagai tuhan atau anak tuhan.
      Sedang tentang interpretasi ketiga dari nama "Shiloh" telah saya catat bahwa mungkin itu suatu perubahan kata "Shaluah" dan dalam hal itu maka tak diragukan bahwa itu sesuai dengan gelar Nabi dalam bahasa Arab yang begitu sering diulang namanya dalam AL Qur'an, yaitu " Rasul "yang berarti tepat sama dengan arti Shaluah yaitu:" seorang Utusan, "" Shaluah Elohim "bangsa Ibrani adalah sama dengan" Rasul Allah "yang namanya diserukan lima kali sehari oleh Bilal penyeru kepada shalat dari menara semua mesjid di dunia.
      Beberapa nabi dalam Al Qur'an, terutama mereka yang diberi Kitab Suci, disebut sebagai "Rasul"; tetapi tidak di dalam pasal manapun lainnya dalam Perjanjian Lama dapat kita jumpai kata Shiloh atau Shaluah kecuali di dalam wasiyat Yakub.
      Nah sekarang dari sudut pandang manapun kita coba untuk mempelajari dan meneliti nubuah Yakub tersebut, kita dipaksa melalui sebab alasan telah terpenuhinya ramalan itu secara nyata dalam pribadi Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, untuk mengakui bahwa orang-orang Yahudi itu dengan sia-sia telah menanti kedatangan Shiloh lainnya, dan bahwa orang-orang Kristen dengan keras kepala bertahan dalam kesalahan mereka dalam meyakini bahwa adalah Yesus yang dimaksudkan dengan Shiloh.
      Selanjutnya ada pengamatan lain yang pantas mendapat perhatian serius dari kita. Pertama sangatlah sederhana bahwa tongkat kerajaan dan legislator akan tetap dalam suku bangsa Yehuda selama Shiloh tidak nampak dalam arena. Menurut pengakuan orang Yahudi, Shiloh itu belum datang. Karena itu selanjutnya tongkat kerajaan dan suksesi kenabian itu masih ada dan menjadi milik suku bangsa itu.Namun lembaga (Sceptre dan pemberi hukum) itu telah lenyap lebih dari tiga belas abad yang lalu.
      Kedua dapat diamati bahwa suku bangsa Yehuda itu juga telah punah bersama dengan hilangnya kekuasaan kerajaan dan suksesi kenabian. Merupakan kondisi yang tidak dapat diabaikan bahwa untuk mempertahankan eksistensi suatu suku bangsa dan identitasnya perlu untuk menunjukkan bahwa suku bangsa itu secara keseluruhan hidup di negerinya sendiri atau di tempat lain secara kolektif dan mempergunakan bahasanya sendiri. Tetapi bagi bangsa Yahudi masalahnya justru kebalikannya. Untuk membuktikan diri Anda seorang Israel, Anda hampir tidak menemukan kesulitan, karena setiap orang akan mengakui Anda, tetapi Anda tidak akan pernah dapat membuktikan diri Anda sendiri termasuk ke dalam salah satu dari dua belas suku bangsa itu. Anda telah terpencar-pencar dan kehilangan bahasa Anda sendiri.
      Bangsa Yahudi harus menerima salah satu dari alternatif, yaitu mengakui bahwa Shiloh telah datang, tetapi bahwa nenek moyang mereka tidak mengenalinya, atau menerima kenyataan bahwa tidak lagi ada suku bangsa Yehuda dari mana Shiloh itu akan harus datang.
      Sebagai pengamatan yang ketiga, harus dicatat bahwa bertentangan sekali dengan apa yang diyakini ummat Judeo Kristiani, teks itu jelas berarti bahwa Shiloh harus seorang asing sama sekali terhadap suku bangsa Yehuda, dan bahkan terhadap semua suku bangsa lainnya. Hal ini begitu nyata bahwa renungan sejenak sudah cukup untuk meyakinkan seseorang. Ramalan itu jelas menunjukkan bahwa ketika Shiloh datang, maka tongkat kerajaan dan legislator itu akan lenyap dari suku bangsa Yehuda; hal ini hanya dapat disadari bila Shiloh itu seorang asing sama sekali terhadap suku bangsa Yehuda. Kalau Shiloh itu keturunan dari Yehuda, bagaimana mungkin ada dua unsur yang hilang dari suku bangsa itu? Shiloh tidak pula mungkin keturunan dari suku bangsa lainnya, karena tongkat kerajaan dan legislator itu untuk seluruh bangsa Israel dan bukan untuk satu suku bangsa saja. Pengamatan ini merusak klaim orang-orang Kristen juga karena Jesus adalah keturunan Yehuda dari fihak ibu Maryam.
      Saya sering merasa heran terhadap orang-orang Yahudi yang suka bepergian dan berbuat salah. Selama dua puluh lima abad mereka telah mempelajari seratus bahasa bangsa-bangsa yang telah mereka layani.Karena kaum Ismail dan Israel keduanya keturunan Nabi Ibrahim, menjadi masalahkah bagi mereka bila Shiloh itu datang dari Yehuda atau dari Zebulon, dari Esau atau Isachar, dari Ismail atau Ishaq, selama mereka itu masih keturunan Nabi Ibrahim? Patuhilah hukum dari Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, jadilah Muslim, dan itu berarti Anda dapat pergi dan menetap hidup di tanah airmu yang dulu dengan damai dan aman.

      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar

      BERIKAN TANGGAPAN