إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Kamis

sesat

Saya lahir di keluarga Kristen separuh. Mami saya orang percaya, pergi ke gereja, berbahasa roh dan berbuat baik ke orang lain itu adalah sifat alamiah dia. Nenek saya juga sama. Kakek saya tidak berbahasa roh tapi lainnya sama. Jadi dari sisi Mami saya keturunan Kristen banget. Papi saya bisa dibilang tidak peduli Tuhan. Papi saya pergi ke gereja, ikut sidhi dan dibaptis karena cinta sekali dengan Mami saya. Boleh dibilang cinta setengah mati. Nenek dan kakek Papi saya adalah penganut agama Tionghoa. Mereka sembahyang didepan meja abu dan mengikuti tradisi leluhur. Kenapa Papi saya bilang tidak peduli Tuhan? Karena Papi menunjukkan bahwa dia percaya cuma supaya bisa kawin sama Mami. Sesudah kawin beberapa tahun Papi tidak pernah lagi ke gereja. Papi cuma mencari duit dan bersenang-senang saja. Iman percaya Mami tetap mempengaruhi Papi. Papi pernah pergi ke dukun. Sesudah dimarahi sama Mami dia berhenti. Papi tidak pernah menyeleweng dengan wanita lain. Papi cuma sekali-kali mabuk. Papi kalau main judi juga cuma pasang taruhan kecil buat iseng. Papi tidak pernah kembali ke agama Tionghoa dan dia juga tidak pernah mengajarkan hal rohani apapun ke saya. Hal-hal rohani saya pelajari dari ibu saya. Ibu saya awalnya adalah penganut ajaran Reformed dan pergi ke Gereja Kristus Bogor sejak kecil. Tapi nenek masuk ke gerakan awal Pentakosta di Indonesia. Akhirnya Mami juga masuk ke aliran Pentakosta awal.
Bisa dibilang masa kecil saya dihabiskan di Gereja Kristus dan Gereja Sidang Jemaat Allah. Saya sudah membaca habis Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu sejak berumur 10 tahun. Beberapa tahun kemudian saya sudah baca Alkitab bolak balik 50 kali dan sejak itu saya tidak pernah menghitung lagi. Sejak di SMA saya yakin sepenuhnya akan panggilan Tuhan dan dibaptis selam. Saya berpikir saat itu saya musti melayani Tuhan. Karena itu saya menyiapkan diri. Saya membeli dan belajar bahan kursus Alkitab dari GBI. Saya belajar serius Alkitab. Saya membaca dan mempelajari Kamus Alkitab. Saya belajar Strong Concordance. Saya membeli Thompson Chain Reference Bible supaya saya bisa mempelajari suatu topik Alkitab dengan mendalam. Di universitas saya bertemu dengan seorang teman yang mengubah hidup saya: Tonggo Parulian Marpaung alias Uli. Dia membawa saya masuk aliran Karismatik yang ekstrim. Hampir tiap hari saya keliling menginjil ke rumah kost di sekitar kampus. Saya mengikuti persekutuan doa yang berlangsung 5-6 jam. Ada nubuatan dan penglihatan terjadi tiap persekutuan doa. Saya melakukan puasa sampai belasan hari. Saya berdoa pribadi dalam bahasa roh berjam-jam setiap hari. Di universitas saya pergi ke gereja Gosyen dan Bethany. Pada saat itu boleh di bilang saya aliran Karismatik ekstrim. Akhirnya saya mengadakan persekutuan doa di rumah dan ternyata berkembang. Jumlah pengunjung mencapai sekitar 70-an orang dan rumah sudah tidak muat. Pada saat itu saya berselisih dengan Uli karena cara dia menangani keuangan persekutuan doa tidak saya setujui. Akhirnya persekutuan doa bubar. Saya mulai sering bertengkar dengan para pemimpin persekutuan doa karena saya nilai banyak ajaran mereka tidak sesuai Alkitab. Di akhir kuliah boleh dibilang saya tidak ikut pelayanan lagi.
Sesudah lulus universitas dan bekerja bisa dibilang saya cuma jemaat biasa saja. Saya tidak ikut pelayanan manapun. Pelayanan di kampus mengajar saya sisi gelap pelayanan dan saya tidak mau pergi ke sisi itu lagi. Cukup sudah. Sesudah bekerja saya cuma belajar Alkitab dengan santai saja tapi saya mulai melihat bahwa banyak ajaran dalam aliran Karismatik dan Reformed yang cuma ajaran tradisi/pendeta dan bukan ajaran Alkitab. Saya lihat 99.99% orang disekitar saya cuma sekedar mengulang ajaran tradisi/pendeta. Mereka tidak pernah belajar Alkitab, merenungkan Alkitab dan menarik kesimpulan mereka sendiri. Mereka tidak pernah mengalami momen seperti waktu Petrus ditanya Yesus. Petrus dan murid-murid cuma bilang menurut orang Yesus adalah Nabi, Yesus adalah Rabi. Padahal bukan itu yang ingin diketahui Yesus. Yang ingin di ketahui Yesus adalah menurut mereka siapa itu Yesus.
Saat itu saya mulai jenuh dan muak mendengar apa yang diajarkan pendeta di atas mimbar. Mereka cuma menghibur jemaat dengan cerita lucu dan kesaksian saja. Mereka tidak benar-benar mengajarkan apa yang diajarkan Alkitab. Saat itu saya mulai malas ke gereja. Tadinya saya pergi ke Bethany akan tetapi karena ada GBI yang dekat rumah akhirnya saya lebih sering ke GBI Nafiri Allah. Saat itulah saya bertemu dengan situs SabdaSpace. Saya berkenalan dengan berbagai orang Kristen yang unik. Saya bertarung habis-habisan dengan Hai-hai Bengcu. Walaupun saya kadang-kadang tidak setuju dengan ajaran maupun cara penyampaian Hai-hai akan tetapi sebagian besar pemikiran Hai-hai adalah pemikiran yang lahir dari perenungan Alkitab dan bukan sekedar ajaran tradisi ataupun ajaran pendeta. Tidak semua ajaran Hai-hai itu benar. Tapi semua ajaran Hai-hai lahir dari perenungan dia sendiri bukan sekedar mengikut ajaran orang lain. Pada saat ini boleh dibilang saya tidak lagi percaya ajaran Reformed dan Karismatik. Saya mempunyai pemikiran dan kepercayaan saya sendiri yang lahir dari pengalaman hidup dan perenungan panjang saya mengenai Alkitab. Tiap orang percaya seharusnya mempunyai pendapat mereka sendiri mengenai siapa itu Yesus dan apa yang diajarkan Alkitab.
Saya sudah tersesat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN