إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Kamis

BABI


e

Kenapa Babi Haram?

Peringatan tulisan ini mengandung unsur SARA! Jikalau anda yang membaca tidak kuat imannya alangkah lebih baik anda tidak melanjutkan membacanya, karena tulisan ini diperuntukan bagi kalangan terbatas. Bagi anda yang mempunyai tingkat kearifan yang ada diatas rata-rata dan menganggap bahwa ini adalah tulisan yang menggugah selera anda, silahkan meneruskan membaca tulisan ini.
Babi..Ayam..Sapi..Kodok..Kambing..Ikan..
Sebenarnya apa yang menjadi pembeda dari sekian banyak hewan yang dapat disantap oleh manusia?
Apakah tempat mereka tinggal, apa yang menjadi makanan mereka, atau adanya kategori halal dan haram?
Banyak hewan yang ada di muka bumi ini, namun tidak semuanya serta merta dapat dinikmati oleh manusia. Bisakah anda menikmati daging lalat atau nyamuk? Bisakah anda?
Bagi sebagian besar umat beragama Muslim, babi merupakan hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan atau ‘haram’ , disebut haram karena jikalau anda memakannya itu dapat menyebabkan dosa. Lalu mengapa daging babi haram untuk dimakan? Ada yang menyebutkan bahwa daging babi itu haram karena babi memiliki kuku belah dua yang konon katanya kuku belah dua itu tidak boleh dimakan oleh manusia. Hal ini dibenarkan juga oleh umat Kristiani melalui kitab perjanjian lama. Namun setelah adanya revisi, pada perjanjian baru daging babi dapat dikonsumsi oleh umat Kristiani. Ada yang mengatakan kalau babi itu serupa dengan manusia dari sisi yang tidak tampak.
Makanya banyak ejekan terhadap sesama manusia tidak menggunakan kata babi.
Dikatakan juga bahwa babi itu hewan kotor, yang tinggal di kubangan lumpur dimana babi makan dan membuang kotoran ditempat yang sama. Lalu apa bedanya dengan ikan, kambing, sapi dan ayam?
Mungkin karena hewan-hewan tersebut disajikan kepada Nabi Muhammad SAW oleh sahabat-sahabatnya ketika berada di suatu perjamuan, dan pada saat itu daging babi lupa dihidangkan. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW tidak tahu rasanya daging babi dan menganggap daging babi itu haram.
Mungkin jikalau Nabi Muhammad SAW merasakan, umat Muslim akan dapat menikmati daging babi.
Digambarkan juga melalui sebuah film, bahwa pada jaman Nabi Isa AS (Yesus) para setan-setan dan arwah-arwah korban perang dimasukkan kedalam tubuh babi yang konon tidak berjiwa. Ini bisa jadi sebab mengapa bunyi babi ‘nguik..nguik’ seperti bunyi setan tertawa bercampur tersedak.
Banyak sekali pergunjingan tentang haram dan halal. Apakah melakukan hubungan seks sebelum nikah itu halal? Apakah meminum minuman keras dan berjudi itu halal? Bagaimana dengan mengambil hak orang lain yang bukan miliknya? Apakah itu semua termasuk halal untuk dilakukan? Lalu apa bedanya dengan memakan daging babi? Kenapa tidak sekalian saja memakannya.
Larangan memakan daging babi merupakan salah satu bentuk ketaatan umat Muslim yang harus dipatuhi, hal ini tersirat jikalau anda membaca Al-Quran dan Hadis. Namun itu semua nampaknya hanya menjadi salah satu pegangan ketaatan bagi umat Muslim sebagian besar, mereka masih dapat melakukan hal-hal yang telah terurai sebelumnya dengan tetap taat pada satu hal. Yaitu tidak memakan daging babi.
Inti ajaran dari umat Kristiani adalah mengenai kasih. Entah itu kasih tak sampai atau kasih yang bertepuk sebelah tangan. Namun pada intinya umat Kristiani mengasihi setiap ciptaan Tuhan dalam bentuk dan rupa yang beragam serta menghargai setiap keberagaman yang ada. Maka dari itu mereka memakan daging babi dan terkadang melakukan hal-hal seperti yang tadi terurai bagi sebagian kecil umat Kristiani.
Akan tetapi setiap agama di dunia ini mengajarkan akan satu hal yang pasti yaitu ‘kebajikan’.
Menurut saya sebagai seorang manusia yang memiliki kearifan yang ada diatas rata-rata, haram adalah sesuatu yang telah keluar dari mulut. Entah itu adalah ucapan, terutama yang kotor dan kasar serta caci-maki. Entah itu cairan yang berasal dari dalam perut setelah apa yang kita konsumsi, arti kata lazimnya adalah muntahan. Jadi haram menurut orang yang memiliki tingkat kearifan yang ada diatas rata-rata bukan berdasarkan atas apa yang kita makan atau konsumsi sebagai manusia, namun lebih berdasarkan atas apa yang telah kita lakukan dan akan kita lakukan terhadap sesama manusia, dan juga atas dasar ketaatan yang sebenarnya wajib hukumnya untuk ditaati. Namun hal tersebut masih bisa dikondisikan dengan lingkungan sekitar. Bagaimana jikalau hewan yang tersisa di muka bumi ini adalah babi? Apakah anda akan memakannya?
Malang bukan kepalang nasib si anak babi, selalu berjalan dengan kepala tertunduk lesu dan ekor yang selalu keriting. Jika boleh memilih mungkin si anak babi itu tidak ingin dilahirkan sebagai babi, selalu dicap haram oleh hewan-hewan yang lain. Malu karena dilahirkan sebagai babi dan memiliki ayah seekor babi juga.
Lain halnya dengan anak kodok yang selalu melompat-lompat.
Yaaaaahhh namanya juga anak-anak…..
Apakah anda yang tidak memiliki tingkat kearifan yang ada diatas rata-rata memaksa membaca tulisan ini sampai selesai? Bagaimanakah perasaan anda setelah membaca? Apakah iman anda tergoyah atau bahkan anda telah menjadi orang yang memiliki tingkat kearifan yang ada diatas rata-rata? Kalau benar demikian, saya selaku orang yang memiliki tingkat kearifan yang ada diatas rata-rata mengucapkan selamat kepada anda. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN