إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Kamis

artikel seorang mantan pendeta yg menguasai bahasa ibrani


0
 
 
 
 
 
 
Rate This

Kebutuhan manusia akan Ilahi adalah perkara yang tidak terbantahkan. Semua orang butuh beribadah kepada Allah, karena pada dasarnya ada kebutuhan hati makhluq kepada sang Khaliq. Telah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk beribadah melebihi urusan makan dan bernafas. Hal ini jelas di dalam Al Quran, Allah telah gambarkan: “tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku..”. Maknanya seolah-olah manusia itu adalah kreasi Allah yang telah di program khusus untuk beribadah kepadaNya. Ulama tafsirkan makna kata “ li ya’buduun (agar mereka beribadah)..” adalah mentauhidkan Allah.
Manusia di dunia bekerja dan beraktivitas, segala macam aktivitas dilakukan manusia itu sangat beragam. Maka konteks ibadah dalam kehidupan menurut ajaran islam adalah setiap gerak-gerak manusia itu haruslah berlandaskan Tauhid (peng-Esaan kepada Allah), disamping Allah juga perintahkan manusia dengan ibadah-ibadah yang bersifat khusus, seperti shalat, puasa, zakat, kurban, membaca qur’an dsb. Alangkah indahnya jika setiap aktivitas bernafaskan tauhid, ia akan memulai aktivitas dengan bismillah, semuanya dilakukan dengan profesional karena Allah maha melihat, perkara yang haram akan dijauhi, jika dalam perdagangan ia akan memudahkan dan niat saling menolong, dan jika dalam aktivitas mu’asyaroh ia akan berakhlak dengan baik karena Allah adalah Ar Rohim (Maha Penyayang)..”
Itulah mengapa kalimat Tauhid menjadi induk segala urusan. Segala aktivitas, bahkan sampai kepada lintasan hati/niat, merupakan urusan agama. Satu hadits yang ma’ruf berbunyi.” Sungguh tiada amal itu kecuali atas niatnya..”. Dalam hadits lain disebutkan..” niat seorang mukmin itu lebih baik daripada ‘amalnya”. Dalam hadits lain bahkan disebutkan niat kebaikan seorang sudah dihitung sebagai pahala walaupun ia belum mengerjakannya. Hadits pertama dalam banyak kitab para fuqoha adalah hadits niat, dan ulama sampaikan masalah niat ini mencakup 70 bab dalam ilmu fiqh.
Intinya, urusan agama itu bukanlah urusan ibadah ritual saja, namun mencakup seluruh gerak-gerak keseharian kita bahkan menyangkut masalah hati, yang mungkin tidak ada yang tahu isi hati kita selain kita dan Allah saja. Mungkin itulah ma’na kalimatullah yang artinya : ..Masuklah ke dalam Islam secara sempurna..” karena “ siapa yang berbuat walaupun sebesar atom (misqola dzarrotin) maka akan dibalas..” Bahkan lebih khusus lagi, dalam urusan hati dan amal ini, Allah jadikan keduanya menjadi standar penilaian Allah terhadap diri kita, dalilnya: “..sungguh Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tapi Dia memandang (tertuju hanya) kepada hati-hati dan segala amal perbuatanmu..” (hadits). Dalam hadits rasulullah kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda..”ya Muadz, ikhlaskanlah niat. Karena amal yang sedikit namun ikhlas itu mencukupi…”
Makanya, sangat mengherankan bila segala permasalahan yang terjadi pada saat ini,dikembalikan kepada selain urusan agama. Bahkan dalam sains dan jenjang pendidikan tinggi, seolah tidak ada celah sedikitpun ma’na tauhid yang sesungguhnya, dan seolah agama dipisahkan jauh-jauh daripada urusan dunia. Jika kita menilik lebih detail, siapakan pelaku kehidupan ini? Jikalau ada semiliyar teori tentang ekonomi/pertanian/hukum/seni/politik/dsb, yang akan mengamalkan itu adalah manusia itu juga. Tapi kenapa seringkali kita berlari dari fitrah dalam mentauhidkan Allah?? dalam sebuah hadits dikatakan: ..”jika di dunia ini tidak ada lagi yang menyebut asma Allah, maka dunia akan kiamat..”. maknanya, jika aktivitas manusia tidak ada lagi pemahaman Tauhid yang benar (sekuler, meniadakan Allah), maka sehebat apapun aktivitas manusia dalam kajian A hingga Z-nya, maka itu semua adalah bentuk kesia-siaan dan kehancuran. Sebaliknya, walaupun umat islam ‘terlihat’ lamban, namun karena ada keikhlasan dan imaniyah yang benar, maka Allah pandang urusan itu sebagai sesuatu yang mencukupi. Allah tidak pandang usaha kita (sebab-akibat) tetapi Allah pandang keyakinan kita kepadaNya. Inilah makna Tauhidullah.
Untuk memahami dan mendapatkan tauhid yang sempurna ini, tidak bisa dengan hanya membaca tulisan mengenai tauhid atau ikut kajian membahas kitab tauhid. Tauhid adalah bukti keimanan dan yakin, sedang iman adalah sifat yang hanya didapatkan dengan mujahadah dan riyadhoh (latihan hati) yang kontinyu. Satu kisah seorang pemuda bertanya kepada Al Imam Ghazaly  “Apa itu iman..?” maka Imam Al Ghazaly tidak menjawab dan langsung mengajak sang pemuda ke sebuah danau besar. Mereka berdua berjalan dan naik perahu yang kemudian membawa mereka ke tengah-tengah danau yang dalam itu. Di tengah danau yang sepi itu, Imam Ghazaly lantas melemparkan sang pemuda ke tengah danau sendirian. Sang pemuda kaget dan berteriak ketakutan karena ia tidak bisa berenang. Sang imam pergi begitu saja. Sang pemuda berteriak-teriak..” imam….imam….tolong aku..tolong…”. namun imam Ghazaly tidak menolong malah makin menjauh. Akhirnya dalam keadaan demikian, sang pemuda berteriak lagi..namun dengan nada dan keyakinan yang berbeda,  ”Ya Allah, tolonglah aku..”. Sesaat kemudian, datang pertolongan Allah dan menyelamatkan pemuda itu. Setelah pemuda itu selamat, dan kembali menemui sang Imam, maka sang imam menjawab: “Itulah iman. Iman adalah kau lepaskan semua keyakinanmu selain kepada Allah..”.
Itulah sebabnya orang kafir (mengingkari Allah) itu tidak ada harganya sedikitpun di mata Allah. dan itulah sebabnya mereka mendapatkan adzab yang kekal di neraka. Ia telah melawan fitrahnya, mengikuti hawa nafsu, memusuhi orang mukmin, mengejar dunia, dan tidak belajar mengenai kebesaran illahi. Dalam sebuah hadits disebutkan kunci syurga adalah kalimat Laa ilaha illa Allah. Bagaimana mungkin seorang masuk ke rumah tanpa kunci?
Umat islam saat ini telah mengucapkan kalimat ini, namun sangat jarang yang mengupayakan keyakinan yang sempurna atas kalimat ini dan mengaplikasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Adapun yang mengupayakan kalimat iman ini dan belajar mengamalkan maka akan dikatakan orang asing (ghuroba). Dalam sebuah hadits dikatakan: “ Islam muncul dalam keadaan asing dan kembali nya dalam keadaan asing. Maka, sungguh beruntung orang-orang yang yang asing itu..”
Asingnya konsep islam di mata umum boleh jadi disebabkan karena kuatnya pengaruh media, tv, film, musik, dsb yang telah memerangi pola fikir (mind set), dan terus menanamkan konsep yang meletakkan kebahagiaan melalui kehidupan yang materialistik dan hiburan, bahkan seringkali menfitnah islam adalah teroris dengan menelurkan konsep islamophobia. Intinya, media massa telah dikontrol dan diprogram agar menjauhkan umat islam dari islam walau ia masih berstatus muslim, dan makin menjauhkan umat non islam kepada islam. Sebuah penelitian mengatakan, 90% opini masyarakat dikontrol oleh media. Lihat pola fikir dan keyakinan kita hari ini, jika kita merasa susah memahami konsep islam yang mulia, boleh jadi hati dan fikiran kita telah di-brain-washed oleh musuh-musuh Allah. Karena kebenaran itu mahal, yang dengki dan berusaha menghambat kita ke jalan ini sungguh banyak sementara yang menghibau ke jalan kebenaran itu sedikit. Karena kebenaran itu syurga dan mengikuti hawa nafsu itu neraka. Sebuah hadits berma’na..”Syurga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, neraka itu diliputi oleh hal-hal yang disukai hawa nafsu…”. Wallahu a’lam
7
 
 
 
 
 
 
Rate This

Yah /YHWH is a name of the another moon god of the ancient egypt
Halleluya = Pujilah Dewa Bulan
Gambar : Yah atau dewa bulan mesir kuno

Para pembaca muslim yang dirahmati Allah SWT., dan para pembaca Kafir yang dilaknati Allah SWT dan seluruh alam semesta ciptaaNya., sekarang kita akan melihat suatu keterangan bukti siapa sebenarnya yang menyembah dewa bulan, zaman dulu Allah memang dianggap dewa bulan oleh orang-orang arab pagan, karena pada saat Nabi ismael wafat akhirnya pergeseran demi pergeseran dari ajaran ibrahim yang benarpun mulai menyimpang yaitu penyembahan terhadap dewa bulan yang dibawa oleh orang – orang mesir tapi tindakan mereka tidak dapat memperkenalkan dewa Yah kepada orang-orang arab karena seperti yang kita ketahui orang arab sangat kuat dalam menjaga tradisi nenek moyang, maka timbul ide orang-orang pagan mesir mengatakan bahwa dewa bulan yang mereka sembah bernama Allah hal ini merupakan metode yang juga dilakukan oleh kaum
pagan yunani yaitu paulus dalam memperkenalkan Isa sebagai Je Zeus kepada orang romawi, akhirnya hingga kedatangan rasulullah orang-orang arab menjadi memiliki kepercayaan bahwa Allah itu dewa bulan, dan dengan kedatangan rasulullah Allah SWT. kembali sebagai sebutan kepada Tuhan yang sejati pencipta Alam semesta, bukan lagi sebutan untuk dewa bulan.
Suatu kesalahan yang telah terjadi sejak turun temurun yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristen adalah pemujaan terhadap Yah, umat kristen begitu ngotot bahwa tuhannya Ibrahim bernama Yah Weh, dan Allah SWT adalah dewa bulan, ternyata hal tersebut sangat berbeda dengan kenyataan, ternyata dewa bulan yang sesungguhnya adalah YHWH, dan umat kristen dan yahudi selalu memujanya dalam ucapan Haleluya.
Satu lagi bukti, Allah SWT. adalah tuhannya Ibrahim adalah pengakuan dari para pakar dan sarjana bible sendiri. Hal ini disadari oleh para pakar alkitab di Indonesia dan di situs Sabda, sehingga mereka tetap mengatakan Allah adalah nama tuhan dan YHWH adalah hanya gelar seperti halnya adonai, god, ataupun tuhan ataupun king. Tapi ada orang kafir yang begitu sok dan ngotot mengumbar
kebodohan dan kemaluan sendiri disetiap web dan bahkan buat blok sendiri untuk pamer kemaluan, dan mengatakan YHWH lah tuhan sejadi dan Allah adalah dewa bulan, tidak taunya dia membuka pengetahuan kita untuk mencari tau apa itu Yhwh ternyata para ahli memang sengaja tidak berani mengatakan bahwa YHWH adalah nama tuhan adalah suatu alasan nya karena
YHWH ditemukan sebagai nama dari dewa pagan Mesir kuno. Hal yang dilakukan Duladi atau Baidowi ternyata telah membuka borok yahudi selebar-lebarnya bahwa yang mereka sembah adalah Dewa bulan.
Ok sekarang kita dalam dujul Haleluya, maka kita akan membahas Yah atau Ya atau Ia yang terdapat pada kalimat “Halelu Ya”. menurut orang-orang yahudi sebutan Haleluya berarti pujilah tuhan. “Ya”sengaja diartikan sebagai Tuhan karena kata Ya terdapat pada “Yahweh”. Benarkah Ya atau Ia atau Yah adalah berarti Tuhan? Ini adalah dewa bulan, di babilonia para pagan
menyebut dewa bulan dengan sebutan “Ya, Ia ataupun Yah” dewa ini bencong alias memiliki dua identitas sebagai laki-laki dan perempuan. Tidak berjenis kelamin dan tidak menikah, kemudian ada yang benar ama “Shua” adalah sebutan untuk dewa langit, jadi ketika orang menggabungkan kedua kata Ia dan Shua maka akan terbentuk dua dewa pagan sekaligus, yaitu Dewa bulan dan Dewa langit, jadi YahShua atau IaShua adalah sebutan nama untuk Dewa Bulan dan Dewa Langit
Suatu keanehan, alkitab mumuat nama dewa bulan bangsa babilonia sebagai nama lain dari dewa bulan yaitu baal, mereka bangsa yahudi telah murtad setelah mereka mulai memuja berhala EHYEH, bulan dalam bahasa Ibrani berarti yareach, dan ini sama dengan sebutan untuk YHWH, Ibrani modern mengeja ini sengaja berbeda, untuk menyimpangkan identitas asli dari dewa pagan mesir kuno. Tapi tidak masalah, para sarjana sangat mengetahui ini adalah benar. Bukti para sarjanapun sangat berlimpah untuk bisa dan tak pernah bisa tersanggah oleh orang yahudi bahwa YHWH adalah Dewa bulan. Dan mereka para yahudi dan kristen telah lama menjadi
penyembah berhala.
Hal yang dilihat dan pengalaman-pengalaman bangsa bani israel selama dimesir dulu selalu membayangi bangsa bani Israel ini. Yang mana kehidupan dengan dewa-dewa dan kekuatan sihir dari mesir kuno dan majikan mereka. Mereka benar-benar tidak bisa meninggalkan tradisi yang mereka lakukan secara turun temurun sejak mereka dalam perbudakan bangsa
mesir kuno.
Walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Musa, bani Israil tetap dalam penentangan mereka, dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Gunung Sinai seorang diri, penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niup kecenderungan bani Israil kepada apa yang dilakukan oleh majikan mereka dulu yaitu menyembah berhala. dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Konon kisah berhala
tersebut terbuat dari emas yang didalamnya dimasukkan tanah pijakan Nabi Musa dan Dengan sedikit mantra yang dilihat waktu majikannya dulu berbuat sihir maka patung tersebutpun dapat berbicara, sihir itu disebut Kabbalah.
Kecenderungan bani Israil terhadap keberhalaan Mesir Kuno dan dewa Yah (dewa Bulan), yang telah kita gambarkan di sini, penting untuk dipahami dan memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat  Penyisipan ajaran keberhalaan mesir kuno oleh umat yahudi ini sudah menjadi kekhawatiran dalam diri Musa sendiri, ke khawatiran Musa tertulis dalam kitab ulangan 31:26 “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. (takut diubah isi taurat oleh orang israel)
Bukti penyimpangan-penyimpangan bangsa Israel kepada dewa mesir kuno banyak tercatat dalam Alkitab, seperti dalam: Bilangan 22:41 dan Num 25:3, hakim-hakim 2:13, 8:33; 2raja2 23:13, 1:2, 16:16, 23:13, 1raja 211:33 Mazmur 68:4 2Tawarikh 33:3; Yehezkiel 8:16; 8:1 dan lainya.
Nah kembali kepada Haleluya apakah artinya? Dalam bahasa Ibrani Halelu berarti “Puji” dan Ya adalah dewa bulan Lihat disini nama-nama dewa mesir kuno
Jadi haleluya artinya adalah puji dewa bulan
Umat kristen terpelajar memang sangat menyembunyikan itu dan berusaha untuk mengatakan bahwa Tuhan ibrahim adalah Allah, lihat situs Sabda sangat jelas YHWH diartikan sebagai gelar sebutan saja bukan nama pribadi tuhan, YHWH sama dengan Adonai, King, Tuhan, dll. Tapi KRISTEN begitu ngotot mengatakan bahwa Tuhan Ibrahim dalam alkitab adalah YHWH sampai kirim surat ke LAI untuk merubah terjemahan Tuhan jadi YHWH, ga bisa dibayangin pasti orang LAI mentertawakan kebodohan ini.
=================================

Yah – Another Moon God

It is interesting that the earliest references to the name Yah (Yaeh) refer to the moon as a satellite of the earth in its physical form. From this, the term becomes conceptualized as a lunar deity, pictorially anthropomorphic but whose manifestations, from hieroglyphic evidence, can include the crescent of the new moon, the ibis and the falcon, which is comparable to the other moon deities,  Thoth and Khonsu.
Of course, the complexity and controversy of Yah stem from the term’s similarity to the  early form of the name for the modern god of the Jews (Yahweh), Christians and Muslims, as well as the fact that their ancestors were so intermingled with those of the Egyptians. In fact, this distinctive attribute of this god makes research on his ancient Egyptian mythology all the more difficult.
Little is really known of  this god’s cult, and there is no references to actual temples or locations where he may have been worshipped.
However, among ancient references, we do seem to find in the Papyrus of Ani several references to the god, though here, his name has been translated as Lah:
In Chapter 2:
“A spell to come forth by day and live after dying. Words spoken by the Osiris Ani:
O One, bright as the moon-god Iah; O One, shining as Iah;
This Osiris Ani comes forth among these your multitudes outside, bringing himself back as a shining one. He has opened the netherworld.
Lo, the Osiris Osiris [sic] Ani comes forth by day, and does as he desires on earth among the living.”

And again, in Chapter 18:
“[A spell to] cross over into the land of Amentet by day. Words spoken by the Osiris Ani:
Hermopolis is open; my head is sealed [by] Thoth.
The eye of Horus is perfect; I have delivered the eye of Horus, and my ornament is glorious on the forehead of Ra, the father of the gods.
Osiris is the one who is in Amentet. Indeed, Osiris knows who is not there; I am not there.
I am the moon-god Iah among the gods; I do not fail.
Indeed, Horus stands; he reckons you among the gods.”
The high point in Yah’s popularity can be found following the the  Middle Kingdom when many people immigrated from the Levant and the  Hyksos ruled Egypt. Hence, it is likely that contact with the regions of Palestine, Syria and Babylon were important in the development of this god in Egypt. George Hart, in his “A Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses” believes that these foreigners in Egypt may have associated Yah with the Akkadian moon-god, Sin, who had an important temple at Harron in north Syria. Like Thoth, Sin was a god of Wisdom, but his other epithets included “Brother of the Earth”, Father of the Sun, Father of Gods, as well as others.
Later during the New Kingdom within the Theban royal family, and not so strangely, even though it was they who expunged these foreign rulers from Egypt, the name of the god Yah was incorporated into their names. The daughter of the 17th Dynasty king, Tao I, was Yah-hotep, meaning “Yah is content”. The name of the next and last ruler of the 17th Dynasty, Kamose, may have also been derived from Yah. His name means “”the bull is born”, and this might be the Egyptian equivalent of the epithet applied to Sin describing him as a “young bull…with strong horns (i.e. the tips of the crescent moon). Also another interpretation of the name of the founder of the 18th Dynasty, Ahmose, is Yahmose, which would mean “Yah is born”. However, this was not the only name associated with Hyksos gods to be adopted by these Egyptians.
In the tomb of Tuthmosis III of the 18th Dynasty, who is often called the Napoleon of Egypt, and who was perhaps responsible for Egypt’s greatest expansion into the Levant, there is a scene where the king is accompanied by his mother and three queens, including Sit-Yah, the “daughter of the moon-god”. However, after this period, the traces of Yah’s moon cult in Egypt appear to be sporadic.
At this point, and because this is a scholarly work, we need to point out several important elements surrounding the name of this ancient Egyptian god, beginning with the fact that most Egyptologists throughout the history of that discipline have had difficulty agreeing on the translation of names from ancient text. Of course, this is not unique to Egyptologists, but is a problem throughout ancient studies.
Secondly, the references on Yah as an Egyptian moon god are slim. The best available documentation is that of George Hart, “A Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses”, but few other scholarly references make mention of this specific Egyptian deity.
Now as an observation, the fact that this deity’s name appears so similar to the early form of the Hebrew God, may mean little if anything. A powerful god of one region was often taken by another, including the Egyptians, and almost completely redefined.
In any event, this god did not attain a very high regard within Egypt, and it is unlikely that he had any major effect on the religion of others in his Egyptian form. Rather, it was the Egyptians in this case who were influenced from without.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN