إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Jumat

Sejarah Akhirnya Menggugat Tentang Siapakah Yang Menulis Injil Lukas

Sejarah Akhirnya Menggugat Tentang Siapakah Yang Menulis Injil Lukas

Dari seluruh penulis Injil, tampaknya lukas merupakan penulis yang paling sedikit mendapatkan kritik mengenai kepenulisannya. Ia menulis injilnya berdasarkan sumber-sumber yang berhasil ia kumpulkan, dalam hal ini ia berperan sebagai sejarawan. Lalu apakah lukas berhasil menjadi sejarawan yang objektif ?

Melalui penelitian textual dapat dipastikan, lukas bukanlah seorang yahudi.Ia berasal dari antiokhia di syiria (Kol 4:10-11,14),dengan demikian lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru (PB) yang bukan orang yahudi.Walaupun ia bukan seorang yahudi, tetapi tampaknya ia mengetahui beberapa hal mengenai Perjanjian Lama (PL) Septuaginta dan menggunakannya secara lebih bijak daripada matius.Lukas tidak terlalu tertarik untuk mengutip nubuat-nubuat Perjanjian Lama, yang memang tidak ditujukan kepada yesus, sehingga kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat matius tidak terulangi kembali.
Lukas diketahui memiliki hubungan dekat dengan paulus, beberapa kali paulus menyebutkan mengenai seorang tabib yang kemungkinan besar adalah lukas sendiri (Kolose 4:14,Filemon 1:24,2 Timotius 4:11). Menurut plummer, lukas kemungkinan pernah mengenyam pendidikan kedokteran di sekolah terkenal di tarsus, dan bertemu dengan paulus di sana.Keterpelajaran lukas terlihat jelas dari karyanya yang disusun secara hati-hati, berbeda dengan markus yang kurang memperhatikan kaidah tata bahasa.Mungkin salah satu alasan lukas dalam menulis injil ini adalah karena kecewa terhadap kesuksesan injil markus atau injil lain, yang menurutnya kurang bernilai untuk dapat disebut sebagai karya sastra sejati. Sayangnya lukas tidak tidak pernah melihat kehidupan yesus secara langsung seperti halnya matius (atau markus yang mendapat materi langsung dari Petrus).Lalu sumber apakah yang lukas gunakan ?Kita tidak tahu secara pasti, tetapi ia tentu akan menggunakan sumber-sumber yang beragam, entah apakah injil matius atau markus termasuk di dalamnya. Lukas tidak mendapat inspirasi atau bimbingan dari roh kudus karena dalam prolognya dia menulis sebagai berikut :
“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”(Lukas 1:1-4)
Dari pembukaan itu saja sudah dapat kita simpulkan bahwa lukas telah mengetahui perihal peredaran injil-Injil mengenai yesus pada jaman itu, dan kemudian ia berinisiatif untuk menyusun suatu injil tandingan yang lebih sistematis dan lebih bermutu.Lukas mempersembahkan injil ini (luk 1 : 1) dan juga kisah para rasul (kis 1:1) kepada teofilus,meskipun kita tidak mengetahui siapakah teofilus itu sebenarnya.Nama tersebut memang pernah muncul dalam surat-surat eusebius,tetapi theofilus tersebut adalah seseorang yang hidup pada sekitar pertengahan abad kedua.Bila memang Teofilus inilah yang dimaksud lukas, maka tentunya waktu penulisan Injil ini adalah sekitar awal atau pertengahan abad kedua. Tetapi kasus ini tidak pernah dipermasalahkan mengingat kemungkinan adanya teofilus lain yang hidup pada masa injil lukas  ditulis (sekitar tahun 75-85 M).Tetapi siapapun teofilus ini, pastilah ia seseorang yang sangat istimewa sampai-sampai lukas mau bersusah payah menyusunkan injil kepadanya.Pada tafsiran alkitab wycliffe,ternyata kalimat “Yang mulia” pada luk 1:1 memberikan penafsiran bahwa penyebutan itu adalah sebuah sebutan yang di tempat lain dipergunakan oleh lukas hanya untuk pejabat atau bangsawan saja (kis 23:26; 24:3; 26:25).Sebenarnya,melalui gaya penulisannya sudah dapat dipastikan bahwa lukas tidak pernah bermaksud  menulis suatu kitab suci untuk suatu umat, khususnya umat kristen.
Ayat 1 mengatakan, bahwa ada BANYAK kitab-kitab lain yang berasal dari orang-orang yang berusaha untuk membukukannya.Orang kristen, tidak memungkiri adanya kitab-kitab lain yang ditemukan yang juga memuat nama yesus.Melalui  prolog dalam injilnya saja,kita dapat memperkirakan kapan lukas menulis Injil ini, yaitu pada saat dimana “para saksi mata dan pelayan firman”, atau pengikut yesus sukar untuk ditemukan.
Ayat 2 mengatakan, bahwa berita-berita itu disampaikan kepada kita secara tertulis dan lisan dari saksi mata dan pelayan Tuhan. Jadi, di sini terjadi pembicaraan dan ajaran-ajaran yang turun temurun dari saksi mata Yesus, kepada orang lain, orang tua kepada anak-anaknya yang akhirnya diambil kesimpulan kisah yang sebagai tradisi yang turun temurun dari nenek moyang.
Ayat 3 mengatakan,perhatikan kata “menyelidiki” = παρακολουθέω,verb (kata kerja) .Parakoloutheō, yang artinya mengikuti dari awal, mengikuti kemanapun dia pergi (mengikuti jejak perjalanannya) untuk mendapatkan suatu pemahaman, menginvestigasi.Lukas ini seperti detektif. Dia interview para saksi mata, murid-murid yesus,yang semuanya dia tulis dalam sebuah buku,kemudian ditulis secara kronologis, dari awal sampai akhir (sampai yesus naik kesurga).
Ayat 4 mengatakan supaya kita tahu bahwa segala sesuatu yang diajarkan (oleh para saksi dan pelayan Tuhan yang melewati proses turun temurun) itu sungguh benar kisahnya.Kelihatan sekali,bahwa ketika dia sudah mengumpulkan bahan tulisannya dari berbagai sumber,maka dia menyimpulkan sendiri bahwa apa yang dia dapat dari orang banyak adalah benar.

Mengenai tempat penulisan tampaknya para sarjana menemukan kesepakatan. Lokasi yang paling memungknkan adalah Roma atau sekitarnya, mengingat Lukas menulis Injil ini dengan bahasa Yunani. Sedangkan dalam naskah Anti-Marcion disebutkan, Lukas menulis Injilnya di daerah Achaia.
Kita tidak mengetahui barometer apa yang digunakan oleh lukas dalam melakukan penyelidikannya itu sehingga apa yang dia dapatkan adalah benar apa adanya.Sebab dia sendiri bukanlah sebagai saksi mata atas apa yang terjadi pada yesus dan juga bukan seorang pendengar langsung atas apa yang diucapkan oleh yesus.Karena itulah,apa yang disampaikan oleh lukas mengenai kisah bahwa yesus terangkat ke surga menjadi polemik (luk 24 : 51).Sebab pada berbagai versi alkitab,kalimat “yesus terangkat kesurga” ternyata tidak ada.
Adapun buktinya bahwa kalimat “yesus terangkat kesurga” itu tidak ada,anda bisa lihat pada alkitab versi Contemporary English Version (CEV),Good News Translation (GNT),Bahasa Indonesia Sehari-hari.
Bukti tidak adanya kalimat “yesus terangkat kesurga” menandakan bahwa lukas adalah seorang penyelidik kebenaran yang ceroboh.Ceroboh dikarenakan membuat aturan/barometer yang asal-asalan dalam melakukan penyelidikannya itu.Maka dari itu,apa yang sudah disampaikan diatas membuktikanbahwa yesus memang tidak terangkat kesurga !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN