إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Kamis

islam



Hikmah Kenaikan Isa Al Masih a.s. dalam Ideologi Islam

Allah selalu menganjurkan kepada manusia agar menjadikan peristiwa apapun yang terjadi di masa lampau sebagai pelajaran (‘ibrah) untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, bukan sesuatu yang naïf apabila kita sebagai seorang muslim juga mampu mengambil pelajaran dari peristiwa yang oleh orang Kristen disebut dengan kenaikan Isa al-Masih atau Yesus Kristus. Terlepas dari persepsi pro dan kontra di antara umat Islam mengenai peringatan tersebut. Satu hal yang patut menjadi catatan kita, peringatan kenaikan Isa al-Masih bukan pada peringatan ceremonial-nya, akan tetapi lebih kepada implikasi yang lebih luas terhadap konsep yang tercipta dan muncul akibat adanya peringatan tersebut, terutama pengaruhnya terhadap ideologi dalam Islam.
Sebuah Ideologi dari Kenaikan Isa Al Masih
Masuknya ide kenaikan Yesus secara fisik ke langit meresap masuk ke dunia Islam secara bertahap. Yakni sejak sekitar tiga ratus tahun setelah masa Rasulullah saw. Yang perlu diperhatikan ialah mengapa hal itu bisa terjadi. Rasulullah saw telah menubuatkan bahwa di masa mendatang, Nabi Isa akan ‘turun’, namun beliau tidak menyebutkan dari mana turunnya. Beliau tidak pernah menyatakan bahwa ‘turunnya’ ini adalah dari langit, tetapi memang dikatakan bahwa Yesus akan ‘turun.’ Kitab Alqur’an sendiri menyatakan bahwa Rasulullah saw ‘diturunkan.’ Rasulullah adalah satu-satunya nabi yang dalam Alqur’an dinyatakan sebagai ‘diturunkan.’
Karena itu bisa dimengerti bahwa Rasulullah saw mengacu pada istilah Alqur’an tersebut tentang akan ‘turunnya’ sosok Nabi Isa di kemudian hari. Demikian juga makna pernyataan beliau yang menyatakan bahwa tidak ada nabi lain pada saat turunnya Isa al-Masih. Yang menjadi kontroversi adalah istilah ‘Isa al-Masih’, yang dianggap sebagai nama pribadi lalu ditafsirkan sebagai sosok historis Yesus yang hidup beberapa abad sebelumnya. Secara gradual, para cendekiawan kemudian meyakini bahwa jika Isa al-Masih disebut sebagai satu nama, maka pastilah sosok itu adalah yang turun di Nazareth di antara umat Musa, yaitu Nabi Isa a.s. Akibatnya ide ini menjadi berakar kuat pada keyakinan segolongan umat muslim dan menjadi bagian dari akidah mereka. Selanjutnya untuk mendukung pandangan tentang akan ‘turunnya’ Nabi Isa, mereka lalu menyatakan bahwa sudah sewajarnya kalau Yesus juga naik ke langit secara fisikal (jasmani).
Argumentasi mereka didasarkan pada pandangan bahwa sesuatu tidak akan turun kalau sebelumnya tidak naik dulu. Mereka lalu meyakini bahwa kenaikan Isa a.s. ke langit adalah secara fisik dan mereka melupakan Alqur’an yang tidak pernah menyebutkan bahwa Nabi Isa a.s. dinaikkan ke langit dengan tubuh jasmaninya. Satu-satunya referensi yang bisa ditemukan dalam Alqur’an yang mirip dengan keadaan itu ialah ayat: ‘Kebalikannya, Allah telah mengangkat ia kepada-Nya. . .’ (QS. An-Nisa [4]: 159). Dengan kata lain, Tuhan telah melakukan rafa’a (mengangkat) Isa a.s. kepada-Nya.
Ayat di atas tidak mendukung pandangan cendekiawan Muslim yang menyakini kenaikan Nabi Isa a.s. secara fisikal, karena hal itu hanya akan menimbulkan pertanyaan: sedang berada dimana Tuhan ketika mengangkat Nabi Isa kepada-Nya? Apakah Tuhan bukannya eksis ketika Yesus juga eksis? Bukankah Tuhan menempati seluruh alam semesta? Apakah Tuhan berada di atas, di bawah, di kiri atau di kanan Nabi Isa saat itu? Adalah suatu kenyataan bahwa tidak ada jasad yang bisa bergerak atau pindah ke arah Tuhan secara fisikal karena Tuhan bukanlah wujud fisikal, mengingat benda fisik hanya bergerak ke benda fisik lainnya.
Hal tersebut merupakan hukum yang bersifat tetap dan berlaku sekarang maupun di masa lalu. Sebagai manusia yang juga berpendidikan, tentunya juga bisa melakukan eksperimen apakah mungkin melakukan pergeseran suatu jasad jasmani ke arah wujud ruhani. Suatu benda hanya bisa bergerak ke arah benda lainnya. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan dari penafsiran ayat di atas oleh para cendekiawan Muslim tentang Tuhan mengangkat Yesus kepada-Nya secara fisikal, bisa menjadi indikasi bahwa Tuhan sedang tidak berada di tempat di mana Yesus berada pada saat sebelum kenaikannya, bahwa Tuhan sedang berada di suatu tempat di langit.
Konklusi inilah yang bisa ditarik dari argumentasi mereka tentang pengangkatan Nabi Isa kepada-Nya dimana Dia akan membawanya terus sampai ke perbatasan terjauh dari alam semesta, padahal menurut para ulama tersebut Nabi Isa ditinggalkan di langit tengah, seolah-olah Tuhan hanya mengisi ruang itu saja. Mereka ingin membuktikan sesuatu yang hasil akhirnya sudah diyakini sebelumnya di muka.
Menurut Alqur’an, arti kata ‘nuzul’ atau ‘turun’ tidak harus menggambarkan laku turun secara fisik dan kata ‘rafa’a’ juga tidak menggambarkan kenaikan secara jasmaniah. Kedua kata ini telah menimbulkan kerancuan dalam argumentasi ini. Keduanya berasal dari bahasa Arab dan karena itu sepatutnya cara penggunaannya berpedoman pada leksikon bahasa Arab. Kata ‘rafa’a’ atau kenaikan kepada Tuhan bila digunakan dalam Alqur’an, tidaklah melukiskan suatu laku kenaikan jasmaniah ke arah Tuhan. Rasulullah saw juga tidak pernah menggunakannya untuk mengartikan kenaikan secara jasmaniah. Rafa’a yang paling akbar adalah yang telah dilakukan oleh Rasulullahsaw sendiri.
Kenaikan Isa Al Masih; Sebuah Pelajaran
Sebagaimana yang telah tertulis di depan bahwa segala sesuatu bisa dijadikan bahan untuk menuju kehidupan yang lebih baik, sekalipun kita harus mengambilnya dari orang atau kelompok yang tidak segolongan dengan kita. Dengan catatan bahwa hal tersebut memang layak dan pantas untuk kita amalkan dalam konteks agama Islam, dan memang seharusnya itu yang harus dilakukan.
Kisah kenaikan Isa al-Masih tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebenarnya hubungan vertikal kepada Tuhan bisa dilakukan oleh semua orang, dalam pengertian yang paling sederhana. Hubungan tersebut tidak hanya dimonopoli oleh para rasul, Nabi dan para wali.
Bukan hanya nabi Isa a.s. yang pernah melakukan perjalanan spiritual yang kemudian menghasilkan suatu progress atau kemajuan dalam membentuk pribadi yang lebih mantap, nabi Muhammad saw pun telah melakukannya dalam peristiwa Isra’ dan mi’raj yang akhirnya membawa risalah perintah salat lima waktu. Kedua perjalanan spiritual dari utusan Allah tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa dalam melakukan perjalanan spiritual, pada dasarnya terdapat berbagai macam hal yang bisa diambil sebagai sebuah kebaikan.
Kita sadar bahwa kita memang tidak bisa mempraktikkan perjalanan spiritual seperti layaknya Nabi dan Rasul Allah saw terdahulu. Tetapi memang Allah sebagai Tuhan yang maha adil, telah memberikan sarana kepada kita untuk bisa mempraktikkan esensi dari perjalan spiritual tersebut, yaitu dengan adanya perintah shalat. Secara tidak langsung perintah tersebut menjadi satu-satunya sarana bagi kita untuk bisa berinteraksi langsung dengan Allah SWT. Hal tersebut bisa didapat dan dilakukan bagi orang-orang yang mau berfikir dan merenung.
Lebih jauh dari itu, bukan hanya dapat merasakan perjalanan spiritual, tetapi memang perintah Allah tersebut menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia sampai-sampai selalu menyediakan sarana untuk manusia agar bisa menuju satu kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN