إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Selasa

kristen


KISAH ORG KRISTEN


Alumnus Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada, sedang dalam masa romusha dengan orang Jepang

Natal tahun ini merupakan natal yang sangat khusus bagi saya. Hanya sayangnya, kekhususan perayaan natal tahun ini bukan merupakan hal yang positif bagi saya. Seumur hidup saya, baru sekali ini saya merayakan Natal tanpa mengikuti empat kali misa adven alias saya merayakan Natal tanpa persiapan batin sama sekali. Tahun ini pula, saya memutuskan untuk absen dari segala macam tetek bengek perayaan Natal, mulai dari parkir hingga petugas altar. Tahun ini, untuk pertama kalinya setelah 12 tahun saya akan merayakan Natal sebagai umat biasa.
Entah kenapa belakangan ini saya merasa semakin jauh dari ritus keberagamaan. Satu bulan tidak merayakan ekaristi seolah bukan hal yang aneh bagi saya. Mungkin apa yang saya alami ini akan terasa sangat tidak lazim tiga atau empat tahun lalu, ketika saya begitu aktifnya menjadi pengurus Gereja. Namun kini, janganpun kegiatan gereja, perayaan Ekaristi pun semakin jarang mengisi rutinitas saya dalam satu minggu. Sejujurnya kerinduan untuk merasa dekat dengan Tuhan itu selalu ada dalam batin saya. Hanya saja, kesibukan di luar sana membuat kerinduan itu secara perlahan terkikis, meski tidak sampai hilang sirna begitu saja.
Tidak ada natal yang terlalu istimewa tahun ini bagi saya. Isu kiamat yang akhirnya ditunda tidak semakin membuat saya menyambut perayaan Natal ini dengan hati yang lebih gembira. Natal tahun ini terasa begitu kering bagi diri saya. Isu fatwa MUI yang melarang umat Muslim mengucapkan Natal beserta kontroversi yang mengikutinya tidak terlalu menarik perhatian saya pula. Bagi saya, fatwa MUI itu harus dihormati. Soal toleransi dan kerukunan antar umat beragama itu lain soal. Ketika saya mengatakan bahwa saya punya rasa toleransi kepada umat yang memeluk keyakinan lain, berarti saya juga harus memiliki rasa toleransi terhadap umat yang tidak setuju dengan keyakinan saya sekalipun.
Saya merasa yakin bahwa kekeringan rohani seperti yang sedang saya alami ini pasti juga pernah sekali waktu dirasakan oleh orang lain. Kesibukan duniawi yang begitu memikat, ditambah rasa lelah berkarya di dalam gereja (yang umumnya dialami oleh para aktivis gereja) berpotensi membuat orang semakin menjauhi ritual-ritual gerejani, meskipun tidak serta merta menihilkan keimanannya. Momen seperti perayaan Natal inilah yang kemudian menjadi waktu yang tepat untuk mundur sejenak. Natal tidak lantas dirayakan dengan pesta pora dan makan makanan yang enak, apalagi minum minuman keras usai perayaan Ekaristi Malam Natal usai. Natal adalah momen untuk introspeksi. Kristus datang membawa damai. Sudahkah damai itu kita rasakan? Apakah jangan-jangan damai itu selama ini tidak kita rasakan karena hati kita sudah mati rasa?
Momen Natal adalah momen yang tepat bagi kita untuk menguji slogan-slogan kita. Jika selama ini kita berteriak lantang “demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar”, sudahkah kemuliaan Tuhan kita dahulukan dalam setiap karya kita. Atau jangan-jangan nama Tuhan hanya dijadikan tameng ketika gagal dengan berucap “mungkin kehendak Tuhan lain” sedangkan kemuliaanNya ditenggelamkan ketika kita mencecap keberhasilan dengan berkata “ini semua karyaku”? Jika kita selama ini berkata “berkarya bagi sesama” sudahkah karya itu benar-benar tulus ditujukan kepada sesama? Atau jangan-jangan berkarya bagi sesama itu sesungguhnya hanya slogan pemanis untuk membungkus ambisi diri yang bersembunyi di balik kata “karya bagi sesama”? Jika kita selama ini berkata “pemimpin adalah pelayan” sudah pernahkan anda bertanya siapa yang dilayani? Jangan-jangan benar kita sebagai pemimpin menjalankan prinsip “pelayan” namun yang kita layani adalah orang-orang besar yang sanggup menopang jabatan kita, sementara kaki kita menginjak orang-orang yang tidak punya arti dalam diri kita? Jika kita setiap hari berdoa Bapa Kami dan berkata “ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami” sudahkah kita mengampuni yang bersalah kepada diri kita? Atau jangan-jangan pengampunan itu kita berikan dengan syarat dan tetek bengek lainnya?
Ada baiknya dalam perayaan Natal ini kita undur diri sejenak. Lupakanlah pesta pora dan mabuk-mabukan hingga hari berganti pagi. Dulu, 2000 tahun yang lalu, ketika Yesus lahir ke dunia, yang menyambutnya bukanlah pesta pora. Yang menyambut kedatangannya adalah keadaan yang apa adanya, jauh dari kesan berlebihan, dan bahkan jauh dari kesan layak untuk menyambut kehadiran seorang Mesiah. Jika diibaratkan, hatiku saat ini jauh dari kata layak untuk menyambut Natal. Hatiku ini ibarat kandang domba yang dipenuhi gumpalan tai dan berbau tidak sedap.
Ah, semoga Yesus berkenan mampir ke hatiku tahun ini, dan berkata Pax Christi. Natal ini adalah natal bagi semua.
Selamat merayakan Natal bagi yang merayakan
Selamat Tahun Baru bagi yang seminggu lagi akan merayakan pergantian tahun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN