إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)


Minggu

seputar kristen


Pelayanan Gereja

Artikel-artikel tentang dunia pelayanan dan gereja

100 Th GPM Bethel Ambon

Disensor Jepang sampai Kerusuhan Ambon
Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi dan melayani. Berdasarkan bukti- bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang. Demikian tulis Izaac Tulalessy untuk Sinar Harapan.

Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 10-22 terungkap bahwa suatu tempat di mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga". Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga".
Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala. Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.
Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16.
Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon. Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon. Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.
Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut "Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937". Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus merupakan pihak pelaksana program tersebut.
Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan. Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.
Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang. Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan. Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.
Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan, bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal 22-24 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur akibat dibom sekutu. Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.
Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950. Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.
Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk mencari bentuk pelayanan baru. Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya pada tanggal 31 Oktober 1955.
Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran injil. Pelopor kegiatan ialah ibu- ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan Maluku pada tanggal 31 Desember 1956. Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi Jemaat GPM Bethel.
Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru. Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963 sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung, serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri dari 30-40 keluarga. "Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat sebanyak 6.925 jiwa.
Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari 1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke tempat lain," ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh kepada SH di Ambon.
Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM). "Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih menonjol," jelasnya.
Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.
Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan Remaja.
Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut.
Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam maupun di luar jemaat.
Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari ol594Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus posko-posko bantuan logistik bagi jemaat- jemaat yang membutuhkan bantuan darurat karena ditimpa kerusuhan.
Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan.
Sumber: Gloria Cyber Ministries

55 Tahun Gerakan Oikoumene PGI

Penulis : Weinata Sairin
Pada tanggal 25 Mei 2005 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tepat berusia 49 tahun. Madah syukur layak dikidungkan bagi Allah oleh karena anugerah-Nya, PGI sebagai lembaga oikoumene di aras nasional masih tetap eksis dan mampu mengukir karya di tengah kekinian sejarah.

Berbicara tentang PGI, tak bisa tidak harus berbicara juga tentang istilah oikoumene. Banyak orang amat membutuhkan informasi tentang kandungan makna istilah oikoumene, sebab istilah itu sudah terlanjur digunakan secara tidak pas oleh banyak lembaga, dan penamaan oikoumene itu sekadar untuk menunjukkan bahwa lembaga tersebut terdiri dari berbagai denominasi gereja.
Istilah oikoumene (dari kata Yunani yang berarti "dunia yang didiami") dengan gambar perahu membawa salib, berlayar di tengah lautan, telah menjadi "simbol resmi" PGI, sejak organisasi itu didirikan dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta.
Menurut Dr Abineno, seorang teolog Indonesia yang bertahun-tahun memimpin DGI, istilah oikoumene itu sendiri telah dipakai oleh Herodotus sejak abad kelima sebelum Masehi dan setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang, pengertiannya mengalami banyak perkembangan. Dalam kajian Abineno, istilah oikoumene pernah diberi arti kebudayaan, kerajaan, bahkan juga gereja.
Menurut tradisi Yunani, oikoumene identik dengan dunia kebudayaan , sebab itu mereka yang berada di luar oikoumene adalah orang-orang yang tidak berbudaya. Sementara itu dalam Alkitab Perjanjian Baru istilah oikoumene cenderung memiliki pengertian kerajaan, jelasnya kerajaan Romawi. Oikoumene dalam arti gereja mula-mula dipakai oleh Origines (185-254 SM) yang kemudian diteruskan oleh pimpinan- pimpinan gereja yang lain, sehingga istilah itu menjadi semakin dikenal di lingkungan gereja.
Istilah oikoumene kemudian lazim dipakai untuk suatu pertemuan/konsili yang dilakukan oleh gereja-gereja, termasuk di dalamnya gereja Katolik. Dalam hubungan dengan pengertian oikoumene sebagai gerakan untuk mempersatukan seluruh gereja yang ada di dunia, peranan Uskup Agung Soderblom dari Upsala, amat penting. Berkat pengaruhnyalah gerakan oikoumene merambah ke setiap gereja lokal sehingga menjadi sebuah gerakan dari seluruh warga gereja.
Tidak Hanya Gerakan Elit
Ketika Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan, isu persatuan dan kesatuan baik dalam konteks gereja maupun nasional amat menonjol. Gereja-gereja saat itu hidup terserak-serak di berbagai wilayah Nusantara, dalam lingkungan denominasi sendiri, dan sebab itu hampir tidak pernah mampu menampilkan peran yang memadai di tengah kecamuk dunia. Sementara itu kerinduan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa begitu menggebu-gebu, justru karena kemajemukan masyarakat Indonesia dengan keluasan wilayahnya amat disadari oleh pimpinan nasional kala itu.
Berangkat dari lingkungan strategis seperti itu, maka rumusan tujuan DGI ketika didirikan adalah "Pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia" dan itulah aktualisasi terminologi oikoumene, yang hingga kini menjadi simbol PGI. Rumusan tujuan seperti itu tidak pernah mengalami perubahan substansial hingga saat ini.
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia kini beranggota 81 Sinode/Pusat gereja dan menghimpun 85% umat Protestan di Indonesia. Dalam usianya menjelang setengah abad, PGI tetap menggunakan lambang perahu yang membawa salib, melayari lautan, ditambah dengan istilah oikoumene melingkari salib itu. Itu menunjuk pada komitmen bahwa ia adalah organisasi gerejawi di aras nasional yang terus-menerus mengupayakan terwujudnya persatuan, kesatuan dan keesaan di kalangan umat Kristen di Indonesia.
Dalam kapasitas seperti itu, maka PGI harus berperan menjadi lokomotif gerakan oikoumene, menjadi pengemban aspirasi umat Kristen Indonesia dan yang sigap melakukan sesuatu jika gerbong-gerbong itu ternyata tidak lagi berjalan pada rel yang telah disepakati. PGI dan umat Kristen Indonesia tidak akan bisa memberi kontribusi apa-apa dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa jika dirinya sendiri rapuh, pecah dan tercerai-berai.
Gerakan oikoumene sebagai gerakan yang berupaya mempersatukan seluruh gereja, harus menjadi gerakan dari setiap umat Kristen, tidak hanya gerakan dari segelintir elite kepemimpinan gereja. Gerakan oikoumene harus benar-benar menjadi real dan operasional tidak boleh berhenti pada slogan, motto, serta rumusan tanpa jiwa. Gerakan oikoumene harus menjadi roh, menjadi darah daging dari setiap aktivitas warga jemaat. Inilah agenda penting yang perlu dilakukan oleh PGI.
Jangan Jadi Alat Parpol
PGI juga tidak boleh terbelenggu oleh sikap introvert dan eksklusif sehingga menutup mata terhadap lingkungan eksternalnya. Berdasar visi teologisnya yang kukuh, PGI bersama gereja-gereja harus dengan sigap dan tanggap mengungkapkan suara kenabiannya di tengah-tengah kehidupan umat sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Inilah agenda eksternal PGI yang perlu dijalankan di masa-masa mendatang dengan arif dan tanpa takut.
Di zaman seperti ini ini PGI perlu membarui diri dengan mengembangkan organisasi yang makin solid, kolegialitas yang andal, manajemen yang transparan dan modern, penyiapan SDM yang berkualitas yang mampu menjawab perubahan zaman.
Di tengah kondisi politik yang menghadirkan multipartai, PGI juga harus benar-benar bertindak cermat sehingga tidak mengasosiasikan institusinya dan atau pejabat terasnya dengan salah satu kekuatan sosial politik tertentu. Sebab, jika hal itu terjadi maka PGI/gereja tidak bisa lagi bersifat objektif kepada umat dan tidak akan dapat lagi mengembangkan sikap inklusif. Gereja harus benar-benar netral, tidak menjadi alat parpol dan kekuasaan.
Di masa datang, PGI juga harus punya kesungguhan untuk memberdayakan PGI Wilayah - sesuai dengan tema "visi sentral-prakarsa desentral" sehingga PGI tidak menjadi kekuatan yang sentralistik yang bisa membuahkan sikap arogan, otoriter, paternalistik yang bertentangan dengan pola pelayanan Kristus yang rendah hati, bersikap hamba; bahkan PGI harus benar-benar menjadi pelayan gereja-gereja, bukan atasan gereja. Sikap aristokrat, arogan dan mengutamakan kekuasaan tidak boleh menjadi gaya kepemimpinan para pejabat PGI.
Oikoumene adalah sebuah gerakan; ketika para pengguna simbol itu tidak lagi mempunyai sikap dinamik, kreatif, dan proaktif dalam menyelesaikan serta mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang digumuli umat manusia di tengah kekinian sejarah, maka oikoumene adalah sebuah contradictio in terminis.
Sumber: Sinar Harapan Sabtu

Arti dan Karakteristik Gereja Sejati

Oleh: Samuel T. Gunawan, M.Th *

PROLOG

Jhon MacArthur menulis, “Ketika suatu zaman hanya menilai gereja berdasarkan penampilan luarnya, hal yang sangat penting diketahui adalah bagaimana menentukan sebuah gereja yang benar-benar sehat. Kriteria Alkitabiah untuk melihat kesehatan rohani dari sebuah gereja bukanlah apa yang tampak diluar dihadapan dunia, tapi apa yang tampak di dalam di hadapan Allah”.

Buramnya gambar gereja sejati saat ini disebabkan berbagai faktor. Pertama, ketidakjelasan terhadap ekklesiologikal yaitu pengajaran tentang gereja yang benar menurut ajaran Kitab Suci. Kedua, munculnya berbagai teori para “pakar” tentang pertumbuhan gereja dengan berbagai “istilah” bukannya menambah jelas pokok persoalan seputar ekklesiologikal ini tetapi justru menyebabkan kebingungan saat teori tersebut diadopsi dan diterapkan pada gereja-gereja lokal. Ketiga, banyaknya denominasi gereja yang masing-masing mengklaim sebagai yang paling benar dalam menafsirkan Kitab Suci dan merasa sebagai yang superior menjadikan masalah ini semakin rumit.

Lalu, bagaimana kita bisa membedakan bahwa suatu gereja lokal (denominasi) termasuk bagian dari gereja sejati?

PEMAHAMAN YANG KELIRU TENTANG GEREJA

Ada berbagai macam pengertian dan pemahaman yang keliru tentang gereja. Karena itu penulis berpendapat bahwa sebelum mendefinisikan gereja perlu untuk mengetahui apa itu yang bukan gereja.

Pertama, Gereja bukanlah kelanjutan dari Yudaisme. Gereja jelas merupakan entitas yang berbeda dari Israel. Ketika Tuhan kita Yesus Kristus mengatakan ”Aku akan mendirikan jemaatKu” jelas tertulis dalam bentuk kata kerja yang akan datang, yang menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang belum dikerjakan Kristus sampai saat itu (Matius 16:18). Sesungguhnya Gereja baru mulai sebagai realita yang berfungsi ketika Roh Kudus dicurahkan pada Hari Pentakosta. Gereja bukanlah kesinambungan dari Israel, walaupun ada terdapat kesinambungan antara mereka yang ditebus dari segala zaman yang berhubungan dengan surga sebagai tujuan Mereka. Gereja belum ada dalam zaman Perjajian Lama, namun baru ditetapkan pada hari Pentakosta.

Kedua, Gereja bukanlah kerajaan Allah. Walaupun Gereja merupakan bagian dari Kerajaan Allah, tetapi Gereja bukanlah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kerajaan yang bersifat universal dan kekal; dari awal sampai akhir, semuanya termasuk di dalamnya atau inklusif, kemarin, sekarang dan selama-lamanya. Kerajaan Allah meliputi segala sesuatu yang adalah milik Allah. Kitab Suci menegaskan bahwa Kristus adalah Kepala Gereja bukan Raja Gereja karena Gereja tidak pernah direncanakan menjadi sebuah kerajaan secara geografis maupun politis.

Ketiga, Gereja bukanlah denominasi ataupun organisasi, bukan juga gedung atau bangunan fisiknya. Menurut Alkitab, gereja adalah Tubuh Kristus yaitu kumpulan orang-orang yang telah menempatkan iman mereka pada Yesus Kristus untuk keselamatan (Yohanes 3:16; 1 Korintus 12:13).

ARTI DARI GEREJA SEJATI    

Pertama, kata Gereja dalam bahasa Inggris Church yang artinya That Which Belongs to the Lord. Gereja disebut dengan istilah Yunani Ekklesia berasal dari dua kata, yaitu "Ek" yang berarti keluar dan "Kaleo" yang berarti memanggil. Ekklesia berarti orang-orang yang dipanggil Allah dari dunia, untuk kemudian menjadi umat-Nya. Gereja ialah kumpulan orang-orang yang percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang ditebus, dipanggil keluar dari dunia dan menjadi umat Tuhan. Kata ini dipakai untuk menyatakan secara khusus identitas orang yang percaya.

Kedua, Gereja Sejati dibangun di atas Kristus sebagai Pondasi atau Batu Penjurunya. Yesus Kristus Tuhan kita adalah pendiri Gereja. Ia berkata ”Aku akan mendirikan jemaatKu” jelas tertulis dalam bentuk kata kerja yang akan datang yang menunjukkan pada sesuatu yang akan digenapi di kemudian hari. Gereja adalah milikNya (Mat 16:18); Dia adalah dasar Gereja (1 Kor 3:11); Dia adalah Batu Penjuru Gereja (KPR 4:11; Ef 2:20); Dia adalah Kepala dari Gereja (Ef 1:20-23); Ia memberikan karunia-karunia kepada anggota-anggota tubuhNya (Ef 4:8) dan mengirim Roh Kudus yang menghidupkan Gereja sehingga dapat sungguh-sungguh berfungsi (KPR 2:23).

Ketiga, Gereja itu unik dan paradoks. Unik karena disebut dengan metaforikal seperti, Bangunan Allah, Ladang Allah, Bait Allah, Pengantin Kristus, dan Tubuh Kristus. Paradoks karena memiliki dua sisi yang berbeda tetapi menyatu dan tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya walau dapat dibedakan. Di satu sisi gereja itu bersifat tidak kelihatan (Invisible Church) dan di lain sisi gereja itu nyata (Visible Church). Gereja yang tidak kelihatan disebut universal sedangkan gereja yang kelihatan disebut gereja lokal.

KARAKTERISTIK DARI GEREJA SEJATI

John Calvin menyebutkan dua tanda dari Gereja sejati, yaitu pemberitaan firman Tuhan dan pelaksanaan sakramen. Beberapa kredo Reformed kemudian menambahkan satu tanda lagi, yaitu disiplin gereja. Perbedaan ini tidak berarti bahwa Calvin mengabaikan disiplin, sebaliknya, Calvin sangat menekankan hal ini. Hanya, dia tidak menganggap point ini sebagai salah satu tanda sejati dari gereja. Penulis telah mengamati, setidaknya ada 7 karakteristik gereja sejati.

Pertama, Kristus sendirilah yang menjadi Kepala Gereja. Kristuslah yang memberi petunjuk dan perintah kepada gerejaNya. Gereja harus menanggapi perintah itu secara positif. Sebagai Kepala, Kristus memberikan perintah itu melalui Roh Kudus kepada tubuhNya, dan tubuh itu harus melakukan apa yang dikehendaki oleh Kepala. Jika hubungan tubuh terputus dari Kepala, maka tubuh akan terputus dari SUMBER kehidupan. (Ef 1:22-23).

Kedua, adanya hiraraki yang jelas di dalam gereja. Kitab suci mengajarkan bahwa Allah adalah Kepala dari semua, yang telah memberikan kepada AnakNya kedudukan sebagai pemimpin (headship) atas gereja (Ef 1:20-23). Saat ini Kristus bekerja di dalam gereja melalui pelayanan Roh Kudus (Yoh 14:18,26). Ia bekerja melalui para rasul (Ef 2:20) dan pemimpin gereja selanjutnya (Ef 4:11-12) untuk menjalankan kepemimpinan di dalam gereja dan memperlengkapi jemaat bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuhNya. Perjanjian Baru menyebutkan bahwa gereja memiliki dua pejabat gereja yang ditahbiskan yaitu Penatua dan Diakon (Flp 1:1).

Ketiga, Keimamatan dan pelayanan setiap orang percaya. Keunikan dari pekerjan Tuhan saat ini adalah bahwa Ia tidak membesarkan nama salah satu pemimpin tetapi Ia menggunakan seluruh Tubuh Kristus menjadi alatNya, dengan penuh kuasa Ia bekerja melalui seluruh Tubuh Kristus di seluruh dunia. Roh Kudus memberikan karunia-karunia tertentu (spesifik) kepada setiap orang percaya untuk melayani tubuh Kristus (1 Kor 12:4-11; Ef 4:11-13).

Keempat, Kitab Suci harus menjadi otoritas utama bagi iman dan praktik kehidupan Jemaat. Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Tit 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajarah sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Tit 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau (didaskalia). Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah.

Kelima, merupakan kumpulan orang yang telah mengalami pembaharuan (KPR 2:41-42). Gereja yang memiliki anggota jemaat dalam jumlah besar, tidak identik dengan gereja yang benar. Ini bisa terjadi jika jemaat yang dimaksud belum mengalami pertobatan atau lahir baru. Orang-orang yang telah lahir baru disebut murid Kristus. Kristus menginginkan semua bangsa menjadi muridNya atau mathetes, yaitu para pengikut Yesus atau orang-orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan.

Keenam, melaksanakan dua ordinansi. Kedua ordinansi (atau sakramen) tersebut adalah baptisan air dan perjamuan kudus. Walaupun kedua ordinansi ini tidak dimaksudkan untuk mendatangkan keselamatan atau anugerah tetapi kedua peraturan ini ditetapkan oleh Kristus agar dilaksanakan oleh gereja (Mat 28:19; 1 Kor 11:23-26).

Ketujuh, pelaksanaan amanat agung Kristus (Mat 28;18-20). Memperhatikan prioritas dari program-program dan berbagai aktivitas gereja lokal sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah gereja telah lupa atau bingung akan misinya sebagai orang-orang percaya. Gereja sibuk, tetapi sibuk mengerjakan apa? Berapa banyak program, pertemuan, dan aktivitas benar-benar menghasilkan jiwa-jiwa baru? Gereja sejati adalah gereja yang mengemban misi amanat Kristus.

EPILOG

Sebagaimana disebut di atas, bahwa buramnya gambar gereja sejati disebabkan berbagai faktor, yang utamanya adalah ketidakjelasan terhadap ekklesiologikal yaitu pengajaran tentang gereja yang benar menurut ajaran Kitab Suci. Isu ini sangat krusial karena dengan memahami doktrin gereja yang benar akan mengarahkan para pemimpin gereja dan jemaat kepada praktek yang benar pula, dengan demikian setidaknya sebagian permasalahan yang ada di sekitar gereja dapat dicegah dan disikapi dengan lebih bijak.

Akhirnya, penting diingat bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang yang tidak sempurna, yaitu orang-orang yang mengakui bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang telah diperbaharui (ditebus), ingin bertumbuh dan butuh kasih karunia Tuhan. Memahami arti dan karakteristik dari gereja yang sejati justru membawa setiap jemaat bisa hidup damai meski masing-masing memiliki perbedaan dan keragaman dalam berbagai denominasi saat ini.

* Penulis berpendirian Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT lainnya. Mendapatkan gelar S.E dari UNPAR; S.Th Christian Education, M.Th Christian Leadership (2007) dan M.Th Theology Systematic (2009) dari STT-ITC Trinity.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERIKAN TANGGAPAN